Menu

Mode Gelap
 

Sosial · 29 Sep 2021 09:19 WIT ·

Pembudayaan “Kain Songke Mata Manuk”


 Sil Joni. (Foto: Ilustrasi FEC Media) Perbesar

Sil Joni. (Foto: Ilustrasi FEC Media)

Perspektif Politik

Oleh: Sil Joni*

Saya mendengar informasi bahwa ibu Maria Elisabeth C. Pranda akan membukukan semacam ‘hasil risetnya’ seputar narasi filosofi budaya tentang Kain Tenun Tradisional Songke Mata Manuk. Sebetulnya, minat ibu Maria untuk ‘mengangkat’ cerita kecil soal Songke bermotif Mata Manuk sudah bertumbuh sejak beliau tampil sebagai Ketua Tim Penggerak PKK periode 2005-2010.

Rencana untuk mempublikasikan sebuah buku, boleh dibilang sebagai semacam ‘kulminasi’ dari suatu perjuangan yang penuh dedikatif dalam rentang waktu yang relatif panjang. Pada tahun 2021 ini, meski pandemi corona virus diseases 2019 (covid-19) masih menerjang publik di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), ibu Maria Elisabeth C. Pranda bakal mempublikasi karya literasi berjudul: “Tenun Tradisional Kain Songke – Mata Manuk”. Badai pandemi covid-19 tak menyurutkan semangat ibu Maria untuk merampungkan sebuah karya bernas dalam bidang seni tenun tradisi yang khas Mabar. Tentu, ini sebuah upaya mengawetkan salah satu kearifan lokal yang hidup dalam komunitas suku kita.

Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kaya dengan potensi kerajinan tenun yang dibuat secara manual. Boleh dibilang NTT itu merupakan Nusa Tenun Tangan. Menariknya, penyebaran tradisi tenun tangan itu hampir merata di beberapa Pulau dan suku di NTT seperti Flores, Timor, Alor, Rote, Sabu, dll. Kabupaten Mabar, seperti yang dijelaskan dalam buku ini, memiliki tradisi tenun tradisional yang dikenal dengan sebutan Tenun Songke bermotif ‘Mata Manuk’.

Tenun Songke Mata Manuk itu khas dan unik. Kekhasan dan keunikannya tidak hanya tampak pada tampilannya yang cantik, tetapi juga pada filosofi dan motifnya yang penuh makna. Frase Mata Manuk terdiri dari kata ‘mata’ yang berarti mata dan ‘manuk’ yang berarti ayam. Dengan demikian, ‘Mata Manuk’ berarti mata ayam.

Manuk (ayam) dalam konteks kebudayaan Manggarai merupakan salah satu ‘atribut kultural’ yang begitu bernilai secara sosial dan budaya. Ayam dipakai sebagai sarana penghormatan kepada para leluhur dan Sang Pencipta yang digunakan dalam ritus-ritus adat. Ayam juga dilihat sebagai simbol perdamaian dan persaudaraan serta keberanian atau kejantanan. Sedangkan “Mata Manuk” biasanya lebih tajam melihat makanan yang tidak bisa dilihat oleh manusia dan lebih peka melihat ‘musuh yang jauh’.

Pelbagai makna dan filosofi di balik motif Tenun Songke Mata Manuk itu akan dinarasikan dengan apik dan elegan dalam buku ini nanti. Buku itu merupakan rekaman dokumentatif atas pelbagai tuturan lisan perihal makna motif Mata Manuk yang terdapat pada kain Tenun Songke. Sebuah usaha yang cerdas dan layak untuk diapresiasi.

Kita mengucapkan terima kasih banyak atas kerja keras dan cerdas dari ibu Maria yang kemungkinan mewujud dalam bentuk buku. Ini sebuah warisan budaya yang sangat besar artinya bagi masyarakat Mabar. Berharap para pengambil kebijakan di Mabar mendukung secara total kerja kreatif semacam ini.

Bentuk dukungan itu tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui kerja politik konkret di mana agenda menghidupkan atau mengembangkan Seni Tenun Tradisional Kain Songke Mata Manuk dilaksanakan secara konsisten. Pemerintah Daerah (Pemda) Mabar mesti segera merancang dan mengeksekusi kebijakan politik yang berpihak pada upaya pelestarian dan pembudayaan pekerjaan menenun kain songke Mata Manuk di Mabar.

Buku dari ibu Maria Elisabeth C. Pranda itu, seandainya terbit, tentu hadir pada waktu yang tepat. Betapa tidak, Labuan Bajo sudah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata super prioritas dan diberi label super premium. Menggeliatnya industri pariwisata di Mabar tentu memacu bangkitnya kreativitas berbasis kearifan lokal.

Pengembangan sektor Tenun Tradisional Kain Songke Mata Manuk bisa menjadi salah satu produk budaya yang berdaya saing dalam pasar pariwisata. Umumnya, wisatawan atau konsumen pariwisata lebih tertarik pada yang khas dan unik di daerah tersebut. Ini sebuah peluang ekonomi yang mesti direbut oleh para pengrajin Tenun Songke Mata Manuk di Mabar.

Pada sisi yang lain, perlu diakui bahwa saat ini kita menghadapi fakta ‘berkurangnya’ para ibu yang masih setia menggeluti profesi sebagai Pengrajin Tenun Songke Mata Manuk. Proses penerusan tradisi menenun itu tidak berjalan lurus. Generasi perempuan Mabar yang lebih muda, kebanyakan tidak berminat untuk meneruskan pekerjaan menenun itu.

Karena itu, para pemangku kepentingan di Mabar harus secara serius berjuang mendirikan sentra Balai Latihan Kerja (BLK) Menenun Kain Songke Mata Manuk. Kehadiran BLK yang berkonsentrasi pada upaya pelestarian seni tradisi tenun, begitu urgen saat ini. Dengan itu, tradisi Tenun Tradisional kita, tidak punah.

Selain itu, tingginya permintaan pasar terhadap ‘tenun songke’ menyebabkan gejala pudarnya ‘aura tribal (kesukuan)’ dari kain itu, mulai terlihat. Tenun Songke sebagai “proses kultural” mulai ditinggalkan lantaran permintaaan pasar yang kian menguat. Gejala semisal duplikat motif dengan teknik digital print, pembatikan motif tenun, dan sablonisasi secara perlahan telah mengambil alih peran dan fungsi penenun tradisional. Pemda Mabar mesti memproteksi dimensi orisinalitas dari Kain Tenun Songke Mata Manuk ini melalui sebuah kebijakan politik yang legitim.

Saya kira, Pemda dan publik Mabar, sangat menyambut baik dan mendukung sepenuhnya penerbitan buku ini. Kita mendorong semua elemen di Mabar untuk lebih mencintai produk lokal. Wujud kecintaan itu menyata dalam kemauan dan kebiasaan untuk memakai Kain Tenun Songke Mata Manuk dalam pelbagai kesempatan dan tempat.

Kepada para pengrajin tenun, perlu ditegaskan bahwa prospek ekonomis dari usaha ini kian menjanjikan seiring meningkatnya aktivitas pariwisata di Mabar. Semoga semakin banyak generasi muda, khususnya perempuan Mabar yang merasa terpanggil untuk melanjutkan tradisi tenun dan menjaga identitas kelokalan di tengah derasnya arus globalisasi saat ini.

Akhirnya, kita mengucapkan selamat dan profisiat kepada ibu Maria Elisabeth C. Pranda yang telah berkontribusi ‘menghidupkan kembali’ seni Tenun Tradisi Kain Songke Mata Manuk melalui penerbitan buku ini nanti. Nasib sebuah buku, tentu saja bergantung pada publik pembaca. Tentu, kita tak sabar ‘menanti kelahiran’ buku itu. Bagaimana pun juga, buku adalah asupan nutrisi intelektual yang berguna bagi perkembangan tubuh peradaban kita.

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 37 kali

Baca Lainnya

Agar ‘Orang Boleng’ Tidak Jadi Penonton

25 Oktober 2021 - 23:18 WIT

Jurnalisme Kolaborasi

18 Oktober 2021 - 12:14 WIT

Menulis Surat (Cinta), Pengolahan Afeksi, dan Kultur Lterasi

11 Oktober 2021 - 07:31 WIT

Refleksi “Telat” Seorang Awam Hukum

10 Oktober 2021 - 05:34 WIT

Aku dan Yang Lain

5 Oktober 2021 - 07:53 WIT

Tanggung Jawab Terhadap ‘Wajah yang Bersujud’

1 Oktober 2021 - 06:41 WIT

Trending di Sosial