Menu

Mode Gelap
 

Manggarai · 30 Jun 2020 18:25 WIT ·

Nenggo: Ungkapan Jati Diri


 Foto: Ilustrasi (net) Perbesar

Foto: Ilustrasi (net)

Oleh Nardi Virgo*

Dalam musik, unsur etika dan estetika merupakan hal yang diperhatikan seorang komponis dalam menyusun lagu-lagunya. Unsur-unsur itu acap kali kurang dipahami pendengar atau penikmatnya. Ini beralasan, itu bukan wilayahnya.

Saya bangga jadi bagian penikmat musik Indonesia. lebih dari itu, saya bisa mengambil bagian di dalamnya. Dengan kemampuan sederhana mencoba melestarikan lagu-lagu lokal. Terutama ‘nenggo’ di Manggarai-NTT.

Saya sangat dekat dengan nenggo. Beralasan, saya sulit menyanyikan lagu-lagu pop. Tapi entah mengapa, saya lebih suka menyanyikan lagu nenggo. Jika menyanyikan lagu ini, suasan batin saya nyaman. Alunan lagu juga mengalir.

Banyak hal saya rasakan ketika menyanyikan lagu nenggo. Pertama, percaya diri. Nenggo, rasa percaya diri muncul dengan sendirinya. Kedua, kesesuaian.

Dua hal itu melahirkan nilai etika dan estetika di saat bernyanyi. Nilai etika itu berupa ketepatan situasi, ketepatan kata, dan ketepatan ucapan. Kita tidak menyinggung perasaan orang lain. Sedangkan nilai estetikanya, munculnya ekspresi senyum, senang dari pendengar terhadap isi lagunya.

Ketika kita memperhatikan secara baik kedua nilai etika dan estetika dalam bernyanyi, maka yang muncul adalah kebahagiaan.

Apa yang menarik dalam nenggo? Hal yang menarik adalah kesesuaian dan ketepatan, hubungan kata atau goet. Contoh ungkapan goet; “eme wakak betong asa ga, eme wakak betong asa go, ou o lando ew, eme wakak betong asa de manga wake nipu tae ga, o ae i embong lando ga, embong lando, ao ema neka ngaok ew”. Frase eme wakak betong asa harus berpasangan dengan manga wake nipu tae. Mengapa? Karena ungkapan ini mau menjelaskan tentang keberlangsungan hidup masyarakat Manggarai. Bahwa jika nanti orang tua meninggal, ada anak yang akan melanjutkan generasinya.

Go’et lain adalah, waken celer ngger wa, saung bembang ngger eta. Frase pertama menjelaskan kekuatan akar untuk mencari makanan. Dan frase kedua adalah rindangnya daun-daunan menjulur keatas. Kesesuaian ungkapan dalam lirik nenggo seperti inilah yang menjadi daya tarik tersendiri. Pendengar atau orang tua bisa menilai maksud dari isi ungkapan itu. Namun kalau tidak sesuai maka akan menimbulkan makna ambigu.

Menyanyikan nenggo, bisa diambil dari lirik lagu danding. Danding dan nenggo tentu sudah berbeda bentuknya. Danding dinyanyikan dalam bentuk lingkaran regu yaitu pria dan wanita. Selama kita danding, kita selalu berada dalam lingkaran sambil berpindah posisi dengan hentakan kaki yang sesuai irama lagunya. Irama lagu danding ada yang lambat, sedang dan cepat.

Sedangkan lagu nenggo, tidak disertai dengan gerakan mengikuti irama atau lirik lagu. Lirik lagu merupakan susunan atau rangkaian kata yang bernada. Lirik lagu memang tidak semudah meyusun karangan, namun dapat diperoleh dari berbagai inspirasi. Misalnya, pengalaman jatuh cinta, sedih dan bahagia. Lirik lagu muncul ketika kita memikirkan suatu hal, hanya saja apa yang kita pikirkan itu tidak diiringi dengan nada dan irama.

Secara lebih luas, lirik lagu merupakan ekspresi seseorang tentang suatu hal yang sudah dilihat, didengar, atau dialaminya. Dalam mengekspresikan pengalamannya, penyair atau pencipta lagu melakukan permainan kata-kata atau bahasa untuk menciptakan daya tarik terhadap lirik atau syairnya.

Permainan bahasa ini dapat berupa permainan olah vokal, gaya bahasa maupun penyimpangan makna kata yang diperkuat dengan penggunaan melodi dan notasi musik sesuai lirik lagunya, sehingga pendengar semakin terbawa dengan apa yang dipikirkan pengarangnya.

Wallek dan Warren, 1989, menjelaskan bahwa karena sifat yang ambigu dan penuh dengan ekspresi, menyebabkan bahasa sastra cenderung mempengaruhi, membujuk dan pada akhirnya mengubah sikap pembaca. Hubungan antara unsur musik dengan unsur syair atau lirik lagu merupakan salah satu bentuk komunikasi massa dari lagu yang terbentuk dan lagu oleh komunikator kepada komunikan dalam jumlah yang besar melalui media penyampaian.

Melalui lirik lagu, mengandung pesan lisan dan kalimat-kalimat berfungsi menciptakan suasana serta gambaran imajinasi kepada pendengar dan menciptakan makna yang beragam. Fungsi lagu sebagai media komunikasi seperti bersimpati tentang realitas dan cerita imajinatif.

Fungsi lagu dapat mengobar semangat seperti pada masa perjuangan, menyatukan perbedaan, mempermainkan emosi dan perasaan seseorang dengan tujuan menanamkan sikap atau nilai yang kemudian dapat dirasakan orang sebagai hal yang wajar, benar dan tepat.

Dengan demikian, kata yang digunakan dalam lirik lagu tidak seperti bahasa sehari-hari dan memiliki sifat yang ambigu, sehingga menemukan makna pada lirik lagu dengan metode semiotika yang notabene merupakan bidang ilmu yang mempelajari tentang sistem tanda.
Setiap lagu yang dinyanyikan memiliki makna tersendiri. Maka untuk menemukan makna dan pesan yang ada pada lirik lagu, digunakanlah metode semiotika yang notabene merupakan bidang ilmu yang mempelajari tentang sistem tanda. Mulai dari bagaimana tanda itu diartikan, dipengaruhi oleh persepsi dan budaya, serta bagaimana tanda membantu manusia memaknai keadaan sekitarnya.

Nenggo merupakan lagu lokal yang belum terlalu nampak dalam diri generasi Manggarai. Tidak dapat dipungkiri, musik-musik tren masa kini sangat membius rangsangan kaum muda, akibatnya mempopulerkan lagu nenggo kurang menyihir perhatian. Alasannya, pertama, lagu nenggo sering dinyayikan tanpa musik yang membuat kawula muda Manggarai merasa kurang tertarik dengan lagu lokalnya. Kedua, dinyayikan tanpa ukur. Maksdunya lagu yang dinyayikan tidak berdasarkan cara nyanyi yang benar, yang terpenting ada hasilnya, meski tidak cocok. Ketiga, tidak tepat sasaran. Terkadang orang yang menyanyikan lagu nenggo tidak menggunakan bahasa yang baik dalam lagunya. Ada yang langsung pada bentuk kritikan yang tidak didasari dengan alasan yang tepat.

Namun secara riil, lagu nenggo dapat menumbuhkan semangat. Misalnya dalam acara wuat wa’i bagi anak sekolah, atau acara wagal. Di momen ini, lagu yang cocok adalah nenggo. Di sini, kehadiran lagu nenggo sebagai magnet pemersatu.

Hal ini bukan karena saya lihat, tetapi lebih dari itu saya sering menjadi pemandu acara pesta sekolah di kampung. Mengawali acara selalu dibuka dengan nenggo. Bisa dinyanyikan mengikuti musik dan bisa juga tanpa musik.

Suasana yang dirasakan sangat berbeda ketika lagu pop Manggarai pada umumnya yang dibuka saat acara-acara seperti ini. Boleh dikata, lagu pop Manggarai selain nenggo sepertinya kurang menggugah hati orang yang hadir pada saat itu.

Contoh lirik lagu nenggo yang sering saya nyanyikan tanpa musik untuk mengawali acara wuat wa’i adalah “e a o u a o anak o, a o anak o, anak o weong weleng nai ge. Eme toe meu ga o anak ew, o eme toe meu ga, o deming seing kole, anak o dias ew”. Maksudnya memohon bantuan kepada keluarga atau undangan yang hadir dalam acara itu. Sebab dengan kehadiran itu, beban hidup dalam membiayai anaknya bisa tertolong. Seraya mengungkapkan terima kasih kepada mereka.

Lirik lagu nenggo lain yang sering saya nyanyikan dalam mengiringi kehadiran keluarga dalam acara wuat wa’i adalah “a a e e a o temit, e e a a e a o temit, temit mai go, temit mai go, temit kole sa koen. A a e e a o inung, e e a a e a o inung, inung mai go, inung mai go inung kole sa koen”.

Lagu ini bermaksud mengajak keluarga yang hadir menikmati minuman yang telah ada. Tentunya menikmati minuman yang disediakan panitia acara. Undangan ditawarkan untuk menikmati seraya mengkonversikan sejumlah uang.

Lagu nenggo tidak hanya dinyanyikan dalam acara yang telah dijelaskan tadi, namun dapat juga dalam konteks lain. Dalam mempersatukan keluarga yang pernah mengalami perpecahan, kita satukan dalam syair nenggo ini

e e o ite manusia one lino, o ite manusia a neka woleng wongka one, o ite manusia a a neka gega tuka peang e. Eme manga go’et sa koe remeng mose, eme manga go’et sa koe remeng mose mai gelang kole one o jangka jangka kole”.

Dari uraian di atas, dapat dikatakan nenggo adalah magnet pemersatu yang hendaknya kita lestarikan agar terus memberikan nilai yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Manggarai. Ini perlu kita jaga sehingga memiliki regenerasi yang tetap mencintai budayanya sendiri.

Eme wakak betong asa, manga waken nipu tae. Ini adalah harapan kita agar kehadiran generasi baru dapat melanjutkan kebiasaan generasi tua dalam membangun dan melestarikan budaya. Tabe!

*Penulis; Guru Yayasan Bina Bangsa PT. Wilmar Sampit – Kalimantan Tengah.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 404 kali

Baca Lainnya

Tanjung Bendera, Asimetris Informasi dan Kuasa Esklusi

19 November 2021 - 04:51 WIT

“Itulah Ayahmu”

12 November 2021 - 06:08 WIT

Krisis Ekologi

4 November 2021 - 02:46 WIT

Produksi Rokok dan Himbauan Jangan Merokok

1 November 2021 - 06:33 WIT

Merindukan ‘Pesta Sambut Baru’ Ala Anak-Anak

30 Oktober 2021 - 03:43 WIT

Agar ‘Orang Boleng’ Tidak Jadi Penonton

25 Oktober 2021 - 23:18 WIT

Trending di Sosial