Menu

Mode Gelap
 

Ekbis · 10 Jun 2020 15:24 WIT ·

Pemimpin; Antara Perubahan dan Disorientasi Pembangunan


 Andy Denatalis. (Foto: Ilustrasi FEC Media) Perbesar

Andy Denatalis. (Foto: Ilustrasi FEC Media)

Oleh Andy Denatalis*

Realitas mengglobalnya pandemi covid-19 membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat global. Dampaknya juga terasa dalam kebijakan pembangunan pemerintah. Pandemi dan efek perubahannya ini menuntut ketangkasan pemerintah dalam mengambil keputusan. Bila perlu bermanuver demi mandapatkan keputusan yang lebih mengayomi kebutuhan mendesak masyarakat. Keputusan yang keliru dapat berdampak buruk pula. Demikian halnya dengan kebijakan yang diambil pemerintah lokal, kuhusnya kabupaten.

Tulisan ini menjadi pijakan reflektif untuk menilai kebijakan pemerintah (khususnya pemprov NTT dan pemkab Manggarai Timur) dalam menentukan orientasi pembangunan.

Kabupaten Manggarai Timur kian menjadi sorotan publik dalam beberapa minggu terakhir. Publik getol membicarakan wacana perizinan tambang dan pabrik semen oleh Pemprov NTT dan Pemkab Matim terhadap PT Singa Merah dan PT Istindo Mitra Manggarai, di Luwuk dan Lingko Lolok, Desa Satar Pudut, Kecamatan Lamba leda.

Wacana yang belum jelas titik penyelesaiannya ini tentu mendulang banyak protes dari masyarakat. Selain menambah kebingungan masyarakat di tengah pandemi covid-19, kebijakan ini juga membongkar kisah suram pembangunan sebelumnya yang dinilai kurang tepat sasar dan kurang pro lingkungan sehat.

Kebijakan dan konsistensi pemimpin sangat menentukan kiblat pembangunan. Kebijakan gubernur yang sebelumnya, tidak mengizinkan tambang beroperasi di wilayah NTT tampak kontradiktif dengan kenyatannya.

Kebijakan Pemprov NTT ini kemudian didukung sikap Bupati Manggarai Timur yang menerima kehadiran investasi pabrik semen dan pertambangan batu gamping di Luwuk dan Lingko Lolok. Sikap kedua pemimpin ini, sesungguhnya, tidak pro rakyat dan dinilai ahistoris.

Pemimpin dan Perubahan

Pada dasarnya, tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh seorang pemimpin adalah mengelola perubahan. Dalam kehidupan masyarakat, perubahan terjadi dalam banyak hal dan, tentunya, sangat dipengaruhi oleh tujuan yang ingin dicapai secara bersama dalam masyarakat. Seorang pemimpin yang hadir dengan gaya kepemimpinan yang baik dan ideal akan memberikan pengaruh besar terhadap kesejahteraan hidup masyarakat.

Sebaliknya seorang pemimpin yang hadir dengan gaya kepemimpinan yang asal-asal, dengan sendirinya akan menciptakan kemunduran dalam banyak aspek kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Dalam menghadapi perubahan, seorang pemimpin tentunya akan berada pada posisi dilematis. Perubahan menuntut seseorang mengambil keputusan untuk menolong atau acuh tak acuh, dan memutuskan untuk bertarung dengan risiko besar atau hanya berdiam diri saja.

Menurut Lord Erlington (dalam Rhenald Kasali, 2014:61), seorang pemimpin yang tidak melakukan kesalahan adalah seorang pemimpin yang tidak melakukan apa-apa dalam kepemimpinannya. Konsep ini juga didukung oleh kenyataan bahwa banyak pemimpin yang memang dan sebenarnya tidak melakukan apa-apa dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin. Mengambil sebuah kebijakan yang dinilai kontras dan tidak sesuai dengan situasi konkret masyarakat, sama halnya dengan tidak melakukan apa-apa. Pemimpin yang tidak melakukan apa-apa terbukti dalam banyaknya persoalan seperti adanya bukti-bukti serapan dana APBN rendah, proyek yang dikerjakan pun cenderung gampang-gampang dan rutin, dan tidak ada terobosan baru dalam masa jabatannya sebagai seorang pemimpin.

Antara Perubahan dan Disorientasi Pembangunan

Visi pembangunan yang ingin dicapai pemerintah Kabupaten Manggarai Timur periode 2009 – 2014 yakni “Terwujudnya Manggarai Timur Yang Cerdas, Sehat, Sejahtera, Ramah Lingkungan, Deemokratis, Bermartabat Dengan Menjunjung Tinggi Hukum dan Hak Asasi Manusia Menuju Masyarakat Mandiri, Kreatif dan Inovatif” Visi ini kemudian tertuang dalam misi pembangunan Kabupaten Manggarai Timur tahun 2009 – 2014 (Berita Manggarai Timur, 26 November 2016).

Ketika pasangan ini terpilih menjadi pemimpin Kabupaten Manggarai Timur periode 2014 – 2019, di sana terdapat sebuah skema besar dengan visi pembangunan yang ingin dicapai “ Terwujudnya Manggarai Timur Yng Lebih Sejahtera, Cerdas, Kreatif,Inovatif, Sehat, Ramah Lingkungan, Demokratis, Bermartbat Dengan Menjunjung Tinggi Hukum dan Hak Ssasi Manusia Menuju Masyarakat Yang Lebih Mandiri Direkat oleh Budaya Lokal”.

Antara visi yang pertama dan kedua tidak ada perbedaan besar. Namun, ada hal penting yang menjadi fokus utama dari kedua visi pembangunan ini yakni kesejahteraan masyarakat dalam segala aspek kehidupan.

Bertolak dari kedua visi pembangunan Pemkab Matim ini, kita dapat melihat sejumlah masalah yang menjadi persoalan mendasar di kabupaten Manggarai Timur. Kabupaten Manggarai Timur sejatinya akan selalu berhadapan dengan banyak persoalan mendasar, seperti lemahnya pelayanan publik, kemiskinan, pengangguran, korupsi, mutu pembangunan infrastruktur yang tidak berkualitas yang dinilai asal jadi, dan masih banyak persoalan lain yang turut menghiasi perjalanan Kabupaten Manggarai Timur menuju kesejahteraan.

Lemahnya pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur yang tidak bermutu, menjadi hal yang lumrah dalam diri pemkab Matim. Serentak kedua persoalan ini secara sepintas menggambarkan bahwa pemerintah Manggarai Timur dinilai lamban dan berbelit-belit dalam menjalankan pelayanan kepada masyarakat. Dalam aspek birokrasi dan kemasyarakatan, Pemkab Matim semakin terpuruk. Hal ini ditandai dengan hadirnya sejumlah kebijakan yang sering merugikan dan sangat tidak sesuai dengan situasi konkret masyarakat.

Kedua visi pembangunan pemkab Matim periode 2007-2014 dan periode 2014-2019, hingga kini belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Visi pembangunan ini dianggap sebagai pekerjaan rumah bagi pemimpin Manggarai Timur yang baru. Dengan terpilihnya Agas Andreas yang notabene pernah menjabat sebagai wakil bupati selama dua periode berturut-turut, menjadi Bupati Manggarai Timur untuk periode 2019-2024. Banyak harapan masyarakat Manggarai Timur menuju perubahan dan kemajuan. Harapan besar untuk sebuah perubahan sudah dinanti-nantikan oleh masyarakat. Banyak yang berharap dengan terpilihnya Agas Andreas menjadi bupati, segala program pemerintah yang belum sempat dilaksanakan pada periode sebelumnya, akan terealiasi.

Pengalaman-pengalaman yang dilaluinya saat menjabat sebagai wakil bupati seharusnya menjadi pembelajaran untuk bisa membangun Manggarai Timur menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Namun nyatanya, semenjak Agas Andreas menjabat Bupati Manggarai Timur hingga sekarang, belum ada perubahan yang signifikan dalam diri pemerintah maupun dalam kehidupan sosial masyarakat baik itu pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik.

Berangkat dari visi Pemkab Matim sebelumnya, secara khusus berkaitan dengan terwujudnya Manggarai Timur yang sejahtera, Pemkab Matim sekarang belum mewujudkan visi itu dalam seluruh sistem pemerintahannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya persoalan dalam diri pemerintah sendiri seperti korupsi, tata kelola pemerintahan yang kurang jelas, sistem tata ruang yang ngawur dan sejumlah kebijakan terkait pembangunan yang masih mengundang kontroversi. Dalam diri masyarakat, bisa ditemukan banyak persoalan seperti kemiskinan, pengangguran dan banyak persoalan terkait belum terpenuhnya hak keadilan masyarakat.

Intensitas kepuasan dan kesejahteraan masyarakat tidak sepenuhnya diukur dengan banyaknya investor asing yang mengelola pertambangan, tetapi sejauh mana publik menikmati infrasturuktur yang dibangun pemerintah. Masyarakat mendukung bupati saat proses pemilihan tentu karena visisnya yang dinilai pro pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Ketika pemerintah keliru bermanuver di tengah perubahan atau mengalami disorientasi visi dalam masa jabatannya, bukan tidak mungkin masyarakat mendapat imbasnya. Jadi, ketangkasan dan konsistensi pemerintah dalam proses pembangunan sangat dibutuhkan masyarakat.

*Penulis; Mahasiswa STFK Ledalero.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 163 kali

Baca Lainnya

Agar ‘Orang Boleng’ Tidak Jadi Penonton

25 Oktober 2021 - 23:18 WIT

Jurnalisme Kolaborasi

18 Oktober 2021 - 12:14 WIT

Menulis Surat (Cinta), Pengolahan Afeksi, dan Kultur Lterasi

11 Oktober 2021 - 07:31 WIT

Refleksi “Telat” Seorang Awam Hukum

10 Oktober 2021 - 05:34 WIT

Aku dan Yang Lain

5 Oktober 2021 - 07:53 WIT

Tanggung Jawab Terhadap ‘Wajah yang Bersujud’

1 Oktober 2021 - 06:41 WIT

Trending di Sosial