Menu

Mode Gelap
 

Sosial · 5 Okt 2021 07:53 WIT ·

Aku dan Yang Lain


 Sil Joni. (Ilustrasi: FEC Media) Perbesar

Sil Joni. (Ilustrasi: FEC Media)

Oleh: Sil Joni*

Komodo Lawyers Club (KLC) akan menyelenggarakan acara bincang-bincang seputar arti keberadaan seseorang dalam relasinya dengan sesama. Rencananya, acara itu digelar pada hari ini, Selasa (5/9/2021) di Double L (depan Gereja Paroki Roh Kudus Labuan Bajo).

Diskusi publik dengan tema: “Menjadi Pribadi yang Bermanfaat Bagi Sesama” itu, didesain sebagai salah satu ekspresi pemaknaan perayaan hari ulang tahun kelahiran dari sang Presiden KLC, Plasidius Asis De Ornay, SH. Menyambut usianya yang ke-48, sang presiden merasa perlu untuk coba merajut makna hidupnya dalam korelasinya dengan keberadaan sesama yang telah berkontribusi dalam ‘penyusunan benang sejarah hidup’ sedari awal hingga detik ini.

Rancangan acara ‘sharing sisi eksistensialitas’ semacam ini, relatif baru dalam memaknai hari kelahiran seseorang selama ini. Asis De Ornay tidak mau secara latah meniru kebiasaan ‘menggelar pesta mewah’ dalam memeriahkan momen Hari Ulang Tahun (HUT) itu seperti yang sering ‘dipamerkan’ oleh sebagian masyarakat saat ini.

Asis dan kru KLC lebih memilih ‘jalan refleksi intelektual’ melalui penciptaan ruang diskusi untuk mendapatkan semacam butiran pemikiran bernas dari kolega dalam memberi ‘bobot plus’ dari hidup yang terus mengalir bersama orang lain itu. Bapak filsafat Yunani klasik, Socrates pernah mengatakan “hidup yang tidak direfleksikan, tidak layak untuk dihidupi”.

Saya kira, dalam level tertentu, apa yang digagas oleh kru KLC soal pelaksanaan bincang-bincang eksistensial itu, bisa dipandang sebagai manifestasi kreatif dari renungan Socrates di atas. Orang yang sekadar terjebak dalam rutinitas hidup belaka, akan sulit menggenggam sejumput makna yang dijadikan pegangan dalam melaksanakan proyek transformasi diri.

Aktus refleksif itu tidak hanya terarah ke dalam diri (inward looking), tetapi juga terarah ke luar diri (outward looking) terutama keberadaan sesama yang banyak ‘menyuplai makna’ untuk hidup seseorang. Hidup manusia selalu terarah ke keberadaan sesama itu. Filsuf eksistensialisme dari Perancis Albert Camus dengan tepat menegaskan bahwa ada manusia selalu berarti ‘ada bersama dengan yang lain’ (esse est co-esse).

Aku hanya bisa dipikirkan atau didefinisikan ketika disandingkan dengan ‘keberadaan’ orang lain. Gerakan eksodus menuju ke yang lain merupakan ‘dorongan primordial’ yang menghinggapi seorang anak manusia. Psikolog eksistensial Erick Fromm menegaskan bahwa manusia tidak bisa hidup, walau sedetik pun, ketika ‘terputus’ relasinya dengan sesama. Keberadaan yang lain merupakan elemen konstitutif pembentukan personalitas manusia.

Renungan filosofis di atas bisa dipadatkan dalam satu proposisi bahwa ‘aku diberi arti oleh yang lain’. Aku dan yang lain itu saling mengandaikan. Ketika memikirkan tentang keakuan, maka keberadaan yang lain, tidak bisa dinafikan begitu saja. Menegasi keberadaan yang lain, dengan demikian, dilihat sebagai tindakan ‘mengangkangi’ keberadaan diri sendiri.

Untuk itu, manusia ‘dipanggil’ untuk membuat hidup orang lain lebih ‘bermakna’. Dalam bahasa yang lebih pragmatis, kita diminta untuk menjadi manusia ‘yang bermanfaat bagi sesama’. Kita mesti keluar dari ‘cangkang egoisme kita’ untuk menyalurkan semacam berkat kepada sesama.

Dalam bahasa teologis, hidup ini kita terima secara gratis (sebagai rahmat) dari Sang Pencipta. Karena itu, tugas kita adalah mengalirkan ‘rahmat yang sama’ kepada sesama. Ada banyak kanal yang bisa dioptimalkan untuk ‘membagi kasih’ kepada sesama itu. Salah satunya adalah dalam dan melalui bidang profesi yang kita tekuni. Profesi itu lebih dari sekadar ‘pekerjaan’. Profesi merupakan panggilan untuk mengalirkan berkat melalui pelayanan yang kita berikan.

Asis De Ornay, sang pestawan kita, dikenal luas sebagai salah satu advokat (penasihat hukum) yang beracara di Manggarai Barat (Mabar). Dalam dan melalui profesi ‘pengacara’ itu, Asis tentu sudah melaksanakan panggilan purbanya, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Layanan hukum yang diberikan selama ‘bertindak sebagai lawyer’, bisa disimpulkan sebagai ekspresi konkret bagaimana keberadaan dirinya ‘berguna’ bagi orang lain. Ketika para kliennya ‘membutuhkan pertolongannya’ dalam menagani sebuah kasus hukum baik secara litigasi maupun non litigasi, maka pada saat itu ‘secara eksplisit’ dirinya benar-benar bermanfaat bagi sesama.

Tegasnya, manusia bekerja tidak hanya untuk ‘kebahagiaannya sendiri’, tetapi juga untuk melayani dan membahagiakan orang lain. Manusia itu bukan makhluk soliter semata. Ia juga tampil sebagai makhluk yang solider dengan yang lain. Proses pembentukan dan perkembangan dirinya tidak berlangsung dalam ruang vakum dan tanpa melibatkan pihak yang lain. Seorang individu bisa bergerak dalam lintasan sejarah jika dan hanya jika ‘berjalan bersama yang lain’.

“Menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama”, dengan demikian, tidak hanya sebagai sebuah ‘imperasi etis’, tetapi sebagai cara berada dari manusia itu sendiri. Pribadi yang berguna itu merupakan ‘panggilan ontologis’ yang selalu mengingatkan manusia untuk keluar dari ‘zona aman hidupnya’.

Oleh sebab itu, ketika kehadiran diri kita ‘mendatangkan bencana’ bagi sesama, maka sebenarnya kita sedang mengkhianati panggilan ontologis itu. Tetapi, kita tidak bisa mengelak bahwa dalam level implementasinya, pelbagai aksi manipulasi dan distorsi terhadap keberadaan orang lain, kerap terjadi.

Kita sering membuat semacam ‘kalkulasi’ dalam menjalin relasi dengan orang lain. Demi meraih ‘keuntungan diri’, kita tega mengorbankan martabat orang lain. Relasi yang kita bangun kadang hanya bersifat artifisial dan fungsional. Orang lain diperlakukan sebagai ‘alat’ untuk mengeruk keuntungan diri semata.

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 66 kali

Baca Lainnya

Agar ‘Orang Boleng’ Tidak Jadi Penonton

25 Oktober 2021 - 23:18 WIT

Jurnalisme Kolaborasi

18 Oktober 2021 - 12:14 WIT

Menulis Surat (Cinta), Pengolahan Afeksi, dan Kultur Lterasi

11 Oktober 2021 - 07:31 WIT

Refleksi “Telat” Seorang Awam Hukum

10 Oktober 2021 - 05:34 WIT

Tanggung Jawab Terhadap ‘Wajah yang Bersujud’

1 Oktober 2021 - 06:41 WIT

Pembudayaan “Kain Songke Mata Manuk”

29 September 2021 - 09:19 WIT

Trending di Sosial