Manggarai Barat Politik

Jumat, 17 Juli 2020 - 00:38 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Sil Joni. (Foto: Ilustrasi FEC Media)

Sil Joni. (Foto: Ilustrasi FEC Media)

Bukan Jual Gelar, Tetapi ‘Gagasan’

Oleh Sil Joni*

Kontestasi ide, gagasan, konsep, dan narasi brilian membangun Mabar ‘belum bergulir’ dalam panggung politik lokal. Publik hanya menonton, membaca ‘narasi dan deskripsi’ yang bersifat superfisial terhadap bakal kontestan yang berlaga dalam Pilkada Mabar 9 Desember 2020. Para broker politik dengan mulut berbusa-busa membentangkan ‘sejumlah atribut personal’ yang melekat dalam tubuh kandidat. Mulai dari gelar akademik, pangkat politik, hingga tampilan fisik.

Kualitas atributif seperti itu sebenarnya tidak terlalu berdampak pada upaya pemanifestasian idealisme peningkatan kemaslahatan publik di Mabar. Gelar akademik tinggi tidak menjadi garansi ‘hadirnya kepemimpinan’ yang berkontribusi pada akselerasi pengartikulasian mimpi kesejahteraan publik tersebut. Demikian pun dengan ‘pangkat politik’ dan tampilan fisik para calon, sama sekali bukan ‘isu kunci’ tampilnya seorang pemimpin yang bermutu. Kualitas leadership, teknis-politis, dan etis yang menjadi ‘prasyarat dasar’ terwujudnya perubahan politik, tidak berhubungan dengan atribut yang menempel pada figur itu.

Pasar politik lokal masih disesaki ‘produk politik murahan’ semacam itu. Para pedagang politik coba ‘merayu konsumen politik’ dengan menawarkan dagangan yang sama sekali tidak bermutu. Publik sebetulnya mengharapkan para calo politik itu sedari awal menyuguhkan hasil ‘masakan politik yang gurih’ dari para paket itu. Mereka mesti ‘mengolah dan meracik’ secara kreatif gagasan, ide, atau konsep dari para pedamba kuasa itu untuk dipajang di ruang publik. Biarkan publik yang menimbang secara rasional kira-kira produk gagasan mana yang lebih relevan, kontekstual, tepat sasar atau menjawabi pelbagai permasalahan aktual saat ini.

Kita masih mengandalkan cara murahan untuk ‘menggaet simpati voters’. Saya tidak tahu entah kapan para kandidat dan tim pemenangan mereka ‘membentangkan’ apa yang menjadi ‘resep-resep kunci’ dalam menata Mabar lima tahun ke depan. Hemat saya, semestinya para kandidat lebih banyak menggunakan waktu untuk berpikir dan menyusun konsep pembangunan politis yang mengacu pada kebutuhan dan situasi faktual di kabupaten ini.

Apa artinya kita ‘mengagung-agungkan’ titel akademik, pangkat politik, karier politik di level pusat, dan tubuh politik yang energik, jika tidak terejawantah dalam gagasan pembangunan yang cerdas dan brilian? Yang kita butuhkan sebenarnya bukan narasi bombastis semacam itu, tetapi ‘buah permenungan’ para kandidat itu berdasarkan pembacaan terhadap konteks dinamika dan realita sosial politik di kabupaten ini.

Tujuan kita berkontestasi, hemat saya, bukan pertama-tama ‘mengumpul suara melalui cara manipulatif’, tetapi memperlihatkan ketulusan hati dan kejernihan pikiran dalam membangun atau menata kabupaten ini. Mabar sebetulnya tidak membutuhkan sosok calon yang bersolek ria dengan gelar akademik, kelebihan personal, pangkat politik yang mentereng, debut politik di tingkat nasional, dan selebrasi tampilan fisik yang menawan, tetapi figur yang ‘low profile‘ dan sungguh-sungguh mendarmakan kapasitasnya untuk kemajuan daerah ini, yang terbaca dari rumusan konsep atau gagasan yang ditawarkan ke publik saat ini.

Karena itu, kita berharap para pedagang politik dan para petarung politik, lekas terjaga seraya ‘memberi ruang dan peluang’ bagi publik menguji atau mengevaluasi konsep-konsep politik yang dapat diterapkan ketika mereka mendapat legitimasi menahkodai kabupaten ini. Dengan itu, kerinduan kita mendapat pemimpin politik yang berkualitas dan diandalkan, dapat terwujud dalam kontestasi Pilkada Mabar 2020.

*Penulis; Pemerhati masalah sosial dan politik.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 423 kali

Baca Lainnya