Pendidikan Sosial

Sabtu, 31 Oktober 2020 - 20:22 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Stefan Bandar. (Foto: Ilustrasi FEC Media)

Stefan Bandar. (Foto: Ilustrasi FEC Media)

Urgensitas Pendidikan Moral di Era Milenial

Oleh Stefan Bandar*

Perkembangan rasionalitas manusia akhir-akhir ini memberi dampak pada seluruh bidang kehidupan. Pencapaian ilmu alam serta penemuan dalam bidang sains, membawa manusia lebih dekat dengan kebebenaran alam, mampu mengenal unsur-unsur alam yang mempengaruhi kehidupan, mampu menghadirkan dunia luar dalam layar TV, serta mampu mengetahui apa yang akan terjadi hari esok. Manusia juga meninggalkan cara lama dalam melakukan pekerjaan dan mengantikannya dengan peralatan baru.

Saat ini, manusia dikategori dalam komunitas generasi Z. Sebuah generasi yang missunderstand tentang batasan yang asli dan palsu, yang maya dan fakta, bahkan batasan tentang yang benar dan salah. Kenyataan yang asli diubah menjadi palsu, sedangkan yang palsu dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dianggap asli. Hal ini tercermin dalam realita hoax yang meramaikan panggung media sosial akhir-akhir ini. Terkait hoax ini, Liputan6.com Jakarta (19/9/2020) merilis data Kominfo per tanggal 5 Agustus 2020, terdapat 1.016 berita hoax terkait virus corona. Selain itu, Kominfo juga menemukan 800.000 situs penyebaran hoax di Indonesia.

Kenyataan yang terjadi menggambarkan ambiguitas pencapaian rasionalitas manusia di era milenial. Di satu sisi, manusia memiliki kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Tetapi di sisi lain, muncul kenyataan degradasi sikap toleransi dalam masyarakat. Di satu sisi, Manusia mampu mendekatkan diri pada kebenaran alam semesta. Tetapi di sisi lain, manusia hadir sebagai homo homini lupus. Manusia memandang sesamanya bukan sebagai saudara, tetapi sebagai pribadi yang mengancam eksistensinya.

Jika ditelisik lebih jauh, salah satu alasan menguaknya kenyataan penyebaran hoax dalam masyarakat saat ini, ialah kurangnya penekanan terhadap pendidikan moral dalam kurikulum pendidikan nasional, khususnya bagi kaum milenial. Pencapaian rasionalitas dilihat sebagai tolak ukur mutu kurikulum pendidikan nasional. Penemuan-penemuan baru, khususnya dalam bidang sains, sering kali diapresiasi dengan berbagai ganjaran, sedangkan pengamalan terhadap nilai moral kurang diperhatikan. Kenyataan ini merupakan bentuk peminggiran pendidikan moral, dari tataran pendidikan nasional dan dari kehidupan bermasyarakat.

Menoleh pada persoalan yang menguak hari-hari belakangan, kaum milenial sering kali muncul sebagai momok yang sangat entnosentris, yakni pribadi yang cenderung melihat budaya sendiri lebih baik dari budaya lain. Media sosial menjadi ladang bertumbuhnya ujaran kebencian dan hoax. Kasus kekerasan terjadi di beberapa tempat, di mana pelakunya adalah remaja yang berusia belasan tahun. Sebut saja, kasus pembunuhan di Jakarta terhadap balita lima tahun oleh seorang Siswa SMP yang berusia 15 tahun. Atau kasus pembunuhan di Malang, di mana seorang remaja dibunuh oleh rekannya sendiri yang berusia 18 tahun. Dan masih banyak lagi kasus pembunuhan atau kekerasan lainnya yang dilakukan remaja. Sejatinya, semua permasalahan ini merupakan gambaran minimnya moral di era milenial.

Pendidikan moral secara singkat berarti suatu keadaan di mana nilai-nilai moral diberikan kepada peserta didik. Emanuel Kant, mengemukakan pendidikan moral sebagai pendidikan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip utama tentang moralitas, dengan menggunakan metode pertimbangan moral. Metode pertimbangan moral yang di maksud adalah ukuran yang harus dipertimbangkan dalam melakukan sesuatu. Lebih jauh, Kant, merangkumnya dalam implikasi kategoris yang berbunyi “Bertindaklah hanya menurut kaidah dengan mana Anda dapat sekaligus menghendaki supaya kaidah itu berlaku sebagai hukum universal”.

Implikasi kategoris Kant, sangat relevan diterapkan dalam suatu bangsa yang multikultural. Implikasi kategoris Kant, bertendensi timbulnya sikap toleransi terhadap perbedaan dalam diri setiap orang. Perbedaan yang ada dalam masyarakat dilihat sebagai kekayaan bersama, yang perlu dijaga dan diwariskan. Perbedaan bukan menjadi sumber konflik yang berujung pada situasi kehancuran, tetapi sumber perdamaian yang berujung pada keharmonisan dalam ikatan tali persaudaraan.

Pendidikan moral di era milenial tentunya harus dipadukan dengan perkembangan globalisasi yang sedang terjadi. Kreatifitas setiap agen dituntut mengingat kaum milenial harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Dalam hal ini, peran lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat sangat berpengaruh terhadap penanaman nilai moral.

Keluarga sebagai lingkungan pertama seorang individu mengenal dunia, harus mampu mengisi lembaran kosong (seorang individu) itu dengan nilai-nilai moral. Orang tua harus menjadi teladan bagi anak dalam berhubungan dengan orang lain dan mampu menjadi sumber kebahagian. Dalam lingkungan pendidikan, pendidik hendaknya bukan saja menekankan ilmu sains, pencapaian rasionalitas dan penguasaan materi pelajaran, tetapi mendorong peserta didik agar mampu memiliki moralitas yang mapan dengan menciptakan relasi yang harmonis. Pendidik harus menjadi contoh bagi peserta didik dalam membangun komunikasi dengan sesama.

Dalam lingkungan masyarakat luas, seorang individu dikonfrontasikan dengan berbagai keunikan dan perbedaan. Lingkungan yang menghargai keanekaragaman dengan sendirinya membentuk moralitas dalam diri seseorang. Lingkungan yang menunjukkan sikap toleransi terhadap perbedaan, mampu membuat individu memiliki sikap toleransi terhadap setiap perbedaan dalam masyarakat. Lingkungan yang baik dapat membentuk moral dan karakter seseorang menjadi baik.

Ketiga lingkungan ini harus mampu mentransferkan nilai moral dengan nilai pendidikan ilmiah secara seimbang. Kemajuan rasionalitas yang tidak diimbangi dengan kemapanan moralitas dalam diri seorang individu, hanya akan membawa bangsa pada jurang kehancuran. Dalam hal ini, lingkungan pendidikan memainkan peran yang sangat penting. Aspek moral harus dijadikan sebagai Kompetensi Dasar (KD) dalam kurikulum pendidikan nasional. Kemajuan rasionalitas yang diimbangi kemapanan moralitas, dapat membawa bangsa menuju gerbang cita-cita luhur bangsa pasca kemerdekaan, yaitu kesejahteraan bersama.

Pedidikan moral di era milenial tentunya mampu menyatukan perbedaan dalam diri bangsa Indonesia dalam bingkai kebersamaan. Kurikulum pendidikan nasional bangsa Indonesia sebagai bangsa multikultural menjadi tidak relevan, jika hanya menekankan pencapaian rasionalitas semata. Kurikulum pendidikan haruslah menekankan keseimbangan rasionalitas dan moralitas, sehingga segala perbedaan dipandang sebagai kekayaan bangsa. Di tengah kemajuan IPTEK sekarang ini, kaum milenial harus dibekali dengan pembentukan moralitas yang mapan, guna mememlihara keberagaman dan menyambut peradaban manusia setelah masa kini.

*Penulis; Mahasiswa STFK Ledalero, Semester VII.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 280 kali

Baca Lainnya