Menu

Mode Gelap
 

Sosial · 21 Sep 2021 19:47 WIT ·

Misa Online: Apa yang Hilang?


 Ilustrasi (Republika) Perbesar

Ilustrasi (Republika)

Oleh:Agust Gunadin

Misa online menjadi salah-satu alternatif yang digunakan Gereja Katolik untuk meminimalisasi penyebaran covid 19. Alternatif ini diterapkan karena aktivitas di gereja sebagian besar diikuti oleh banyak orang. Kegiatan Gereja yang melibatkan banyak orang tentu bisa menimbulkan peningkatan jumlah kasus pasien covid. Atas dasar alasan ini, Gereja memberlakukan misa online sebagai alternatif mengurangi penyebaran covid. Meskipun masih banyak orang yang mempertanyakan, apakah dengan tidak adanya aktivitas di gereja, jumlah pasien covid berkurang? Sebab, sejauh ini belum ada penelitian khusus yang melihat aktivitas di gereja bisa menimbulkan penyebaran covid 19. Para peneliti hanya mengamati dari jauh, aktivitas di gereja menimbulkan kerumunan banyak orang sehingga bisa meningkatkan jumlah kasus pasien covid.

Terlepas dari pemberlakuan misa online, yang tetap menjadi pertanyaan sampai sekarang ini ialah apakah dengan adanya misa online kerinduan umat Katolik akan perayaan ekaristi lebih efektif, ataukah misa online justru menghilangkan sesuatu yang esensial?

Misa Online Menghilangkan Makna Kehadiran dan Kebertubuhan    

Misa online di satu sisi memberikan warna baru dalam kehidupan Gereja Katolik. Umat kapan dan di mana saja bisa mengikuti perayaan tersebut. Tanpa dibatasi ruang dan waktu seperti yang diatur dalam wilayah parokial, umat hadir secara fisik di dalam gereja untuk mengikuti perayaan ekaristi secara bersama-sama. Tetapi dengan adanya misa online kerinduan umat akan perayaan ekaristi di mana dan kapan bisa terjawab. Sebagai contohnya, selama ini beberapa umat dari Jakarta pernah misa online bersama dengan frater Kamilian di kapela Seminari St. Kamilus.

Terlepas dari keikutsertaan umat semacam itu, misa online masih dipersoalkan. Ada hal-hal esensial yang belum bisa terjawab dalam misa online. Di antaranya ialah kehadiran yang tidak menubuh. Misa online hanya bisa menghasilkan gejala pengada digital, yakni suara dan gambar dikelola oleh sebuah perangkat. Gambar, suara dan peristiwa yang muncul di monitor tv atau handphone adalah suatu reproduksi teknis. Bukan asli, tidak original, tetapi duplikat dari yang original. Dengan memudarnya unsur keaslihan (otentisitas), perayaan misa online yang hadir secara teknis sesungguhnya menghilangkan makna communio. Unsur communio menuntut umat berpartisipasi aktif secara fisik dalam perayaan tersebut. Sedangkan, dalam misa online yang ada hanya kehadiran jarak jauh (telepresence).

Kehilangan makna communio berarti juga kehilangan makna kebertubuhan. Menurut Hubert Dreyfus, kebertubuhan belum ditemukan dalam misa online. Dreyfus memberikan ilustrasi mengenai kehadiran jarak jauh dalam novelis E. M Foster, “On the internet I see something like you…but do not see you. I hear something like you through this phone, but I do not hear you…” Tentu, Dreyfus menulis gagasan semacam ini karena ia melihat fakta yang demikian terjadi dalam fenomena misa online. Umat melihat dan mengikuti perayaan ekaristi, tetapi mereka tidak mengikutinya secara penuh. Umat kehilangan makna kehadiran dalam perayaan tersebut. Kehadiran umat dalam misa online hanya bersifat teknis atau dalam bahasa Joohan Kim “Digital-sein as being in the world wide web, kehadiran ada dalam sebuah perangkat yang sudah disistemkan secara otomatis. Atas dasar pandangan ini, Gereja melihat bahwa misa online belum sepenuhnya menghadirkan Kristus. Sebab, kehadiran Kristus dalam setiap sakramen selalu bersifat nyata. Bukti kehadiran Kristus yang nyata terlihat dalam rupa roti dan anggur yang melambangkan tubuh dan darah-Nya sendiri.

Roti dan anggur sebagai lambang Kristus yang hadir dalam perayaan ekaristi bertujuan memberikan pengharapan akan adanya keselamatan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Yesus Kristus memahami bahwa ketika diri-Nya tidak menjadi manusia, di sana akan ada sikap skeptis dari manusia, seperti rasul Thomas yang meragukan kehadiran Yesus “sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu, dan mencucukkan tangan ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak percaya” (Yoh 20:25). Di sini, Yesus menyadari kehadiran fisik secara faktual menjadi syarat untuk membangun sebuah kepercayaan antara manusia dan Allah.

Yesus memilih kehadiran fisik, lewat misteri inkarnasi (Latin in: dalam dan carnis: daging) yang terwujud dalam roti dan anggur pada perayaan ekaristi. Roti dan anggur dipercayakan oleh Gereja sebagai wujud kehadiran Yesus sekaligus menjadi sarana komunikasi antara Allah dan manusia. Dalam roti dan anggur, Allah sendiri yang hadir, bukan lewat para nabi atau lewat perantara teknis seperti ditemukan dalam misa online. Dengan melihat kenyataan ini, praktik misa online belum sepenuhnya efektif. Jelas, ketidakefektifan itu terjadi karena misa online menghilangkan makna akan pentingnya kehadiran dan kebertubuhan. Kehadiran secara fisik, kini dan di sini dalam misa online masih bersifat teknis atau kehadiran dalam misa online masih bersifat perantara.  

Lagi pula misa online bila dikaitkan dengan pandangan Dreyfus dalam buku, On The Internet: Thinking in Action memiliki kelemahan: pertama, kurangnya penguasaan atas gerakan tubuh. Gerakan tubuh yang dilakoni dari jauh bisa menyebabkan pandangan kabur dan penghayatan menjadi luntur. Bisa jadi, umat yang mengikuti misa online tidak mengikuti tata gerak liturgis pada saat perayaan ekaristi berlangsung. Tentu, ketidakikutsertaan gerakan semacam ini bisa mengurangi penghayatan iman. Kedua, konteks dan suasana hati yang tidak dapat diketahui. Bisa saja, umat mengikuti misa online dalam suasana batin yang kacau. Artinya umat kurang mempersiapkan batin dengan baik saat perayaan ekaristi berlangsung, karena suasana rumah yang kurang nyaman atau memikirkan pekerjaan yang semakin menumpuk.  Ketiga, keterlibatan dalam satu ruang dan waktu yang sama bisa membantu penghayatan menjadi lebih baik. Misa online kurang memperhatikan aspek ini. Keempat, kehadiran dalam satu ruang dan waktu yang sama bisa menumbuhkan rasa percaya. Dreyfus menulis “saya ragu bagaimana dapat percaya jika mereka hanya saling tatap melalui layar, sementara di saat yang sama mereka menggunakan alat teknologi  robot.   

Penghuni Rumah Teologan San Camillo-Maumere

 

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 67 kali

Baca Lainnya

Agar ‘Orang Boleng’ Tidak Jadi Penonton

25 Oktober 2021 - 23:18 WIT

Jurnalisme Kolaborasi

18 Oktober 2021 - 12:14 WIT

Menulis Surat (Cinta), Pengolahan Afeksi, dan Kultur Lterasi

11 Oktober 2021 - 07:31 WIT

Refleksi “Telat” Seorang Awam Hukum

10 Oktober 2021 - 05:34 WIT

Aku dan Yang Lain

5 Oktober 2021 - 07:53 WIT

Tanggung Jawab Terhadap ‘Wajah yang Bersujud’

1 Oktober 2021 - 06:41 WIT

Trending di Sosial