Menu

Mode Gelap
 

Sosial · 29 Sep 2021 05:29 WIT ·

Pendokumentasian Narasi “Songke Bermotif Mata Manuk”


 Sil Joni. (Foto: Ilustrasi FEC Media) Perbesar

Sil Joni. (Foto: Ilustrasi FEC Media)

Apresiasi Untuk Maria Elisabeth C. Pranda

Oleh: Sil Joni*

Setiap produk budaya (lokal), tersimpan sebuah kisah yang kalau ditelisik sarat dengan pesan moral dan bersifat edukatif. Untuk itu, upaya menggali dan menggemakan ‘narasi yang terpendam’ dalam pelbagai artefak kultural, menjadi sebuah kemestian. Kisah yang digaungkan itu, kalau dapat, didokumentasikan agar tidak lekas hilang ditelan arus sejarah.

Demikian halnya dengan cerita kain tenun tradisional ‘Songke dengan motif Mata Manuk’ yang sangat melegenda dalam kelompok etnis tertentu di Manggarai Barat. Tentu, ungkapan ‘mata manuk’ untuk menggambarkan corak motif dalam kain itu, tidak sekadar hiasan belaka. Ada ‘filosofi’ yang menaungi proses kelahiran dan keberterimaan ungkapan itu sesuai latar lingkungan budaya setempat.

Salah satu pribadi yang begitu ‘telaten’ merajut butiran filosofi yang terpatri dalam Songke Mata Manuk adalah Maria Elisabeth C. Pranda. Tersiar kabar bahwa upaya ibu Maria dalam ‘menenun aneka kisah’ di balik motif Mata Manuk itu, akan didokumentasikan dalam bentuk buku.

Jika tidak ada aral yang melintang, karya berjudul: “Tenun Tradisional Kain Songke – Mata Manuk”, dalam waktu dekat, akan diterbitkan dan dikonsumsi oleh publik pembaca yang lebih luas. Seandainya rencana ituterlaksan, maka itu merupakan sumbangan konkret ibu Maria Elisabeth dalam melestarikan dan mengembangkan karya budaya lokal dalam bentuk kerajinan tenun songke bermotif ‘Mata Manuk” di Kabupaten Manggarai Barat.

Sudah sepantasnya karya literasi yang mengangkat sisi kearifan lokal berbasis seni tenun tradisional diapresiasi dan didukung. Dengan sangat telaten dan penuh dedikasi, ibu Maria berhasil mendokumentasikan salah satu warisan kultural yang sangat bernilai untuk dikembangkan secara lebih kreatif di tengah arus modernitas dan globalisasi saat ini.

Sejak dahulu, Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal luas sebagai Propinsi pencipta kain tenun tradisional dengan motif dan corak yang khas. Kemasyhuran kain tenun NTT ini bahkan sudah menembus pasar global. Koleksi tenun NTT tidak hanya disimpan di museum-museum terkenal di Eropa dan Amerika, tetapi juga diminati oleh warga dari berbagai belahan dunia. Popularitas kain tenun NTT umumnya dan Manggarai Barat (Mabar) khususnya tentu kian meroket seiring dengan perkembangan industri pariwisata di wilayah ini.

Kita tahu bahwa Labuan Bajo sudah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat (Pempus) sebagai salah satu daerah tujuan (destinasi) wisata super prioritas dan diberi label ‘super premium’. Salah satu kekuatan utama pariwisata Mabar adalah keberadaan pelbagai produk budaya yang sangat eksotis, termasuk kerajinan tenun. Sudah saatnya, para pengrajin tenun Songke diberi ruang yang luas untuk menampilkan karya terbaik, yang tidak hanya dilihat sebagai simbol identitas Kemanggaraibaratan, tetapi yang paling penting adalah merebut peluang ekonomi yang tersedia dalam pasar pariwisata tersebut.

Pekerjaan ‘menenun kain Songke’, umumnya dikerjakan oleh kaum perempuan. Karena itu, saya berpikir bahwa upaya untuk mengembangkan dan mempertahankan tradisi ‘menenun’ ini, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di mana perempuan menjadi subjek sentralnya. Kaum perempuan Mabar mesti kembali mencintai ‘aktivitas menenun Songke’.

Kita mengucapkan terima kasih berlimpah kepada ibu Maria Elisabeth C. Pranda yang dengan jenius ‘membukukan’ serpihan makna dan filosofi tenun Songke bermotif “Mata Manuk”. Pelbagai tuturan lisan tentang arti di balik ‘motif Mata Manuk’, tentuk akan diabadikan dalam buku ini. Dengan itu, orang Mabar khususnya kaum perempuan bisa menimba inspirasi sekaligus spirit untuk terus menggauli pekerjaan menenun tersebut.

Saya sangat yakin, sebagai mantan ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Mabar, Ibu Maria Elisabeth sudah mengetahui persoalan mendasar yang dihadapi kaum perempuan Mabar, termasuk dalam hal pembudayaan tradisi tenun Sonke motif Mata Manuk. Buku ini, bisa menjadi semacam tanggapan dan solusi dari ibu Maria untuk mengatasi isu ‘berkurangnya’ para ibu yang setia pada tradisi tenun di satu sisi, dan maraknya gejala duplikasi motif, teknik digital print, dan sablonisasi pada sisi yang lain.

Rakyat Mabar sangat berbangga sebab ternyata Karya Cipta Tenun tradisional Kain Songke Mata Manuk telah terdaftar pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI dengan nomor pendaftaran EC00202035230 tanggal 5 September 2020 atas nama pencipta Maria Elisabeth C. Pranda dan telah bersertifikat Hak Cipta.

Terhadap prestasi itu, sekali lagi, kita mengucapkan limpah terima kasih. Ucapan terima kasih akan semakin lengkap jika kita menghargai dan mau menggunakan ‘Karya Cipta’ dari Ibu Maria dalam hidup harian kita. Maksudnya, kita mesti tertarik untuk kembali menggeluti pekerjaan menenun Kain Songke Mata Manuk di satu sisi, dan menggunakan kain songke Mata Manuk dalam berbagai momen, pada sisi yang lain. Selain itu, kita juga diminta untuk mempromosikan secara kreatif hasil ciptaan ibu Maria di berbagai forum resmi dengan cara dan gaya kita masing-masing.

Kain Tenun Songke Mata Manuk lahir dari ‘kandungan budaya Mabar’. Motif Mata Manuk mengguratkan pesan utama tentang relasi perjumpaan dan kedekatan antara manusia dengan dirinya, sesama, alam lingkungan, leluhur dan Wujud Tertinggi (Tuhan) dalam komunitas suku kita, yang diperantarai oleh hewan budaya ayam (manuk). Mencintai kegiatan menenun Kain Songke Mata Manuk dan memakainya di berbagai momen, merupakan wujud penghormatan kita terhadap warisan dan kearifan yang hidup di lingkungan kebudayaan kita.

Akhirnya, selamat dan profisiat kepada ibu Maria Elisabeth C. Pranda atas rencana besar menerbikan karya literasi yang bermutu ini. Semoga semakin banyak perempuan Mabar yang tertarik untuk menggali pelbagai kearifan lokal untuk diabadikan dalam bentuk buku sebagai persembahan yang berharga kepada generasi Mabar di masa mendatang.

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 90 kali

Baca Lainnya

Agar ‘Orang Boleng’ Tidak Jadi Penonton

25 Oktober 2021 - 23:18 WIT

Jurnalisme Kolaborasi

18 Oktober 2021 - 12:14 WIT

Menulis Surat (Cinta), Pengolahan Afeksi, dan Kultur Lterasi

11 Oktober 2021 - 07:31 WIT

Refleksi “Telat” Seorang Awam Hukum

10 Oktober 2021 - 05:34 WIT

Aku dan Yang Lain

5 Oktober 2021 - 07:53 WIT

Tanggung Jawab Terhadap ‘Wajah yang Bersujud’

1 Oktober 2021 - 06:41 WIT

Trending di Sosial