Menu

Mode Gelap
 

Manggarai Barat · 28 Jul 2020 18:30 WIT ·

Menakar Brand “Super Premium” & Pariwisata Berkelanjutan di Labuan Bajo


 Yohanes Budiono. (Foto: Ilustrasi FEC Media) Perbesar

Yohanes Budiono. (Foto: Ilustrasi FEC Media)

Oleh Yohanes Budiono*

Brand pariwisata “super premium” di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat masih menjadi topik hangat dibicarakan berbagai kalangan. Sebab, belum dapat dipastikan ke mana arah pelabelan “super premium” tersebut nantinya. Negara (baca; pemerintah) dengan semangat membangun infrastruktur di Labuan Bajo demi tercapainya agenda pariwisata “super premium” tersebut. Baca floreseditorial.com edisi Rabu 22 Juli 2020.

Dalam hal ini, kita tentu mengapresiasi kebijakan pemerintah bahwa “super premium” bermanfaat bagi semua orang, baik secara ekonomi, sosial, budaya dan manfaat lainnya.

Pengelolaan pariwisata “super premium” adalah pekerjaan besar. Karena itu, pengelolaannya juga harus “super kreatif”. Dengan brand super premium, tentu banyak orang antusias dan bahagia bahwa Labuan Bajo akan menjadi Kota Internasional. Hadirnya industri pariwisata itu tentu memiliki dampak positif maupun negatif, tergantung ke mana pariwisata itu diarahkan.

Banyak orang yang khawatir akan industri tourism ini dengan berbagai macam pertimbangan. Satu hal yang menjadi kekhawatiran masyarakat adalah konsep “pariwisata berkelanjutan”. Salah satu unsur penting dari pariwisata adalah “kualitas lingkungan”. Apalagi ikon pariwisata Labuan Bajo adalah Taman Nasional Komodo (TNK), habitat asli binatang purba, Komodo. Selain itu, didukung wisata bahari yang begitu memukau. Jelas tanggung jawab keberlanjutannya lebih kompleks. Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Gili Motang, Nusa Kode dan beberapa pulau lainnya adalah habitat asli binatang purba, Komodo.

Pada 18 Juli 2020, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memposting foto di halaman Facebook tentang pengembangan wisata alam di Pulau Rinca. Adapun keterangan foto Kementerian PUPR, memberi dukungan pembangunan infrastruktur jalan gertak, penginapan petugas, pusat informasi, pos istrahat dan pos jaga, Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) serta pengamanan pantai dan dermaga di Pulau Rinca.

Postingan tersebut menuai tanggapan beragam netizen (pro-kontra). Atas dasar “membangun fasilitas” di kawasan TNK (Pulau Rinca) ada sebagian orang yang meradang, dan menilai bahwa fasilitas-fasilitas tersebut akan mengganggu habitat asli dan ekosistem yang ada.

Hemat penulis, fasilitas yang dibangun Kementerian PUPR ‘disetujui’ semua stakeholder terkait dan masyarakat umumnya. Namun, apakah tidak ada fasilitas ikutan seperti hotel, restaurant, art shop dan lainnya yang akan dibangun di kawasan TNK? Harapannya, semoga tidak ada. Lalu bagaimana jika itu terjadi nantinya?

Brand “Super Premium” apakah dilihat dari lengkapnya fasilitas di TNK atau karena TNK apa adanya? Menurut penulis, TNK itu The Special One, bahwa orang datang ke TNK bukan untuk melihat bangunan-banguan megah, fasilitas-fasilitas modern. Tapi, melihat habitat asli hewan purba tersebut dan segala ekosistem yang ada di TNK.

Terkait pembangunan di TNK (baca; di Pulau Rinca), penulis teringat kembali pada sebuah lagu yang diciptakan Toni Q Rastafara yang di-released 24/1/2015 berjudul “Si Liar” (https://www.youtube.com/watch?v=6OOrAMFhewE).

Lagu tersebut masih relevan jika dikaitkan dengan pembangunan fasilitas di Pulau Rinca. Maka untuk keutuhan tulisan, penulis lampirkan lirik lengkapnya.

Nyanyian satwa liar
Mengalun sepi
Terusik polusi dan topan modernisasi
Sesaknya nafas kita
Melengkapi sudah
Tumbangnya pohon
Tumbuhnya beton
Bersamaan
Nyanyian ikan di kaca kecil
Bersamaan
Kicau burung
Di balik jeruji
Si liar
Tersingkirkan
Mereka tak lagi menyapa
Mati
Menghilang pergi
Mereka tinggal sisa-sisa
Lari
Tinggal kita
Dan anak cucu merajuk sepi
Tinggal kita
Berebut tempat untuk berteduh
Dia hanya ada
Di alam impian
Dia hanya ada
Di alam impian
Si liar
Tersingkirkan
Si liar

Pada akhirnya, brand pariwisata “Super Premium” tidak akan berguna jika tidak diperhatikan keberlanjutannya (suinstainable tourism). Salah satu unsur penting dari pariwisata adalah “kualitas lingkungan” apalagi dengan ikon ‘Komodo’, jelas tanggung jawabnya lebih kompleks. Semoga brand ‘super premium’ benar-benar mengimplementasikan ‘suinstainable tourism‘.

Mari bersama membedah pariwisata kita dan ke mana pariwisata ini diarahkan agar tidak ada penyesalan di hari yang akan datang.

*Penulis; Mahasiswa STIPAR Triatma Jaya Bali.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 419 kali

Baca Lainnya

Membaca ‘Misi Politik’ Paslon Maria-Sil

4 November 2020 - 09:00 WIT

Membaca ‘Misi Politik’ Paslon Edi-Weng

3 November 2020 - 13:37 WIT

Pilkada Era Media Sosial

16 Oktober 2020 - 09:36 WIT

Melacak Rekam Jejak Calon Pemimpin Mabar

9 Agustus 2020 - 15:02 WIT

Birokrasi Rumah Sakit: Ujian Kesabaran!

18 Juli 2020 - 15:06 WIT

Bukan Jual Gelar, Tetapi ‘Gagasan’

17 Juli 2020 - 00:38 WIT

Trending di Manggarai Barat