Menu

Mode Gelap
 

Pendidikan · 25 Okt 2021 00:53 WIT ·

Gerakan Sekolah Menyenangkan


 Sil Joni. (Ilustrasi: FEC Media) Perbesar

Sil Joni. (Ilustrasi: FEC Media)

Oleh: Sil Joni*

Ketika ungkapan ‘sekolah menyenangkan’ menjadi sebuah gerakan (movement), maka boleh jadi, ada sebuah musuh bersama (common enemy) yang perlu diperangi dan ada kondisi ideal yang mesti termanifestasi. Memang sebetulnya sekolah adalah ‘lokus ideal’ untuk melaksanakan aktivitas ‘pemanusiaan manusia (muda)’. Rasanya ada semacam ‘paradoks’ ketika kawah candradimuka terlaksananya proyek humanisasi itu, dinilai ‘tidak menyenangkan’ bagi segenap anggotanya.

Imperasi etis agar warga sekolah ‘terlibat’ dalam gerakan menciptakan sekolah yang menyenangkan, patut diapresiasi dan didukung. Setidaknya, melalui upaya konsientisasi semacam itu, kita kembali ‘terjaga’ untuk tetap merawat fitrah sekolah sebagai ‘rumah yang menyenangkan’, baik bagi peserta didik maupun bagi tenaga pendidik dan kependidikan.

Harus diakui bahwa dalam praksisnya, sekolah tidak selalu menjadi ‘tempat yang menyenangkan bagi anak’. Banyak desain kebijakan dan tata kelola pendidikan di sekolah, relatif kurang mengakomodasi pemenuhan hak dasar anak. Ada semacam gap yang lebar antara apa yang diinginkan anak dan apa yang terjadi di sekolah.

Masalahnya adalah kita merancang dan melaksanakan kebijakan berdasarkan perspektif ‘orang dewasa’. Padahal, antara kebutuhan orang dewasa dengan kebutuhan anak, jelas berbeda. Menjadikan kebutuhan orang dewasa sebagai parameter dalam menelurkan sebuah kebijakan, merupakan sebuah kesalahan yang amat fatal.

Untuk itu, implementasi program ‘gerakan sekolah menyenangkan’, mesti berpijak pada ‘kebutuhan anak’. Saya sangat setuju ketika salah satu rekomendasi workshop tentang “Ekosistem Gerakan Sekolah Menyenangkan” di SMK Stella Maris hari ini, Jumat (22/10/2021) adalah perlu dilaksanakan sebuah survei terhadap aspirasi anak. Itu berarti sebelum sekolah mendeklarasikan dan melaksanakan program Sekolah Menyenangkan, maka sekolah mesti mengetahui kebutuhan konkret anak melalui mekanisme penelitian yang kredibel.

Alasannya adalah apa yang menurut ‘orang dewasa (baca: sekolah)’ masuk kategori menyenangkan, kadang tidak sesuai dengan kebutuhan anak. Akibatnya adalah program yang ditawarkan, relatif tidak menjawab kebutuhan konkret anak.

Dalam dan melalui ‘survei’ yang valid, setidaknya pihak lembaga bisa mengetahui, mengidentifikasi dan memetakan bentuk atau model kebijakan yang ‘pro kehidupan anak’. Dengan itu, anak tidak lagi menjadi ‘obyek’, tetapi sebagai subyek utama dalam menyuarakan pemenuhan hak-hak dasarnya.

Sekolah yang menyenangkan atau ramah anak, tidak hanya menyangkut ‘hilangnya sisi kekerasan’, tetapi sekolah benar-benar menjadi tempat yang nyaman bagi anak dalam mengeksplorasi dan mengaktualisasikan potensinya dalam pelbagai bidang. Itu berarti pihak sekolah mesti menyiapkan aneka fasilitas yang memungkinkan anak untuk mengimplementasikan aneka kemampuannya tersebut.

Para guru mesti tampil sebagai fasilitator dan sahabat untuk menstimulasi dan mengarahkan ‘pengasahan’ potensi anak secara optimal. Ada semacam ‘sensibilitas dan responsibilitas’ yang terarah ke proses pertumbuhan dan perkembangan anak secara holistik.

Tegasnya, Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) merupakan gerakan akar rumput yang mempromosikan dan membangun kesadaran guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemangku kebijakan pendidikan untuk membangun ekosistem sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup agar anak-anak menjadi pembelajar yang adaptif, mandiri, tangkas, dan cepat menghadapi perubahan dunia yang sangat cepat dan tak menentu.

Dalam GSM ini, bukan hanya guru yang menjadi pusat sorotan, tetapi juga ‘keterlibatan orang tua dan pemangku kebijakan pendidikan (pemerintah). Semua elemen mesti menjalankan peran secara proporsional agar GSM itu menjadi sebuah ‘gerakan bersama’.

Kecakapan dan kecerdasan yang terdapat pada seorang anak bukan buah dari faktor genetik atau hereditas semata, tetapi hasil dari proses interaksi dan formasi yang kreatif dalam sebuah lingkungan yang kondusif dan menyenangkan. Lingkungan (termasuk sekolah) yang menyenangkan merupakan conditio sine qua non, pembentukan mental dan karakter anak. Ketika anak dididik dalam atmosfer lingkungan yang menyenangkan, maka besar kemungkinan anak itu bergerak ke arah perkembangan yang menyenangkan pula.

Karena itu, sedapat mungkin satuan pendidikan dalam semua level, mesti memperhatikan secara serius penciptaan lingkungan sekolah yang menyenangkan ini. Pelbagai indikator ‘Sekolah Menyenangkan’ harus dipenuhi agar apa yang menjadi idealisme bersama soal impak dari Sekolah Menyenagkan’ itu, bisa terwujud secara optimal.

*Penulis adalah staf pengajar SMK Stella Maris Labuan Bajo.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 73 kali

Baca Lainnya

SMK Stella Maris Menuju Sekolah “Ramah Anak”

16 Oktober 2021 - 12:04 WIT

Berbicara dan Menulis

8 Oktober 2021 - 10:45 WIT

Bertelurlah di ‘Lapangan Luas’

4 Oktober 2021 - 12:31 WIT

REFLEKSI PGP; Peran dan Nilai Guru Penggerak

13 September 2021 - 11:50 WIT

Asesmen Nasional: Manggarai Barat Siap!

22 Juni 2021 - 12:24 WIT

Pungutan dan Sumbangan Biaya Pendidikan, Bolehkah?

10 Juni 2021 - 00:16 WIT

Trending di Pendidikan