Menu

Mode Gelap
 

Pendidikan · 8 Okt 2021 10:45 WIT ·

Berbicara dan Menulis


 Sil Joni. (Ilustrasi: FEC Media) Perbesar

Sil Joni. (Ilustrasi: FEC Media)

Oleh: Sil Joni*

Dalam ‘buku teks’ mata pelajaran Bahasa Indonesia, “berbicara dan menulis”, merupakan dua dari empat kemampuan (skill) dalam berbahasa. Dua skill yang lainnya adalah membaca (reading skill) dan menyimak (listening skill).

Sebagai sebuah ‘keterampilan’, maka unsur berlatih menjadi ‘poin kunci’. Kecakapan dalam menulis dan berbicara itu, dengan demikian bukan ‘bakat bawaan’ atau sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit. Kesanggupan semacam itu merupakan resultante dari ketelatenan dalam mengikuti proses belajar dan latihan praktis yang panjang dan konsisten.

Dalam kenyataannya, dua kompetensi itu, tidak selalu berjalan seimbang. Ada yang sangat fasih dalam berbicara, tetapi tak begitu teratur dalam menulis. Sebaliknya, ada yang kemampuan menulisnya sangat menonjol dan mengagumkan, tetapi terkesan biasa-biasa saja atau datar ketika tampil dalam bahasa lisan.

Jadi, kelancaran dalam berbicara tak selalu menjadi garansi untuk menjadi penulis yang baik. Demikian pun sebaliknya, meski begitu pandai dalam ‘merakit tulisan’, tetapi hal itu, tidak selalu berbanding lurus dengan kepiawaiannya dalam ‘berorasi’ di depan publik.

Mereka yang memperlihatkan level kecakapan yang relatif berimbang antara ‘berbicara dan menulis’ itu, bisa dihitung dengan jari. Kehadiran mereka, umumnya ‘sangat ditunggu-tunggu’ oleh audiens, baik sebagai pendengar (pemirsa) maupun sebagai pembaca. Khalayak umum tak pernah bosan mendengar pembicaraan mereka dan membaca tulisan yang mereka racik yang terpublikasi dalam pelbagai media.

Ketika berada di Perguruan Tinggi, boleh jadi, kita lebih tertarik untuk membaca ‘diktat kuliah’ ketimbang mendengar kuliah mimbar dari dosen tertentu. Kita begitu ‘terpukau’ dengan keindahan dan kedalaman analisis sang dosen yang tersaji dalam ‘diktat’. Tetapi, kala akan dibuat kecewa kita ‘mendengar dan menyaksikan secara langsung’ bagaimana dosen tersebut mempresentasikan bahan kuliahnya secara lisan.

Demikian pun dalam pergaulan sehari-hari. Saya sering mendengar semacam ‘curahan hati’ perihal ketertarikan seseorang terhadap pribadi tertentu, khususnya berkaitan dengan performa dalam berbicara dan menulis. Ada yang secara terang-terangan mengatakan bahwa untuk saudara X, “saya lebih suka membaca tulisannya, ketimbang mendengar dia berbicara atau saya lebih senang mendengar dia berbicara ketimbang membaca tulisannya”.

Saya berpikir, terlepas dari nuansa subyektivitas dalam penilaian, harus diakui bahwa masing-masing orang memiliki sisi plus dan minus ketika mempraktikkan kompetensi berbicara dan menulis. Kita bisa saja ‘sukses’ sebagai penulis, tetapi ‘gagal’ sebagai pembicara yang baik dan sebaliknya, gagal sebagai penulis, tetapi mendulang pujian sebagai ‘pembicara’.

Dalam panggung politik lokal, kita sering menjumpai politisi atau pemimpin politik yang begitu ‘elegan dalam berorasi’, tetapi amat memprihatinkan ketika gagasannya dituangkan dalam bentuk tulisan. Politisi, birokrat dan pemimpin politik yang mengusai dengan baik dua keterampilan berbahasa (berbicara dan menulis), rasanya sangat langka untuk tidak dibilang ‘tidak ada’.

Kondisi semacam itu, tentu saja bukan ‘terjadi di Manggarai Barat (Mabar) saja. Itu fenomen biasa yang sudah sangat jamak terjadi di negeri ini. Kita tidak bisa menuntut mereka untuk tampil sebagai ‘intelektual’. Kekhasan seorang intelektual adalah ‘kecakapan dan ketajamannya membaca realitas yang terpublikasi dalam berbagai media. Menulis adalah salah satu ‘pekerjaan utama’ seorang intelektual.

Tetapi, seorang politisi, umumnya lebih banyak bergulat dengan dunia perdebatan, negoisasi, dan lobi politik yang dibuat secara lisan. Tradisi menulis dalam ‘ruang politik praktis’, kurang diperhatikan secara optimal. Akibatnya adalah para politisi dan birokrat cenderung lebih senang tampil sebagai ‘pembicara’ ketimbang sebagai penulis.

Itulah sebabnya mengapa kebanyakan politisi amat pandai ‘beretorika di panggung’. Mereka lebih banyak tampil sebagai ‘orator ulung’ yang sanggup menyihir audiens ketika berada dan bergaya di depan panggung. Gaya berbicara lebih ditonjolkan ketimbang mutu substansi konsep yang dipaparkan.

Sebaliknya, seorang intelektual yang lebih banyak ‘bergulat dengan dunia literasi’, tidak selalu tampil memukau ketika membawakan seminar atau berorasi secara lisan. Masalahnya adalah para intelektual itu, kurang memperhatikan ‘unsur bumbu’ dalam berbicara. Pembicaraan mereka cenderung monoton, kaku, dan bergaya elitis.

Kualitas substansi narasi ‘terlalu mendapat porsi perhatian lebih’ sehingga kurang nikmat untuk dikonsumsi. Kendati dari sisi pesan sangat bermutu, tetapi ketika dipresentasikan dengan gaya yang datar dan hambar, maka gairah pendengar untuk menangkap maksud pembicaraannya agak menurun.

Rasanya, saya masuk dalam kelompok kedua di atas. Hal ini terbukti dari banyaknya sorotan dan kritikan ketika saya tampil sebagai salah satu pembicara dalam sebuah forum diskusi publik. Penampilan saya terkesan sangat rigoris dan penuh ketegangan. Saya tidak bisa berbicara secara bebas dan luwes. Ada semacam ‘beban psikologis’ ketika pembicaraan saya tidak sesuai dengan skema konseptual yang saya bangun. Saya mesti mengikuti sekema itu secara konsisten. Efeknya adalah materi pembicaraan yang sebenarnya sangat berbobot, menjadi kurang menarik untuk didengar.

Saya sangat yakin bahwa ada warga dalam jaringan (netizen) yang lebih tertarik ‘melahap tulisan saya’, ketimbang mendengar pembicaraan saya dalam sebuah forum diskusi resmi. Tetapi, tidak menutup kemungkinan, ada juga yang lebih suka dengan gaya saya berbicara daripada ‘pola yang saya pakai dalam menulis’. Intinya, saya tidak bisa tampil sempurna untuk dua kecakapan berbahasa (berbicara dan menulis) ini.

Kesan saya, ada banyak yang ‘jago berbicara’ di Mabar ini. Tetapi, sayangnya, tidak terlalu banyak yang ‘hebat dalam menulis’. Menulis status pendek dan berkomentar seadanya di media sosial dalam pelbagai platform, tidak bisa dipatok sebagai ‘barometer menjamurnya para penulis’ di Mabar.

Kendati kita sangat produktif dalam menuangkan komentar di facebook atau WhatsApp, hal itu tidak identik dengan ‘tradisi menulis’. Sebenarnya, kita hanya memindahkan ‘bahasa lisan’ di media sosial. Semakin sering kita berpartisipasi dalam diskusi yang bersifat acak di media sosial, semakin kuat dugaan bahwa tradisi oral begitu kuat dan sulit untuk ‘digeser’.

* Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 98 kali

Baca Lainnya

Gerakan Sekolah Menyenangkan

25 Oktober 2021 - 00:53 WIT

SMK Stella Maris Menuju Sekolah “Ramah Anak”

16 Oktober 2021 - 12:04 WIT

Bertelurlah di ‘Lapangan Luas’

4 Oktober 2021 - 12:31 WIT

REFLEKSI PGP; Peran dan Nilai Guru Penggerak

13 September 2021 - 11:50 WIT

Asesmen Nasional: Manggarai Barat Siap!

22 Juni 2021 - 12:24 WIT

Pungutan dan Sumbangan Biaya Pendidikan, Bolehkah?

10 Juni 2021 - 00:16 WIT

Trending di Pendidikan