Kesehatan Sosial

Rabu, 23 September 2020 - 11:09 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Riko Raden. (Foto Ilustrasi FEC Media)

Riko Raden. (Foto Ilustrasi FEC Media)

Solidaritas Manusia di Tengah Virus Corona

Oleh Riko Raden

Kita sedang hidup dalam dunia yang tidak aman dan damai. Kita disergap oleh perasaan cemas dan takut, karena wabah virus corona. Ini sungguh pengalaman kelam akan dunai saat ini. Peristiwa virus corona ini, membawa begitu banyak korban harta dan nyawa. Dunia penuh dengan keborokan dan ribuan nyawa manusia telah dimusnahkan. Kita sekarang dalam situasi gelap.

Manusia kembali terkurung ke dalam diri dan tertutup dengan kehadiran orang lain. Sebab virus corona ini bisa terjangkit melalui sentuhan orang lain. Keberadaan orang lain seperti yang dikatakan, Emmanuel Levinas, sebagai kehadiran Tuhan, rupanya tak berlaku lagi dalam situasi sekarang. Dalam situasi gelap ini, manusia kadang berpikir bahwa Tuhan telah mati, seperti dikatakan, Friedrich Nietzsche. Katanya, Allah membuat manusia menjadi kerdil dan mengkorupsikan moralitasnya. Allah itu dipasang sebagai kebenaran, dan dengan demikian membuat manusia tenggelam dalam kebohongan (Frans Magnis Suseno, 2006:77).

Berbagai macam pertanyaan tentang Tuhan pun lahir dari setiap akal manusia. Apakah Tuhan ada? Dimanakah Ia berada sekarang? Mengapa Ia tidak datang? Pertanyaan seperti ini menjadi momok manusia yang dilanda ketakutan virus corona ini. Eksistensi Tuhan pun terus digugat.

Namun, apapun kejahatan dan keburukan dunia saat ini, kita masih percaya dan yakin, Dia tetap ada bersama kita. Tuhan adalah tumpuan dan harapan segalanya bagi manusia. Perasaan tidak nyaman karena malapetaka, serta keraguan dan pemberontakan Tuhan karena ketidakmampuan atau ketidakmauan-Nya untuk mencegah kejahatan, menjadi alasan munculnya manusia berpikir seperti ini.

Apapun penderitaan yang dialami oleh dunia, manusia yang percaya akan adanya Tuhan, masih yakin bahwa Tuhan masih mencintai manusia. Seperti yang dikatakan oleh Filsuf Inggris, Alfred North Whitehead, bahwa Tuhan bukanlah penyebab segala sesuatu dari ketiadaan dan penentu satu-satunya perjalanan sejarah dunia. Ia adalah prinsip utama pembatasan dengan memberi kerangka tatanan dan orientasi pada dunia untuk berkembang kebobot hidup yang lebih tinggi, serta menjadi sahabat sependeritaan dan sepenanggungan bagi dunia yang ditimpa malapetaka.

Dalama hal ini, Whitehead, menunjukkan bahwa kejahatan merupakan tanggung jawab kosmik setiap subjek. Setiap subjek menciptakan diri mereka sendiri secara bebas dan otonom, sementara Tuhan adalah pemberi kerangka umum bagi proses penciptaan diri itu secara persuasif, agar harmoni kosmik itu mungkin.

Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa penderitaan dunia bukanlah karena Tuhan tidak ada, melainkan subjek (manusia) itu sendiri yang merusak dunianya sendiri. Tuhan tetap ada dan Dia selalu ada bersama manusia. Tugas manusia dalam situasi pandemi ini, adalah solider dengan sesama ciptaan. Dari opini sederhana ini, saya ingin berbicara sepenuhnya tentang manusia sebagai makhluk sosial, manusia yang solider dengan penderitaan sesama, manusia yang tahu bahwa sesamanya merupakan epifani wajah Tuhan yang hadir di tengah dunia.

Eksistensi Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang sangat membutuhkan orang lain disekitarnya. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan kebersamaan dalam hidupnya. Semua itu, dalam rangka saling memberi dan saling mengambil manfaat. Aristoteles mengkategorikan manusia ke dalam “Zoon Politicon”, berarti makhluk yang ingin selalu bergaul dan berkumpul. Jadi, manusia adalah makhluk yang bermasyarakat. Oleh karena sifat suka bergaul itulah, manusia dikenal sebagai makhluk sosial.

Sebagai makhluk sosial, manusia harus terbuka dan hidup di tengah orang lain. Kita hanya bisa mengerti bahwa hidup itu indah, apabila hidup bersama orang lain. Keberadaan orang lain merupakan keberadaan diri kita juga. Kita sadar bahwa keberadaan diri kita belum sepenuhnya sempurna, bahkan tidak akan menjadi sempurna. Oleh karena itu, dengan adanya orang lain, hidup kita penuh dengan kekayaan karena mereka dapat menilai baik buruk tentang hidup kita.

Kita bisa mengerti kehadiran orang lain melalui komunikasi atau sekadar bincang-bincang tanpa konflik dengan sesama manusia. Kita menyadari bahwa melalui cara ini, pihak yang satu (orang lain) dapat berkomunikasi dengan pihak yang lain atau diri kita sendiri. Dalam berkomunikasi dengan orang lain, maka ketulusan hati untuk terbuka terhadap masukan dari orang lain, harus diutamakan.

Berkomunikasi dengan tulus, percakapan yang ikhlas dan saling pengertian merupakan kesempatan untuk melahirkan pemaknaan tentang dunia bersama yang lebih baik. Yang paling penting dan tentu menjadi persyaratan utama, adalah masing-masing pihak harus sama-sama mengkomunikasikan diri melalui persuasi dan retorika yang tulus, jujur dan terbuka. Ini semua terjadi di ruang publik. Ruang publik adalah tempat segala sentimen, afeksi, cita rasa dan emosi. Ruang publik bisa saja ada apabila keberadaan manusia sebagai makhluk sosial terbuka untuk orang lain.

Ditengah wabah virus corona ini, dimana manusia harus kembali ke dalam diri dan melindungi dirinya dari orang lain. Artinya, manusia dalam hal ini tidak membutuhkan sesamanya lagi, sebab virus corona bisa terjangkit melalui orang lain. Kita pun lantas bertanya, apakah keberadaan manusia masih membutuhkan orang lain? Jika tidak, bagaimana dengan konsep eksistensi manusia sebagai makhluk sosial? Hemat saya, apapun situasi yang dialami oleh manusia saat ini, eksistensinya sebagai makhluk sosial tidak bisa diabaikan begitu saja.

Kedatangan virus corona bukan menjadi penghalang manusia untuk tidak berelasi dengan sesamanya. Justru sebaliknya, kita ditantang apakah keberadaan kita sebagai makhluk sosial benar-benar terwujud dalam situasi seperti ini. Kehadiran virus corona di tengah kita sekarang ini mengajak kita untuk kembali solider dan bertanggung jawab terhadap sesama kita. Kita diajak untuk ikut mengambil bagian dalam penderitaan orang lain.

Kalau kita belajar dari pengalaman selama ini, terdapat banyak fakta dimana manusia kadang memperlakukan sesamanya sebagai binatang. Media Flores Pos pada 15 Mei 2020, menurunkan sebuah berita tentang Ditelantar 18 Hari di Karantian Terpusat Stadion Marilonga, Akhirnya Bapak ini Meninggal Dunia. Penyebab kematian seorang Bapak ini, karena Pemda Ende dalam hal ini Dinas Sosial menelantarkannya, hingga menghembuskan napas terakhir. Berita yang diturunkan oleh media ini, seorang Bapak ini diduga bukan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona, melainkan diduga mengalami gangguan jiwa dan stroke. Tubuh bagian kanan tidak bisa bergerak dan lesu.

Melihat peristiwa ini, Pemerintah Kabupaten Ende secara tidak langsung mengabaikan hak hidup orang lain teristimewa yang terpinggirkan. Padahalnya, Pemerintah Ende wajib memperhatikan hak hidup warganya, baik yang miskin maupun yang kaya. Rupanya, Pemerintah Ende membiarkan seorang Bapak ini meninggal dunia. Sungguh malang nasib seorang Bapak ini, meninggalkan dunia tanpa adanya rasa kasihan dari pihak yang bertanggung jawab atas sesama manusia.

Kita belajar dari pengalaman di atas, agar tidak seenaknya menghakimi orang lain menurut nalar kita sendiri. Kasus di atas menyadarkan kita akan pentingnya solidaritas ditengah situasi sekarang ini. Solidaritas adalah rasa kesatuan kepentingan dan rasa simpati terhadap sesama. Memiliki solidaritas adalah hal yang sangat indah, mengingat kita sebagai makhluk sosial yang berarti tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan bantuan dari orang lain.

Manusia di dunia ini tidak ada yang hidup dalam kesendirian, manusia akan hidup dalam kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat atau lingkungan. Manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain. Oleh karena itu, manusia tidak dapat dan tidak boleh diperlakukan seperti objek-objek lainnya. Ia harus dihormati dan dihargai apa adanya, sesuai dengan martabatnya. Keunikan dalam dirinya harus kita akui dan harus dijunjung tinggi.

Di tengah wabah virus corona ini, yang membuat manusia tak bisa berdaya, tentunya solidaritas di antara manusia, harus diterapkan. Ada begitu banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan pendapat ekonomi dalam keluarga pun semakin berkurang. Virus corona ini membuat segalanya berubah. Yang dekat menjadi jauh, dan yang jauh semakin dijauhkan. Sebab virus corona bisa tertular melalui kedekatan fisik. Oleh karena itu, sikap jaga jarak harus diterapkan demi keselamatan bersama. Namun, apabila kita kembali kepada eksistensi manusia sebagai makhluk terbuka terhadap orang lain, apakah kita membiarkan begitu saja penderitaan yang dialami orang lain seperti kematian seroang Bapak di atas.

Bagaimana konsep awal bahwa kehadiran orang lain sangat berarti dalam hidup kita. Kehidupan yang baik bisa saja terjadi apabila kita terjun bersama orang lain, membagi pengalaman baik suka maupun duka, sebab dari sanalah tumbuh begitu banyak kekayaan untuk hidup kita.

Hemat saya, apapun yang terjadi sekarang, konsep solidaritas itu bisa dilakukan dengan baik. Kita tidak bisa mengabaikan instruksi dari pemerintah untuk jaga jarak, sebab dengan jaga jarak, kehidupan kita dan orang lain tetap aman.

Akan tetapi, solidaritas di tengah virus corona ini perlu kita lakukan terhadap sesama, khususnya bagi mereka yang kurang diperhatikan dan selalu diabaikan. Solidaritas itu bisa diterapkan melalui bantuan kita, seperti memberikan sembako bagi keluarga yang kekurangan dan senyuman bagi mereka yang menderita. Dengan melakukan hal seperti ini, maka konsep manusia tentang keberadaan orang lain bisa terwujud dalam ruang yang terbuka dan bebas. Atau dalam bahasa, Emanuel Levinas, wajah orang lain bukan sekadar sebuh fenomena dalam dunia, melainkan sebuah endigma yang tidak dapat diintegrasikan dalam tatanan dunia ini. Karena setiap manusia adalah Jejak Yang Tak Terbatas.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 386 kali

Baca Lainnya