Menu

Mode Gelap
 

Sosial · 25 Okt 2021 23:18 WIT ·

Agar ‘Orang Boleng’ Tidak Jadi Penonton


 Ilustrasi (Net) Perbesar

Ilustrasi (Net)

(Refleksi Kehadiran SMK di Boleng)

Oleh: Sil Joni*

Industri turisme di Manggarai Barat (Mabar) dalam beberapa tahun terakhir (sebelum pandemi Covid-19), mengalami lompatan kemajuan yang sangat signifikan. Kenyataan itu seakan membenarkan jargon yang sering dilontarkan para pemimpin politik lokal bahwa ‘pariwisata menjadi leading sector’ pembangunan di Mabar.

Fenomen ‘perkembangan aktivitas industri pariwisata’ yang membanggakan itu, telah diafirmasi oleh pemerintah Pusat (Pempus). Labuan Bajo dan sekitarnya telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Bahkan yang paling membanggakan adalah Labuan Bajo dipilih sebagai salah satu ‘destinasi super prioritas’ yang bertaraf super premium.

Penetapan Labuan Bajo sebagai ‘destinasi wisata super prioritas’ tentu berimplikasi pada besarnya perhatian Pempus dalam urusan penataan dan pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata di daerah ini. Intervensi Pempus dalam ‘menyulap’ wajah Labuan Bajo semakin intensif dalam beberapa tahun terakhir. Presiden Joko Widodo dalam kunjungan terakhir ke Labuan Bajo menegaskan bahwa Labuan Bajo ‘sudah berubah jauh dan sudah siap menyambut wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Seperti industri pada umumnya, kegiatan industri pariwisata tentu saja bakal menyerap dan membutuhkan ‘pasokan tenaga kerja’ yang tidak hanya energik, tetapi juga berkualitas. Pihak perusahaan tidak mau mengambil ‘risiko’ dengan merekrut pekerja yang ‘jauh dari standar’ dunia usaha dan industri. Orang muda yang punya kompetensi dan skill mumpuni dalam bidang kepariwisataan bakal tak kesulitan untuk menjadi ‘pemain aktif’ dalam lapangan industri pariwisata itu.

Karena itu, upaya membangun atau mendirikan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) kepariwisataan di Labuan Bajo dan wilayah sekitarnya, menjadi sebuah pilihan yang logis dan urgen. Dalam dan melalui SMK yang bermutu, proyek pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) lokal yang relevan dengan kebutuhan dunia industri, bisa termanifestasi.

Wilayah hamente Boleng yang sekarang masuk dalam Kecamatan Boleng bisa menjadi ‘kawasan satelit atau pendukung’ aktivitas kepariwisataan di Labuan Bajo. Letaknya yang sangat strategis, relatif dekat dengan ‘pusat wisata super premium’ menjadi modal untuk ‘berbicara banyak’ dalam hiruk-pikuk kegiatan kepariwisataan di daerah ini.

Mendirikan SMK yang bergerak dalam bidang pariwisata merupakan opsi yang rasional. Keputusan untuk ‘membuka jurusan’ Usaha Perjalanan Wisata (UPW) di SMK Boleng saat ini, tentu dilatari oleh analisis kebutuhan dan pembacaan tanda-tanda zaman yang akurat dan masuk akal. Dengan demikian, hadirnya SMK Pariwisata di Boleng bisa dilihat sebagai ‘respons positif’ akan kerinduan orang Boleng untuk ‘menyiapkan’ generasi cerdas yang bisa berkompetisi dalam merebut ‘peluang yang ditawarkan dalam pasar pariwisata super premium’ saat ini.

Bagaimana pun juga, SDM yang bagus merupakan faktor elementer untuk bisa ‘berkibar’ dalam dunia industri pariwisata itu. Kita mesti jujur mengakui bahwa kendati ‘antara Labuan Bajo dan Boleng’ itu sebetulnya berada dalam ‘satu hamparan’, tetapi tidak terlalu banyak ‘orang muda Boleng’ yang sukses merebut peluang bisnis pariwisata di Labuan Bajo.

Mayoritas kita, termasuk penulis, masih tampil sebagai ‘penonton yang setia’ dari pinggir lapangan. Memang, fenomen kegagalan ini, tidak hanya terjadi pada orang Boleng, tetapi hampir merata di seluruh wilayah di Mabar. Tetapi, catatan semacam ini, setidaknya menjadi ‘cambuk’ bagi kita untuk ‘coba memberdayakan kapital sosial dan intelektual yang kita punyai’, agar factum ‘ketersingkiran’ itu, tidak menjadi penyakit sosial yang sulit disembuhkan.

Sangat menarik bahwa selain jurusan UPW, SMK Boleng juga membuka ‘program studi pertanian’ dengan konsentrasi pada tanaman hortikultura. Secara etimologis, hortikultura berasal dari dua kata Bahasa Latin, hortus dan culture. Hortus berarti ‘kebun’ dan culture berarti ‘bercocok tanam’. Dengan demikian, hortikultura berarti tanaman yang dibudidayakan di kebun dan pekarangan rumah. Biasanya, buah-buahan dan pelbagai jenis sayur-sayuran, merupakan jenis tanaman yang dibudidayakan di kebun itu.

Saya kira, jurusan pertanian hortikultura sangat relevan dan mendesak saat ini. Tak bisa dibantah bahwa para petani di Mabar belum mampu ‘memenuhi suplai buah-buahan dan sayur-sayuran’ yang dibutuhkan pihak hotel, dan rumah makan di Labuan Bajo. Kebanyakan buah-buahan dan sayur-sayuran didatangkan dari luar Mabar, seperti NTB dan Bali. Ini sebuah fakta yang sangat ironis. Kita gagal ‘mengoptimalkan’ keberadaan industri pariwisata dengan menjadi ‘produsen’ buah dan sayur yang sesuai dengan standar hotel.

Persoalan kita sebetulnya bukan karena ‘kurangnya lahan untuk memproduksi tanaman hortikultura’, tetapi terutama pada kualitas proses dan hasil dari tanaman tersebut. Dari sisi kualitas dan kuantitas, belum bisa memenuhi permintaan atau tuntutan pasar. Kita membutuhkan ‘petani hortikultura’ yang tidak hanya cerdas secara teoretis, tetapi benar-benar cakap dalam mengaplikasikan ilmunya sehingga lahan kering yang luas di wilayah ini, bisa dikembangkan menjadi sentra penghasil tanaman hortikultura yang bermutu.

Kenyataan ini menjadi semacam peluang bagi SMK Boleng untuk tampil sebagai ‘pemecah kebuntuan’. SMK Boleng, khususnya jurusan pertanian hortikultura, mesti menjadi ‘lembaga’ yang secara serius ‘mencetak’ kandidat petani hortikultura yang berkompeten dan profesional. Spirit berwirausaha dalam bidang pertanian, mesti ditanamkan sejak dini. Lulusan SMK ini tidak boleh ‘terobsesi’ untuk menjadi ‘pegawai pertanian’, sebab menjadi pegawai sama sekali tidak produktif dan tidak menjawab persoalan kurangnya stok buah dan sayur yang bermutu sesuai ‘standar hotel’.

Ini menjadi tugas yang tidak ringan dari ‘para pemangku kepentingan’ di lembaga itu. Pada pundak merekalah, kita titipkan asa agar SMK ini benar-benar menjalankan visi dan misinya sebagai ‘kawah candradimuka’ pencetak generasi Boleng yang cerdas, unggul dan berdaya saing dalam bidang kepariwisataan.

Atas dasar itu, kita patut ‘berduka’ ketika mendengar gosip soal kuatnya ‘pikiran primordial’ dalam penentuan pengurus Komite di lembaga itu. Hemat saya, diskusi apakah ‘orang lokal atau orang luar’, terpilih menjadi ‘Ketua Komite’, rasanya tidak terlalu relevan bagi upaya mewujudkan idealisme lembaga ini. Diskusi yang beraroma primordialisme semacam itu, bersifat kontraproduktif bagi setiap upaya mewujudkan visi dasar hadirnya lembaga itu di wilayah Boleng.

Mengingat SMK ini sedang berada dalam fase transisi dan konsolidasi, maka sebaiknya energi para pemangku kepentingan lebih banyak ‘tercurah’ pada upaya ‘memperjuangkan kepentingan lembaga itu’. Tugas terberat kita saat ini adalah membangun lobi dan meyakinkan para penguasa soal ‘urgensi’ pembangunan sarana prasarana penunjang aktivitas pembelajaran di SMK. Saya berpikir, kita mesti berkolaborasi dengan para pihak yang punya akses dan jaringan dengan kekuasaan agar desain dan implementasi pembangunan infrastruktur pendukung itu, berjalan dengan lancar.

Kita tidak sedang ‘memperjuangkan’ kepentingan pribadi dan ego wilayah dalam ‘memajukan’ SMK ini. Kepentingan kita adalah bagaimana skenario pembangunan SMK ini berjalan mulus sehingga para siswa angkatan pertama ini, tidak terlalu lama ‘hidup sebagai kelinci percobaan’ di SMK itu. Para siswa itu secepatnya merasakan ‘suasana’ lingkungan pendidikan yang ditopang dengan ketersediaan fasilitas standar yang memadai.

Akhirnya, kita mengucapkan selamat dan profisiat kepada segenap masyarakat Boleng atas ‘kegigihan mereka’ dalam memperjuangkan hadirnya sebuah SMK di Boleng. Harapan yang bersemi cukup lama itu, akhirnya terjawab tentu berkat ‘kerja keras’ para pihak yang sudah mengorbankan tenaga dan waktu untuk ‘menekan’ para pengambil kebijakan agar pendirian SMK itu segera terlaksana.

Kita merindukan debut kinerja dan performa lembaga itu sebagai ‘satu-satunya’ lembaga vokasi di Kecamatan Boleng yang berkomitmen menformat generasi muda Boleng yang unggul, tangguh, mandiri dan berdaya saing global. Letak SMK itu boleh saja agak jauh dari pusat destinasi wisata super premium, tetapi denyut aktivitasnya bukan tidak mungkin ‘bergema dahsyat’ jika dan hanya jika para pemangku kepentingan ‘tidak terjebak’ dalam tarik menarik kepentingan yang bersifat parsial dan primordial. SMK hebat, SMK bisa.

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 27 kali

Baca Lainnya

Tanjung Bendera, Asimetris Informasi dan Kuasa Esklusi

19 November 2021 - 04:51 WIT

“Itulah Ayahmu”

12 November 2021 - 06:08 WIT

Krisis Ekologi

4 November 2021 - 02:46 WIT

Produksi Rokok dan Himbauan Jangan Merokok

1 November 2021 - 06:33 WIT

Merindukan ‘Pesta Sambut Baru’ Ala Anak-Anak

30 Oktober 2021 - 03:43 WIT

Jurnalisme Kolaborasi

18 Oktober 2021 - 12:14 WIT

Trending di Sosial