Menu

Mode Gelap
 

Hukum · 20 Mei 2020 15:49 WIT ·

Mengenang EP da GOMEZ


 E.P. da Gomez. (Foto: Ist) Perbesar

E.P. da Gomez. (Foto: Ist)

Oleh: Frans Obon*

Sebagai mahasiswa di tahun 1990-an di Ledalero, saya mengenal sepintas sosok EP da Gomez sebagai politisi dan anggota DPRD Kabupaten Sikka. Ketika menjadi wartawan Mingguan Dian di tahun 1994, saya makin mengenal sosok EP da Gomez karena dia sering mengirim tulisannya ke Dian. Sesekali dia menelepon, terutama ketika Vicky da Gomez bekerja di Flores Pos.

Dia adalah kader Partai Katolik, yang tangguh dan teguh dalam berpolitik (1961-1973) dan pernah menjadi anggota Fraksi Partai Katolik (1965-1968). Setelah Partai Katolik difusikan ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI), EP da Gomez kukuh di dalam garis politik yang sama. Dia menyalurkan aspirasi politiknya melalui PDI. Ketika PDI bergolak, dia teguh di garis perjuangan politik di bawah Megawati Soekarnoputri. Ketika Reformasi dan PDI berubah nama menjadi PDI Perjuangan, EP da Gomez berada di garis yang sama. Dia bukan politisi kutu loncat, untuk menyebut mereka yang gemar berpindah-pindah partai. Dia konsisten berjuang hingga akhir hayatnya di PDI Perjuangan.

Ketika Pemilu 1999, PDI Perjuangan memenangkan Pemilu, bersama-sama kawan-kawannya dari PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, EP da Gomez adalah salah satu tokoh politik paling gigih dari partainya untuk mencalonkan dan memenangkan kader partainya untuk memimpin Sikka. Bupati Alex Longginus terpilih bersama Wakil Bupati Yoseph Ansar Rera. Seluruh proses direkamnya dalam sebuah buku: Sikka 2002-2003, Dinamika Demokrasi di Panggung Pentas Suksesi, yang ditulisnya bersama Vicky da Gomez.

EP da Gomez menghidupi politik dengan prinsip dan selalu mengemukakan pendapat politiknya dengan lugas. Dia tidak pernah takut berbeda pendapat dengan politisi lainnya demi apa yang disebut harmonisasi yang dijunjung tinggi dalam kultur lokal kita. Yang kadang-kadang membuat kita tidak mau berbeda pendapat, takut berbicara lugas. Oleh karenanya dia menjadi politisi yang berkarakter. Tapi dia tetap berkawan baik dengan mereka yang berbeda dengannya.

EP da Gomez adalah politisi dari sejak masa mudanya dan terus hidup dari dan dalam politik hingga akhir hayatnya. Dia seorang politisi plus, mengikuti corak politik generasi 1928, yang gandrung pada politik tapi juga pada intelektualitas. Maka mereka yang dengan karakter demikian, selalu memberi bobot tertentu pada politik.

Dia politisi, sekaligus penulis yang produktif serta pembaca yang tekun. Maka dia menghasilkan beberapa buku. Dia mengemukakan pandangan politiknya secara lugas dan to the point melalui tulisannya, baik mengenai politik nasional maupun politik lokal melalui media lokal. Saya kira generasi muda di Sikka akan mendapatkan lanskap mengenai politik Sikka, setidaknya sebagian dari perjalanan politik Kabupaten Sikka, dari tulisan-tulisan EP da Gomez.

EP menulis tentang proses pemilihan para bupati Sikka 1959-2003. Ini sebuah dokumentasi yang baik tentang kepemimpinan di Kabupaten Sikka. Karena dia sendiri terlibat dalam memilih para bupati Sikka (1967) yang dimenangkan Bupati Laurens Say, (1988) yang dimenangkan AM Konterius, (1993) yang dimenangkan Bupati Alex Idong, dan (2003) pasangan Alexander Longginus dan Yoseph Ansar Rera.

EP da Gomez juga seorang awam Katolik yang tangguh. Dia terlibat aktif di dalam kehidupan Gereja Katolik baik di paroki maupun di tingkat komisi dan kegiatan besar Gereja di Maumere. Dia sangat bangga dengan Maumere, apalagi ketika Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Maumere dan merayakan ekaristi di Gelora Samador. Itu tercermin dari tulisan-tulisannya.

EP da Gomez terlibat aktif dalam pengembangan dan pembangunan sosial di Nusa Tenggara atau di LPPS Nita dan antara 1973-1985 dia menjabat sekretaris sidang tahunan para Delsos Regio Nusra di Kupang dan Ritapiret yang diorganisasi LPPS/NTT Nita. Melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dia menjadi salah satu tokoh yang melakukan pemberdayaan masyarakat. Dia kritis terhadap Gereja, tetapi selalu proporsional dalam memberikan kritikan, yang menandakan kematangan dalam kehidupan sosial politiknya.

Pada tahun 1999 bersama Ignas da Cunha, EP da Gomez dan tokoh-tokoh lainnya coba menginisiatifi pembentukan Provinsi Flores dengan pertemuan pertama di BK3D Ende (sekarang Puskopdit Flores Mandiri). Saat itu EP da Gomez menjabat Direktur Eksekutif Forum Solidaritas Swadaya Masyarakat NTT (FSSM/NTT), salah satu forum penggagas rencana pembentukan Provinsi Flores.

EP da Gomez adalah seorang pribadi yang hidupnya sederhana. Jauh dari gaya hidup wah, karena politik. Dia ikut turun ke jalan jika ada hal yang dianggapnya menyimpang dari praktik politik kesejahteraan. Jika ada kesempatan, dia menepi dari hiruk pikuk kehidupan dan mengisinya dengan membaca buku-buku.

E P da Gomez lahir di Lela, 2 Desember 1940, tamat SMAK Syuradikara Ende 1959. Seluruh hidupnya diabdikan untuk politik dan pemberdayaan masyarakat melalui LSM sejak 1968.

Terima kasih Om EP da Gomez. Saya tulis catatan kecil ini sebagai ungkapan terima kasih dan cara sederhana mengenangmu. Semoga Vicky dan keluarga diberi kekuatan dan penghiburan. Selamat jalan Om EP da Gomez, rest in peace.

Wartawan Senior HU Flores Pos

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 112 kali

Baca Lainnya

Perindo Mabar dan Pilkada 2024

28 September 2021 - 05:17 WIT

Pilkada Era Media Sosial

16 Oktober 2020 - 09:36 WIT

Modal Pertarungan Pilkada 2020

8 September 2020 - 09:49 WIT

Albert Tion dan Pesan Menjelang Pesta Demokrasi

16 Agustus 2020 - 14:59 WIT

Melacak Rekam Jejak Calon Pemimpin Mabar

9 Agustus 2020 - 15:02 WIT

Bukan Jual Gelar, Tetapi ‘Gagasan’

17 Juli 2020 - 00:38 WIT

Trending di Manggarai Barat