Manggarai Barat

Rabu, 4 November 2020 - 09:00 WIB

4 minggu yang lalu

logo

Maria Geong (Ist)

Maria Geong (Ist)

Membaca ‘Misi Politik’ Paslon Maria-Sil

Maria Geong-Silverius Sukur: Duet Pemimpin Dengan Spirit Pemberdayaan dan Pembebasan

Oleh: Sipri Kantus*

Isu pembangunan dan kerakyatan dipakai oleh semua paslon dalam konstelasi Pilkada Manggarai Barat tahun 2020 ini. Namun sasaran pembangunan dan identifikasi terhadap prioritas penerima manfaat pembangunan sejauh ini baru terkristal dalam Visi Paslon MISI-Maria Geong dan Silverius Sukur. Membangun Desa, Menata Kota adalah dua frasa yang sudah jelas dari aspek locus maupun sasaran pembangunan. Visi membangun desa, menata kota juga berpijak kelindan dengan orientasi dan arah kebijakan pemerintah pusat. Sehingga tidak ada kesan inovasi individu untuk mendulang popularitas di sini. Membangun desa, menata kota merupakan sebuah visi berbasiskan kolaborasi dan sinergi: kerja bersama dan sama-sama kerja.

Mengapa Membangun Desa?

Membangun desa merupakan sebuah urgensi berbasis pertimbangan logis dan realistik. Ada beberapa fakta yang mendukung tesis itu. Pertama,lebih dari separuh (Sil Sukur menyebut jumlahnya 73%) masyarakat Manggarai Barat tinggal di desa. Sebagaian besar masyarakat ini memikul beban karena kemiskinan, terisolasi, mutu pendidikan yang rendah, pengangguran, berbagai macam penyakit, kekerasan dan bentuk-bentuk ketimpangan sosial lainnya akibat kompetisi ekonomi yang tidak berkeadilan.

Masalah-masalah ini butuh intervensi pemerintah dengan pola pendekatan dan kebijakan yang komprehensif. Dalam hal ini pembangunan infrastrukutur harus sejalan dengan pembangunan sumber daya manusianya. Konteks permasalahan utama inilah yang hendak disentuh oleh Paslon MISI dengan menempatkan desa sebagai locus pembangunan melalui sejumlah program unggulan yang telah didesign dengan sangat HEBAT.

Kedua, visi membangun desa adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap pola pembangunan top-down yang masih melekat di kepala sebagian besar orang, yang membuat kesenjangan antara kota dan desa sangat lebar dan panjang. Pembangunan konteks itu adalah warisan kolonial yang memandang desa atau struktur teritori di bawahnya itu dari aspek sumber daya alam saja sehingga benturan kepentingan meraja lela di sana.

Pembangunan dalam konteks itu cenderung menguntungkan penguasa, sementara itu hak-hak ulayat atas tanah dan sumber daya alam sering diabaikan sehingga tak jarang menimbulkan resistensi warga lokal akibat ketegangan antara hak kepemilikan dan hak pengelolaan. Lubang-lubang konsep dan mekanisme timpang inilah yang hendak diisi oleh Paslon MISI dengan kesadaran bahwa membagun desa merupakan hulu untuk mencapai perubahan. Para Nelayan, Petani dan Peternak adalah pelaku usaha yang berada di hulu sebuah peradaban.

Denyut nadi perekonomian Manggarai Barat tergantung pada kualitas-kualitas ketiganya di mana desa sebagai locusnya. Dan ketiga produsen inilah yang sejauh ini belum maksimal diberdayakan, baik dari aspek akses, sumber daya manusia maupun modal.

Dengan melihat problem dasar ini, membangun desa dalam kesadaran MISI adalah keterlibatan mulai dari kehadiaran/ada bersama, mendengarkan, melihat, menilai dan bersama-sama masyarakat memutuskan tindakan yang perlu dan relevan ke arah transformasi yang terukur dan bermutu.

Ketiga, membangun desa merupakan sebuah visi pemberdayaan. Dalam konsep pemberdayan, warga desa adalah pelaku pembangunan. Konsep pemberdayaan ini tidak lagi menempatkan masyarakat sebagai obyek dengan mental belas kasih yang hanya menunggu ”kue-kue pembangunan” itu dibagikan. Konsep pemberdayaan menempatkan manusia dalam kapasitasnya sebagai insan mandiri yang hidup dalam alam kemerdekaan. Melalui sentuhan pemberdayaan mereka akan sadar dengan potensi-potensinya dan bersama pemerintah mengaktualkannya dalam bentuk upaya-upaya yang produktif. Dengan prinsip gotong-royong yang telah menjadi falsafah kerja orang Manggarai, Paslon MISI tidak membiarkan seorang kepala desa bekerja sendirian. Kehadiran Paslon MISI di desa bukan hanya normatif-prosedural melainkan opsi mendukung, terlibat dan tentu bersama kepala desa membangun dan mempersiapkan warga desa menjadi pelaku usaha. Desa harus mempunyai pendapatan asli desa (PADes).

Sumber-sumber pendapatan itu ada pada diri para nelayan, petani dan peternak. Ketiga komponen produsen ini perlu pendampingan dan pelatihan sehingga mereka mempunyai skill untuk berwirausaha dengan prinsip gotong-royong dan keluargaan. Ketrampilan mereka itu perlu diorganisasikan salah satunya melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang kalau memungkinkan tersebar dalam berbagai unit usaha sesuai sumber daya atau potensi-potensi desa setempat. Maka pasar desa, Apotik desa, Koperasi merupakan wadah yang mencerminkan geliat-geliat perekonian warga lokal, yang selanjutnya akan meningkatkan pendapatan mereka dan seterusnya memperbaiki mutu hidupnya. Dengan dukungan infastrukutr jalan, listrik, dan air bersih unit-unit usaha ini berpotensi menjadikan desa sebagai sentra industry baru dan mendukung penyerapan tenaga kerja. Inilah sekilas kiat pemberdayaan sebagai peta jalan agar kemiskisnan dan pengangguran di Manggarai Barat secara perlahan bisa diturunkan. Dengan membangun desa, Paslon MISI hadir dan berkomitmen membawa transformasi wawasan publik tentang desa sebagai pelaku pembangunan.


Keempat, Membangun Desa untuk mendukung penataan kota. Dalam deklarasi Paslon MISI, Maria Geong menggambarkan Labuan Bajo sebagai etalase Indonesia. Konsep ini memberikan gambaran bahwa Labuan Bajo merupakan representasi dari Indonesia karena itu tanggung jawab menata Labuan Bajo sama halnya dengan merawat Indonesia. Sebagai kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) super premium, menata Labuan Bajo ada kaitannya dengan menjaga citra Bangsa Indonesia di mata dunia internasional. Untuk mendukung dan menopang keberlangsungan pariwisata super premium ini, maka penataan kota Labuan Bajo tidak semata tanggung jawab pemerintah pusat. Kalau semua infrastruktur ditangani oleh pemerintah pusat, maka kewajiban pemerintah daerah untuk menata peradabannya. Dan desa merupakan hulu peradaban itu. Budaya dan etos kerja para nelayan, petani dan peternak adalah kualitas yang mendukung peradaban yang inklusif dan humanis. Konsep ini perlu didukung sebab masalah keamanan, sampah dan vandalisme ini pertama-tama adalah persoalan prilaku di mana bisa selesaikan dengan pendekatan kultural selain regulasi yang cenderung represif. Paslon MISI dari sisi tilik ini selain hadir untuk memastikan Labuan Bajo sebagai etalase Indonesia di mata dunia, juga dengan menata peradaban Labuan Bajo, mereka juga berkomitmen menjadikan kota ini sebagai etalase suprastrukturmasyarakat Manggarai Barat di mata Indonesia.

Dengan beberapa uraian di atas, spirit pemberdayaan dan pembebasan sangat kental dalam visi membangung desa, menata kota. Memberdayakan potensi-potensi sekaligus membebaskan masyarakat dari simpul-simpul ketergantungan pada pemerintah yang sudah lama mendekap mereka sebagai manusia pasif. Hemat penulis, spirit pada visi inilah yang menggambarkan Paslon MISI sebagai pemimpin yang revolusioner, transformative dan emansipatif. Dan dalam program-program kandidat yang hampir sama, spirit pemberdayaan dan pembebasanlah yang mencirikan keunggulan MISI sekaligus membedakannya dengan paslon yang lain.

MISI yang HEBAT

Untuk mendukung ketercapaian visi membangun desa, menata kota, Paslon Maria Geong dan Silverius Sukur menjabarkan langkah strategisnya dalam visi HEBAT: Humanis, Elok, Bersih, Aman dan Terhubung. Dari kelima rumusan misi ini saya hanya membahas konsep birokrasi bersih, transparan, dan keteladanan kepemimpinan sebagai simpul dan penentu tercapainya visi. Sedangkan keempat rumusan misi lainnya sudah terimplisit dalam landasan visi yang telah diuraikan di atas, baik itu pemberdayaan masyarakat desa melalui konsep ekonomi kerakyatan/berbasis potensi-potensi lokal, konsep keberlangsungan/sutainability salah satunya melalui konservasi alam dan lingkungan, menjamin keamanan dan perlunya membuka isolasi agar seluruh Manggarai Barat bisa terhubung.

Sisi lain keunggulan Paslon MISI hemat saya ada pada konsep pemerintahan yang bersih, transparan, melalui keteladanan kepemimpinan. Dalam konteks pemilu ataupun pilkada, benturan kepentingan merupakan masalah yang mendera seorang kepala daerah terpilih. Benturan itu umumnya terkait dengan pendanaan pilkada dari donator atau apapun namanya. Meskipun dalam undang-undang disebutkan batasan-batasan pendanaan dan dengan syarat “tidak mengikat” tetapi hasil kajian menunjukkan bahwa “tidak ada makan siang gratis.” Paslon MISI tidak mau terjebak dalam kartel politik oligarki yang berpotensi KKN serta memungkinkan design kebijakan publik (regulasi) didikte oleh para pemilik modal yang menggunakan momen pilkada sebagai ladang investasi.

Bagi Paslon MISI, birokrasi yang bersih bukan hanya sekedar jargon atau tekad di atas kertas. Karena itu keseriusan mewujudkan pemerintahan yang bersih harus dimulai dengan perbaikan kondisinya antara lain berani menolak serta memutuskan siklus kompromi politik dalam berbagai bidang yang berpotensi membawa seorang kepala daerah terjebak dalam benturan kepentingan. Pemerintahan yang bersih terkait kelindan dengan komitmen moral politik yang memungkinkan terpenuhinya akuntabilitas anggaran baik yang dikerjakan secara manual dan bahkan dalam sistem e-budgeting yang memungkinkan partisipasi public dalam mengawas kebijakan anggaran. Komitmen ini bukan janji politik, tapi perjanjian dengan diri sendiri yang lahir dari tekad yang menggambarkan integritas seorang pemimpin.

Dengan komitmen ini Paslon MISI sadar bahwa konsep pemberdayaan dan pembebasan tidak bisa sepenuhnya terwujud bila seorang kepala daerah hanya membuatnya dalam kebijakan atau membangun tekad di atas kertas. Pemimpin harus memberi teladan. Budaya KKN birokrasi itu seperti ikan yang membusuk mulai dari kepalanya, dan itu sangat mungkin bila pimpinan politik permisif terhadap godaan sistemik birokrasi dan kompromi politis. Maka seleksi penempatan pejabat dan kepala-kepala instansi pemerintah maupun pendidikan pasti akan dilakukan dengan berbasis kinerja. Pencegahan KKN karenanya membutuhkan pemimpin yang berani dan kuat, yang punya keyakinan mumpuni bahwa kelaparan dalam sejumlah manifestasinya sanggup diatasi dengan supremasi hukum dan tentunya kebijakan politik. Maria Geong dan Silvester Sukur hadir untuk memberikan keteladan kepemimpinan itu ke segenap masyarakat Manggarai Barat 5 tahun ke depan.

Selamat memilih, bersama kita menjaga pilkada yang damai dan salam demokrasi.

*Penulis merupakan peminat Politik dan Sosial

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 236 kali

Baca Lainnya