Gender

Senin, 12 Oktober 2020 - 04:20 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Yuliana Kurniawati, S.Pd. (Foto: Ilustrasi FEC Media)

Yuliana Kurniawati, S.Pd. (Foto: Ilustrasi FEC Media)

Wanita Mengenakan ‘Sapu’, Simbol Hilangnya Identitas Wanita

Oleh Yuliana Kurniawati, S.Pd*

Persoalan identitas merupakan isu sensitif yang sering kali dapat memicu reaksi-reaksi emosional. Berbicara tentang identitas suatu kelompok etnik tertentu, tampaknya dapat ditelusuri dari tradisi yang dimiliki oleh kelompok etnik bersangkutan (Giddens, 2003). Berkaitan dengan Identitas Wanita Manggarai dalam tulisan ini, dapat ditelusuri dari busana adat yang lazim digunakan di kepala wanita yaitu balibelo. Memakai, memberikan atau meletakkan balibelo di kepala wanita, adalah bentuk menghormati, menghargai wanita. Balibelo juga merupakan simbol keindahan, kemolekan ataupun kecantikan. Lebih jauh lagi, simbol ini tidak saja soal fisik, tapi tentang hati dan pikiran wanita. Mengenakan balibelo adalah simbol reinforcement identitas diri Wanita Manggarai. Reinforcement diartikan sebagai penguatan dan penerimaan suatu nilai budaya (balibelo sebagai simbol kecantikan wanita, baik fisik, hati maupun pikiran) yang dilestarikan dalam masyarakat karena dianggap baik.

Penguatan jati diri wanita dalam simbol budaya sangat penting. Apalagi, bila menjadi figur publik, dimana sekaligus berperan secara nyata melestarikan warisan budaya. Mengenakan sapu di kepala wanita, adalah bentuk tidak mengakui identitas wanita sebagai pemimpin. Bisa dikonotasikan bahwa hanya laki-laki yang memiliki rang jadi pemimpin. Dan apabila wanita menginginkan rang, maka wanita harus meminta rang yang disimbolkan dengan diberikan sapu dan wanita menggunakan sapu tersebut, dimana sapu itu sendiri adalah benda yang identik dengan laki-laki.

Bila kejadian ini diamini sebagai ritual ting rang, maka ritual ini bermakna terbalik, karena; 1. Simbol yang digunakan tidak menggambarkan identitas wanita, 2. Ada kesan bahwa rang itu bersumber dari laki-laki yang diberikan/diserahkan kepada wanita. Kejadian wanita memakai sapu dalam ritus ting rang sama-sama menunjukan evolusi budaya yang bermakna negatif.

Evolusi diartikan sebagai perubahan atau pergeseran budaya, yang dilukiskan antropolog sebagai proses perkembangan. Kejadian ini juga merupakan bentuk kemunduran cara berpikir. Kita seakan-akan mundur ke jaman sebelum merdeka, dimana kedudukan wanita tidak sejajar dengan laki-laki. Membaca keterlibatan wanita dalam kompetisi mencari pemimpin daerah tahun 2020 dan ritus wanita sesek sapu, seakan membenarkan ramalan, Huntington (2003), bahwa masa depan politik akan semakin mengarah kepada benturan kebudayaan dan isu-isu gender.

Penulis mengharapkan agar ritus perutusan wanita dalam politik, mengunakan simbol-simbol budaya yang mengakrabi hasrat politik wanita dengan simbol yang menggambarkan jati diri wanita. Hasrat sekaligus tanggung jawab yang ada dalam pundak Wanita Manggarai, harus menjadi basis identitas wanita dalam politik. Simbolisme dalam kultur budaya terhadap wanita, harusnya mengunggulkan keberadaan wanita yang unik, khas dan tidak tergantikan. Meletakkan sapu di kepala wanita, menegaskan pemikiran bahwa keberadaan wanita tidak sejajar dengan laki-laki. Wanita perlu dikenakan simbol kejantanan untuk bisa dipandang sejajar dengan laki-laki. Padahal, keterlibatan wanita dalam politik adalah sumber kekuatan yang utuh. Laki-laki dan wanita ada bersama, berdiri sejajar dalam bidang politik pun bidang kehidupan lainnya. Dalam pergulatan identitas ini, harusnya penyematan simbol tidak bermakna wanita kehilangan identitasnya, melainkan ada rahim saling melengkapi yang semakin sempurna.

Jadi, penulis ingin merumuskan sebuah keyakinan dan pendirian hipotetik, bahwa keterlibatan wanita dalam politik menunjukkan bahwa kedudukan wanita sepadan dengan laki-laki. Keyakinan hipotetik ini juga bagian dari peneguhan diri maupun bentuk saling meneguhkan sebagai kaum wanita, terhadap pikiran menyakitkan bahwa dalam konteks kepemimpinan maupun politik, laki-laki berlaku dominan terhadap wanita. Wanita harus berkorban menaggalkan identitas diri dan disematkan identitas keperkasaan pria, agar dipandang layak jadi pemimpin.

Keterkurungan dalam ritual yang menegaskan kejantanan dan keperkasaan pria dalam politik, sebagai kekuatan yang melampaui keberadaan perempuan, sontak memunculkan kekecewaan, penolakan dan evaluasi yang tersurat dalam protes spontan yang dilayangkan terhadap kejadian penyematan sapu di kepala wanita, seketika viral di dunia maya beberapa hari terakhir. Karena kita dibesarkan dalam runtutan tradisi yang begitu kuat tertanam dalam benak kita, sebagai sumur peradaban yang tidak pernah kering.

Menguatnya tren gender, memacu hasrat untuk menegaskan keunikan wanita atau yang disebut dengan penguatan jati diri wanita. Wanita benar-benar dipandang sepadan berkompetisi bersama laki-laki untuk menjadi pemimpin. Karena itu, balibelo sebagai simbol keindahan wanita dari fisik, hati maupun cara berpikir yang diejawantahkan dalam gaya wanita ketika menjadi pemimpin, sangat pas untuk dilestarikan sebagai pusaka budaya. Jadi, ritus wanita sesek sapu adalah simbol hilangnya identitas wanita sebagai individu yang sepadan bersanding dengan laki-laki sebagai pemimpin.

*Penulis; PNS Pemda Mabar/Mahasiswi Pascasarjana Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 1311 kali

Baca Lainnya