Menu

Mode Gelap
 

Pariwisata · 14 Mei 2020 04:07 WIT ·

Ecotourism: Berwisata dengan Beretika


 Ecotourism: Berwisata dengan Beretika Perbesar

Oleh: Kornelius Rahalaka*

Aktivitas berwisata merupakan kegiatan yang biasanya ditunggu dan direncanakan dengan penuh semangat dan matang. Berwisata beragam alasannya, dari menikmati suasana baru, untuk melepaskan rutinitas hidup sehari-hari, berbelanja atau sekedar bersenang-senang. Pada umumnya, kegiatan berwisata dilakukan pada waktu liburan dengan berjalan-jalan sambil menikmati berbagai obyek wisata baik alam maupun budaya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Di sadari atau tidak, kunjungan wisatawan ke suatu daerah tidak hanya mambawa dampak positif bagi percepatan kemajuan di suatu wilayah seperti meningkatnya kesejahteraan masyarakat, tetapi mengancam lingkungan bahkan penduduk setempat. Kondisi demikian pun terjadi di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu destinasi pariwisata dunia.

Kegiatan pariwisata di suatu daerah tujuan wisata secara nyata menghasilkan sampah dalam jumlah yang banyak, sehingga tak hanya membuat kewalahan pemerintah daerah untuk menanggulanginya, tetapi juga berdampak pada kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakatnya. Meskipun belum ada pihak yang melakukan perhitungan secara tepat dan akurat, namun diperkirakan kota Labuan Bajo menghasilkan sampah sebesar 2 ton/hari, dan jumlah volume sampah bisa berlipat ganda saat hari-hari raya keagamaan maupun nasional seperti perayaan Natal dan Tahun Baru.

Sampah dari beragam jenis seperti bekas makanan dan minuman, petasan, dan barang-barang rongsokan lainnya dapat kita temukan di jalan-jalan dan sudut-sudut kota Labuan Bajo dan sekitarnya. Volume sampah yang diproduksi oleh masyarakat pun cukup signifikan, bisa mencapai puluhan ton truk per bulan. Di hari biasa saja, sampah yang terkumpul bisa mencapai lebih dari 5 truk. Hal ini menyebabkan bukan hanya banyak kawasan lingkungan wisata baik di darat maupun di laut yang rusak, tetapi penduduk sekitarnya juga harus rela menerima dampak buruk dari sampah seperti wabah dan penyakit.

Konsep ecotourism yang telah dikampanyekan sejak era tahun 1980-an belum banyak berdampak pada terciptanya lingkungan yang ramah, meski diakui konsep ecotourism dapat menjadi solusi untuk mengatasi berbagai dampak buruk dari aktivitas kepariwisataan. Ecotourism sendiri memiliki sejumlah prinsip dasar dalam pengelolaan pariwisata seperti prinsip sustainable tourism yakni penggunaan sumber daya secara optimal dengan mengurangi dampak ekologis, budaya dan sosial, serta memaksimalkan manfaat ekonomi dan konservasi. Sementara itu prinsip ecotourism yang tak kalah penting yakni responsible tourism yakni pariwisata yang melibatkan tanggungjawab seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah, swasta, penyedia jasa pariwisata, masyarakat setempat, maupun wisatawan itu sediri.

Ecotourism sebagaimana telah ditetapkan dalam sidang ke-8 United Nation Comission on Sustainable Development adalah sustainable development yang menjamin keterlibatan para pihak yang berkepentingan secara aktif dan setara dalam proses perancangan, pengembangan dan pemeliharaan situs pariwisata, termasuk ruang bagi masyarakat setempat untuk menolak pengembangan pariwisata di wilayah mereka. Dengan demikian, konsep ecotourism boleh di bilang merupaan paket komplit dari wisata yang ramah sosial, ekonomi dan lingkungan.

Dari gagasan tersebut di atas, ecotourism telah berkembang menjadi cara berwisata yang sangat potensial dan bermartabat. Di sejumlah negara di Amerika dan Eropa, ecotourim telah berkembang dan terorganisir secara baik dan profesional dalam berbagai paket liburan. Ecotourism telah berkembang jauh menjadi sebuah gaya hidup kaum muda dan masyarakat pada umumnya. Di Indonesia umumnya dan di Pulau Flores pada khususnya, kini ecotourism mulai dikembangkan oleh sejumlah aktivis pariwisata meskipun belum cukup terasa manfaatnya. Hal ini dapat dimengerti dan dipahami lantaran ecotourism masih sebatas wacana atau gerakan masih bersifat sporadis, ia belum menjadi suatu gerakan bersama.

Pemerintah daerah bersama sejumlah stakeholder berupaya membangun kerjasama kepariwisataan dengan melakukan sejumlah terobosan seperti membentuk forum bersama dalam rangka pengembangan ecotourism di sejumlah kabupaten, namun belum berjalan seirama dengan prinsip-prinsip yang digagas. Sebut misal, penerapan ecotourism di kawasan konservasi Taman Nasional Komodo (TNK) dimana merupakan habitan asli binatang purba Komodo. Ecotourism di satu sisi telah memberikan manfaat bagi masyarakat dan para pelaku wisata, karena mampu secara perlahan menekan aktivitas destruktif seperti illegal longging dan penangkapan ikan berlebih atau berbagai tindakan merusak lainya. Namun ecotourism juga berpotensi menciptakan kesenjangan manakala dikelola secara serampang dan tak benar.

Sebab, kehadiran wisatawan yang tak terkendali berikut pengelola yang kurang memahami prinsip-prinsip ecotourism yang benar, maka hal itu dapat menghadirkan ancaman berupa kerusakan sumber daya alam. Taman Laut Komodo yang disebut-sebut sebagai surga bagi wisatawan suatu saat nanti bukan tak mungkin akan mengalami penurunan wisatawan akibat rusaknya terumbu karang. Itu contoh di laut. Kondisi di darat pun akan sama dan serupa, jika ecotourism yang disebut-sebut sebagai salah satu konsep ideal dalam pengelolaan dunia kepariwisataan pun menghadapi tantangan yang tak ringan, seperti masalah sampah dan kerusakan lingkungan alam akibat perilaku buruk manusia termasuk para wisatawan yang melancong ke sana.

*Pemred Floreseditorial.com

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 73 kali

Baca Lainnya

Menakar Brand “Super Premium” & Pariwisata Berkelanjutan di Labuan Bajo

28 Juli 2020 - 18:30 WIT

Pembangunan (Hotel) Berbasis Ekologi di Pantai Pede: Mungkinkah?

23 Juni 2020 - 12:32 WIT

Pariwisata Dan Ekspansi Bisnis Global; Selamat Datang Era Kecemasan

24 Oktober 2019 - 12:36 WIT

Trending di Pariwisata