Menu

Mode Gelap
 

Politik · 16 Agu 2020 14:59 WIT ·

Albert Tion dan Pesan Menjelang Pesta Demokrasi


 Occe Idaman. (Foto: Ilustrasi/FEC Media) Perbesar

Occe Idaman. (Foto: Ilustrasi/FEC Media)

Oleh Occe Idaman*

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah berita di salah satu media online, yakni Posflores.com. Media ini mempublikasikan sebuah berita tentang seorang tokoh masyarakat bernama, Albert Tion, yang berinisiatif membuka dan membangun jalan rabat beton untuk kemudian menjadi penghubung antara Kampung Purang Mese, Desa Compang Ndejing dan Kampung Pate Kaca, Desa Bea Ngencung (Posflores.com, 13/7/2020).

Beberapa kesan positif saya terima dari berita itu yakni, pertama, Albert Tion, atas inisiatifnya sendiri membangun jalan rabat yang menghubungkan dua kampung dari dua desa yang berbeda. Kedua, Albert Tion, menggunakan dana pribadi sebesar Rp 15.000.000 untuk pengerjaan jalan yang jaraknya ditargetkan kira-kira 500 meter. Ketiga, Albert Tion, memediasi sekelompok warga Desa Bea Ngencung untuk bersama-sama membangun jalan rabat. Keempat, untuk sebagian masyarakat yang pro pembangunan infrastruktur, menilai aksi, Albert Tion, merupakan sebuah kritikan bagi para pemimpin di wilayahnya.

Beberapa kesan di atas mencuat cukup kuat dalam diri saya. Bukan hanya itu. Kesan-kesan yang saya peroleh pasca membaca berita itu, mengharuskan saya mempublikasikan beberapa buah pikiran yang mungkin berguna untuk dibaca dan tentunya sangat mungkin dikritisi. Sebab bagaimanapun, ini hanyalah sebuah opini yang selalu memiliki peluang untuk ditanggapi dan dikritisi.

Begini, salah satu virus klasik yang selalu tampak milenial adalah pura-pura tuli. Tidak sedikit dari sekian banyak pemimpin yang berkuasa saat ini bertelinga tuli. Mereka pura-pura tidak mendengar beberapa aspirasi yang sifatnya substantif dari rakyatnya. Lalu, ada dari antara pemimpin yang bersikap tebang pilih dalam menjalankan roda kepemerintahannya. Sungguh, ini sebuah kebrutalan yang cukup keji.

Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta, Soe’an Hadi Purnomo, pernah menulis artikel. Salah satu alinea artikelnya bertulis, “Perilaku kepemimpinan yang baik adalah yang berorientasi kepada dua arah sekaligus, yakni goal oriented dan member oriented. (Forumkeadilan.com, diakses 27 Juli 2020).

Saya ingin membagikan beberapa butir pikiran berdasarkan dua perilaku ideal yang mesti dimiliki seorang pemimpin, seperti yang ditulis Pengurus Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) di atas.

Pertama, “goal oriented”. Seorang pemimpin harus paham tentang tujuan dari sebuah organisasi (masyarakat, red). Salah satu tujuan yang seringkali dibicarakan dan merupakan semboyan yang kerap kali disuarakan para calon pemimpin, dimana tujuan pemimpin adalah menyejahterakan masyarakat. Pernyataan menyejahterakan masyarakat memang cukup problematis ketika berhadapan dengan fakta yang menunjukkan ketimpangan dari pihak pimpinan daerah dalam mengatur dan menerapkan proyek pembangunan di wilayahnya. Misi menyejahterakan masyarakat layak dipertanyakan saat seorang pemimpin tidak mempertimbangkan pembangunan infrastruktur dan suprastruktur yang seimbang dan merata untuk semua daerah.

Kedua, “member oriented”. Seorang pemimpin yang baik selalu mendengarkan keluhan para anggotanya sekaligus memperhatikan dan memenuhi kebutuhan mereka. Nah, ketika seorang pemimpin melakukan tindakan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), lalu apa yang mereka berikan untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya? Yang terjadi, rakyat miskin tetap miskin. Konsekuensi logis atas ulah itu adalah semakin renggangnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Dua perilaku ideal sebagaimana yang telah disebutkan di atas, merupakan tuntutan mendesak bagi para pemimpin dan para calon pemimpin dewasa ini. Pasalnya, tidak sedikit dari jumlah pemimpin yang telah dan sementara berkuasa saat ini menampilkan sikap dan perilaku yang meresahkan masyarakat.

Betapa tidak, ada beberapa pejabat publik dari tingkat lokal hingga nasional yang menciderai hak rakyat dengan mencuri apa yang sebenarnya diterima dan dimiliki oleh rakyat yang mereka pimpin. Berbagai bentuk aksi KKN yang kian marak seakan-akan menjadi menu harian mereka. Lalu, kebiasaan buruk para pemimpin yang bersikap tebang pilih menjalankan aktivitas proyek pembangunan masih saja tampak hingga kini. Giat untuk memperkaya diri sendiri kini menjadi tabiat yang dianggap normal.

Tidak lama lagi, beberapa wilayah yang bertebaran dari Sabang hingga Merauke akan mementaskan suatu pesta akbar, pesta demokrasi sebagai salah satu media yang mengungkapkan keterlibatan rakyat, guna menentukan arah dan tujuan negara ke depannya. Beberapa wilayah atau daerah yang tidak lama lagi menjalankan ajang penentuan nasib rakyat lima tahun ke depan itu terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam hubungannya dengan itu, saya ingin mengatakan beberapa hal; Pertama, seorang calon pemimpin adalah dia yang memiliki sekurang-kurangnya dua perilaku ideal sebagaimana yang digambarkan, Soe’an Hadi Purnomo, yaitu orang yang memiliki orientasi atau tujuan yang terarah, akomodir, dan realistis.

Seorang pemimpin juga adalah sosok yang senantiasa menyendengkan telinganya mendengarkan keluhan rakyatnya dan karena itu menuntut dia untuk mengutamakan kebutuhan mereka.

Seorang pemimpin harus menghindari diri dari tabiat-tabiat pribadi yang melenceng dari koridor kebijakan publik.

Kedua, belajar dari sikap seorang, Albert Tion. Seorang pemimpin adalah dia yang sanggup menganimasi warga, bukan memecah-belah apalagi membelenggu mereka dengan tindakan memperkaya diri sendiri, memprioritaskan keluarga sendiri atau malah bergandeng tangan dengan para investor untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan-kekayaan masyarakat apa pun bentuk dalilnya.

Seorang pemimpin adalah sosok yang bersikap peka dengan berbagai bentuk keluhan dan keresahan warganya. Ia mesti berada di posisi warganya dan bukan berdampingan dengan para penguasa yang berpotensi membuka ruang pemisah antara yang kaya dan yang miskin, antara yang kapitalis dan yang proletariat.

Seorang pemimpin juga adalah sosok yang rela memberi. Barangkali tidak semua pemimpin sanggup memberi apa yang dimilikinya untuk kepentingan umum dan kebaikan bersama seperti yang telah dilakukan, Albert Tion, di daerahnya, tetapi sekurang-kurangnya dia harus menggunakan uang negara secara baik untuk kepentingan rakyat bukan merampas uang itu dan dimasukkan ke dalam kantong pribadi.

Ketiga, untuk kalian yang menamakan diri sebagai calon pemilih pada pesta demokrasi kelak, berpikirlah secara kritis dan bersikaplah secara selektif. Maksudnya, kalian tidak boleh dipengaruhi berbagai bentuk iming-iming yang sifatnya sesat. Barangkali, ada para pemimpin daerah sekarang yang akan maju lagi dalam kontestasi politik periode berikutnya, baiklah jika kalian bersikap jeli melihat track record-nya. Andaikan dalam masa pemerintahannya selama ini ada berbagai bentuk kejanggalan, kepincangan, dan sikap tidak adil yang dilakukan terhadap warga di masing-masing daerah, janganlah memilih dia (mereka) lagi untuk memimpin pada periode berikutnya.

Kemudian, jika praktik KKN pernah mewarnai kursi kepemimpinannya, pilihlah pemimpin yang baru. Pemimpin lama tidak berarti berpengalaman dan calon pemimpin baru tidak serta-merta tidak tahu apa-apa, sebab kadang pemimpin baru menelurkan benih-benih ide pembaruan.

*Penulis; Mahasiswa Pascasarjana di STFK Ledalero.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 131 kali

Baca Lainnya

Perindo Mabar dan Pilkada 2024

28 September 2021 - 05:17 WIT

Pilkada Era Media Sosial

16 Oktober 2020 - 09:36 WIT

Modal Pertarungan Pilkada 2020

8 September 2020 - 09:49 WIT

Melacak Rekam Jejak Calon Pemimpin Mabar

9 Agustus 2020 - 15:02 WIT

Bukan Jual Gelar, Tetapi ‘Gagasan’

17 Juli 2020 - 00:38 WIT

Mereka Hendak ke Mana? (Urgensi Ritual ‘Wuat Wa’i Politik’ di Tengah Pandemi Covid-19)

14 Juli 2020 - 19:47 WIT

Trending di Manggarai Barat