Menu

Mode Gelap
 

Sosial · 30 Okt 2021 03:43 WIT ·

Merindukan ‘Pesta Sambut Baru’ Ala Anak-Anak


 Ilustrasi (Net) Perbesar

Ilustrasi (Net)

Oleh: Sil Joni*

Bulan penerimaan ‘sakramen ekaristi atau komuni suci’ bagi anak-anak Katolik kelas empat atau lima Sekolah Dasar (SD), sudah tiba. Hampir satu bulan penuh, kita merayakan atau mengambil bagian dalam perayaan penerimaan sakramen itu. Setelah melewati tahap persiapan dan pembinaan khusus, akhirnya anak-anak itu dianggap layak untuk ‘mendapat sakramen tubuh dan darah Kristus’ itu.

Secara etimologis, sakramen berasal dari kata Bahasa Latin sacramentum yang berarti ‘menjadikan suci’. Gereja Katolik melihat sakramen sebagai ‘tanda lahiriah penyaluran rahmat Tuhan’. Itu berarti upacara sakramental dianggap sebagai ‘sarana menyalurkan rahmat Tuhan’, yang membuat hidup manusia menjadi suci. Boleh dibilang, dalam dan melalui sakramen itu, hidup manusia menjadi lebih sakral sebab ‘rahmat Tuhan’ mengalir dan melekat dalam tubuh kita.

Mungkin karena sakramen itu dilihat sebagai ‘tanda atau sarana’ penyaluran berkat, maka muncul kesadaran untuk mensyukuri sekaligus merayakan peristiwa itu secara lebih meriah. Dalam sakramen Ekaristi misalnya, kita bersyukur sebab anak-anak kita boleh mendapatkan rahmat Tuhan secara gratis melalui sakramen tersebut.

Tidak heran, kita mengorbankan segalanya untuk memaknai momentum ‘penerimaan rahmat’ itu. Rasanya, tidak cukup jika hanya mengikuti atau terlibat dalam perayaan liturgis dalam gereja. Kita coba memperluas ‘medan pengungkapan kegembiraan’, dengan menggelar pesta meriah. Pesta ‘Sambut Baru’ seolah menjadi tradisi baru yang ‘wajib’ dibuat oleh para orang tua saat ini.

Kalau kita memperhatikan dan menyimak secara serius setiap kemasan acara dalam beberapa ‘tenda pesta’ yang kita datangi, hampir pasti kita hanya menemukan ‘aneka ekspresi kegembiraan’ yang diperlihatkan oleh orang dewasa. Sang anak yang tidak lain ‘yubilaris’ atau orang yang dipestakan itu sendiri, ekspresinya biasa-biasa saja. Bahkan, kesan saya ada anak yang terlihat kesepian ‘di tengah hingar bingar bunyi musik dan nyanyian para orang dewasa itu.

Hampir tak ada ruang dan kesempatan untuk ‘berdialog’ dengan sang pestawan/pestawati. Kita juga tidak melihat teman-teman dari anak penerima Komuni Pertama datang ke tenda pesta untuk berbagi kebahagiaan. Mayoritas yang diundang adalah orang dewasa yang datang berjabat tangan dengan orang tua si anak dan berpartisipasi dalam acara yang memang cocok untuk ‘orang dewasa’ itu.

Pertanyaan kritisnya adalah untuk siapa dan untuk tujuan apa ‘pesta sambut baru’ itu dihelat? Jika tujuannya untuk mempertebal rasa bahagia pada anak, mengapa kita tidak pernah memberikan ruang kepada si anak dan teman-temannya untuk ‘berpesta’? Apakah desain acara menurut selera ‘orang dewasa’ itu, bisa menggugah anak untuk mereguk anggur kebahagiaan di tenda pesta?

Saya mulai mencurigai bahwa ‘pesta sambut baru’ yang kita gelar hari-hari ini, belum sungguh-sungguh memenuhi kerinduan anak untuk ‘berbahagia pada momen penerimaan sakramen Ekaristi’ itu. Keinginan dan kebutuhan anak relatif tidak terakomodasi dalam desain pesta ala orang dewasa.

Tetapi, opini ini tentu saja bersifat subyektif. Boleh jadi, dalam kenyataannya anak-anak penerima sakramen Ekaristi itu ‘sangat menikmati’ suguhan acara menurut selera orang dewasa, seperti membunyikan volume musik sekeras mungkin, mengonsumsi minuman beralkohol yang ditemani daging yang gurih, mendendangkan pelbagai jenis lagu dalam aneka gaya, dan sebagainya.

Tesis saya adalah pesta dihelat untuk mempertebal rasa sukacita anak. Untuk itu, berikanlah kepada anak apa yang menjadi hak anak. Pesta sambut baru semestinya menjadi ‘momen ideal’ bagi para orang tua untuk melayani dan menghormati hak anak dalam ‘berpesta’. Pesta yang digelar mesti menjadi ‘sarana’ untuk menyalurkan rasa gembira anak yang diartikulasikan bersama dengan teman permainannya.

Saya merindukan sebuah kemasan pesta yang benar-benar sesuai dengan level perkembangan psikologis anak. Para anak itulah yang berhak mengekspresikan kegembiraan dalam momen pesta sambut baru. Mereka menjadi subyek pesta. Orang dewasa diundang untuk ‘menyaksikan dan menikmati’ suguhan ekspresi kebahagiaan dari anak-anak itu.

“Biarkan anak-anak itu datang pada-Ku. Mereka adalah sahabat-Ku”, kata Tuhan Yesus ribuan tahun yang lalu. Untuk konteks pesta sambut baru, kalimat itu bisa diubah ‘biarkan anak-anak itu berpesta sebab mereka adalah sahabat dari anak-anak yang berpesta’. Orang dewasa mesti menciptakan ruang dan memfasilitasi pengartikulasian rasa bahagia anak-anak yang menerima rahmat Tuhan melalui upacara penerimaan sakramen Ekaristi.

Yang berpesta sebenarnya adalah ‘anak’, bukan orang tua. Tetapi, dalam praktiknya, hampir pasti pesta itu digelar seolah-olah untuk membahagiakan ‘orang tua’. Dominasi orang dewasa dalam mengekspresikan kebahagiaan memunculkan kesan bahwa ‘anak’ diperlakukan sebagai sarana semata. Anak diperalat untuk melayani kepentingan dan kebutuhan orang dewasa.

Oleh sebab itu, mungkin kisah yang berbau nostalgia masa lalu, boleh kita renungkan. Dulu, ada sebuah kebiasaan yang menurut saya bisa merepresentasikan ‘derajat keterlibatan anak’ dalam momen perayaan Sambut Baru. Seusai perayaan Ekaristi, anak-anak diajak untuk berkumpul di satu tempat. Mereka bernyanyi, tertawa, dan bercerita secara bersama-sama. Orang dewasa hanya sebagai penonton dan pendukung agar anak-anak itu tampil maksimal dalam mengungkapkan rasa gembira itu.

Dengan kebiasaan semacam itu, kita sungguh merasakan bahwa Sambut Baru itu memang perayaan khusus untuk anak-anak. Kita turut merasakan bahwa anak-anak sangat berbahagia dengan upacara penerimaan sakramen itu.

Sekali lagi, hai orang dewasa, tolong jangan rampas kebahagiaan anak-anak pada momen penerimaan Sakramen Ekaristi ini. Sebaliknya, mari mendorong anak-anak untuk mensyukuri dan merayakannya sesuai dengan gaya dan selera anak-anak. Anak juga ‘berhak bahagia’ pada momen pesta Sambut Baru. Selamat berpesta!

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 25 kali

Baca Lainnya

Tanjung Bendera, Asimetris Informasi dan Kuasa Esklusi

19 November 2021 - 04:51 WIT

“Itulah Ayahmu”

12 November 2021 - 06:08 WIT

Krisis Ekologi

4 November 2021 - 02:46 WIT

Produksi Rokok dan Himbauan Jangan Merokok

1 November 2021 - 06:33 WIT

Agar ‘Orang Boleng’ Tidak Jadi Penonton

25 Oktober 2021 - 23:18 WIT

Jurnalisme Kolaborasi

18 Oktober 2021 - 12:14 WIT

Trending di Sosial