Menu

Mode Gelap
 

Manggarai Barat · 7 Mei 2020 04:15 WIT ·

“MAFIA AIR” di Labuan Bajo


 Sketch Wajah Muhammad Achyar (Foto: TeamYPF) Perbesar

Sketch Wajah Muhammad Achyar (Foto: TeamYPF)

Oleh: Muhammad Achyar, SH.

Air Sumber Kehidupan

Air adalah sumber kehidupan. Tuhan menciptakan bumi dengan sekitar 71% permukannya dilingkupi oleh air dan menyisahkan hanya 29% untuk daratan.

Tak kecuali tubuh manusia, air pun menjadi hal atau sesuatu yang mendominasi tubuh manusia dengan prosentase hingga 70% dari total berat tubuh manusia.

Fakta yang diungkap di atas tentu sudah cukup menjadi gambaran betapa vital dan krusialnya air bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh, tubuh manusia akan mengalami berbagai gangguan dan malfungsi jika kekurangan air.

Air merupakan sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak, kebutuhan paling mendasar bagi manusia, tanpa membedakan latar belakang manusia itu, kaya maupun miskin, rakyat jelata maupun pejabat, penduduk kota maupun pedesaan semuanya membutuhkan air dalam kehidupan sehari-hari.

Indonesia sebagai negara berdaulat dan merdeka, pun menempatkan air sebagai salah satu bagian penting dan memiliki derajat tertinggi dalam konstitusi negara.

Perihal air tertuang dalam Pasal 33 Ayat 2 UUD 1945, berbunyi; “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Mengingat pentingnya air sebagai kebutuhan paling mendasar bagi manusia dan sesuatu yang menguasai hajat hidup orang banyak, maka negara memiliki kewajiban untuk menjamin, menjaga dan mengelola sumber daya air yang ada agar ketersediaan air senantiasa terpenuhi bagi segenap warga negara sehingga tercipta kemakmuran.

Air sebagai kebutuhan vital dan mendasar bagi manusia diatur dalam berbagai Regulasi berbentuk Undang-undang maupun peraturan, antara lain, 1. Undang-undang RI Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air, 2. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 Tentang Pengairan, 3. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, 4. Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air, 5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 48/PRT/1990 Tentang Pengelolaan Atas Air dan Atau Sumber Air Pada Wilayah Sungai, 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2010 Tentang Pedoman Kerjasama Pengusahaan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, 7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum Pada Perusahaan Daerah Air Minum, 8. Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS No. 4 Tahun 2010 Tentang Panduan Umum Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur, 9. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air, 10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pemberian Subsidi Dari Pemerintah Daerah Kepada Badan Usaha Milik Daerah Penyelenggara Sistem Penyedian Air Minum.

Sekilas Sejarah PDAM Manggarai Barat

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Manggarai Barat didirikan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 10 Tahun 2008, tanggal 16 Juni 2008, tentang Perusahaan Daerah Air Minum Wae Mbeliling. PDAM Wae Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat merupakan peralihan dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pengelolaan Air Bersih Kabupaten Manggarai Barat.

PDAM mulai beroperasi secara efektif sejak ditetapkannya Direksi PDAM Wae Mbeliling pada tanggal 31 Desember 2011, sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor HK.035/247/XII/2011, tanggal 31 Desember 2011.

Tugas Pokok dan Fungsi PDAM adalah menyelenggarakan pengelolaan sarana dan prasarana sistim penyediaan air minum di wilayah Perkotaan Kabupaten Manggarai Barat dalam rangka meningkatkan kualitas, kuantitas dan kontinuitas layanan sesuai prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan dengan menyeimbangkan fungsi pelayanan umum, ekonomi perusahaan serta sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Maksud dan tujuan pendirian Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) adalah untuk turut serta dalam pembangunan daerah serta untuk meningkatkan pelayanan pemenuhan kebutuhan air minum bagi masyarakat di daerah.

Sedangkan rincian maksud dan tujuan pendirian Perusahaan Air Minum (PDAM) adalah sebagai berikut :

  1. Turut serta melaksanakan pembangunan daerah pada khususnya yang merupakan salah satu sumber pendapatan daerah. Oleh karena itu Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) harus memupuk pendapatan yang ada dan yang akan datang.
  2. Pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam penyediaan air bersih serta penyehatan lingkungan. Oleh karenanya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) harus memberikan pelayanan air yang memenuhi syarat-syarat kesehatan kepada masyarakat yang lestari dan berkesinambungan.
  3. Turut serta melaksanakan pembangunan perekonomian pada umumnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan memenuhi kebutuhan masyarakat serta ketenaga kerjaan menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Adapun sumber air utama PDAM Wae Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat adalah: (1) Mata Air Wae Kaca di Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbelilig, (2) Sungai Wae Mese, (3) Mata Air Wae Wowol di Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling, (4) Mata Air Wae Mbaru, dan (5) Mata Air Wea Moto.

Selain itu, PDAM Wae Mbeliling juga memiliki dua unit atau cabang yaitu, Unit Lembor dan Unit Golowelu yang memiliki sumber airnya sendiri.

Apakah semua maksud dan tujuan pendirian PDAM di atas sudah sesuai harapan? Kita akan mengulasnya lebih jauh.

Mafia Air dan Masalah Klasik Tak Berujung

Labuan Bajo, Manggarai Barat adalah kota atau daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebagai Destinasi Pariwisata Super Premium, tapi tahukah Anda bahwa label premium tersebut masih menyisahkan persoalan klasik terkait belum terpenuhinya kebutuhan paling mendasar masyarakatnya akan air bersih?

Kondisi ini tak ayal menjadi sorotan media-media bahkan sekaliber CNN misalnya, pada 2018 lalu mengulas dan mempublish hasil liputan dan investigasinya terkait persoalan krisis air ini dengan tajuk “Labuan Bajo, Dahaga di Surga Dunia“ ( https://youtu.be/G9732OmrWZc )

Sejak dimekarkan menjadi kabupaten baru (Manggarai Barat), masyarakat Labuan Bajo sudah mengalami kekurangan air. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Pemkab Mabar) setiap tahunnya sejak 2003 sudah menguncurkan APBD II.

Pada 2019 lalu Pemkab Mabar mendapat bantuan senilai Rp 4,7 miliar dari kementerian PUPR yang akan digunakan untuk pembenahan jaringan air minum di Kota Labuan Bajo dan instalasi di Kecamatan Lembor.

Namun ironis, meskipun Pemkab Mabar sudah mengucurkan anggaran untuk pembangunan dan pembenahan instalasi air bersih, namun hasil dan dampaknya belum dirasakan oleh masyarakat, tak ada perkembangan berarti jika tak ingin dikatakan tak ada dampak apa pun.

Pada 2013, misalnya, proyek air minum bersih yang bersumber dari dana percepatan pembangunan Sail Komodo 2013 senilai Rp 116 miliar, seperti menguap tanpa bekas. Proyek ini pun hanya menyisahkan jaringan pipa air tapi tanpa air. Setidaknya dana ratusan miliar telah digelontorkan untuk proyek air minum ini sebagaimana berita yang dilansir oleh Victory News (https://www.victorynews.id/rp-151-miliar-habis-labuan-bajo-masih-krisis-air-bersih/)

Menurut pemberitaan media online (https:/m.kumparan.com/), tercatat dari 2013 hingga 2018 total anggaran untuk air bersih sudah mencapai Rp 38 miliar, termasuk anggaran dari APBN percepatan pembangunan kawasan strategis pariwisata (KSP).

Pasca Sail Komodo 2013 silam para pemodal menyerbu Labuan Bajo untuk membuka bisnis. Dari hotel hingga restoran tumbuh subur di kota paling barat pulau Flores ini. Naifnya, kemajuan di sektor pariwisata tak beriringan dengan pemenuhan kebutuhan hidup yang utama berupa air bersih. Masyarakat Labuan Bajo pun dari tahun ke tahun bahkan hingga kini masih mengalami krisis air bersih.

Pemkab Mabar sejak beberapa tahun lalu melalui APBD II menggelontorkan anggaran mencapai Rp 35 miliar lebih untuk proyek serupa, namun lagi-lagi masyarakat Labuan Bajo masih saja mengalami krisis air bersih.

Dari riuh rendah pemberitaan media dan perbincangan di masyarakat tak ayal memunculkan istilah dan diskursus adanya “Mafia Air” di Labuan Bajo. Santer disebutkan, deras dibincangkan hingga berkali-kali diberitakan akan tetapi ironisnya, keberadaan Mafia Air bagaikan Angin Ribut, yang hanya bisa dirasakan dampak kerusakan akibat terjangannya, namun tak dapat dilihat dan diketahui persis bagaimana wujudnya.

Sumber air di Labuan Bajo sesungguhnya sangat melimpah ruah, sedikitnya terdapat 5 sumber baik mata air maupun sungai menjadi sumber utama guna mencukupi kebutuhan air bagi masyarakat Kota Labuan Bajo sebagaimana telah diulas sebelumnya.

Rakyat dan negara dalam hal ini Pemkab Mabar bersama Bupati seharusnya tak boleh kalah dalam menghadapi kejahatan dan adanya praktek Mafia Air di Labuan Bajo itu.

Sejatinya, konstitusi negara kita telah mengamanatkan bahwa Bumi dan Air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Akan tetapi yang menjadi soal adalah jika air dalam konteks Manggarai Barat ternyata telah dikuasai dan dikelola oleh oknum pejabat-pejabat korup ditambah pula mendapat perlindungan dari oknum aparat penegak hukum korup maka hasilnya tentu hanya akan menciptakan kesengsaraan.

Jika ternyata demikian adanya, kita semua tak perlu banyak berharap, untuk penuhi kebutuhan air saja sulit, lalu bagaimana mungkin kemakmuran rakyat itu akan terwujud di bumi Manggarai Barat?

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 840 kali

Baca Lainnya

Membaca ‘Misi Politik’ Paslon Maria-Sil

4 November 2020 - 09:00 WIT

Membaca ‘Misi Politik’ Paslon Edi-Weng

3 November 2020 - 13:37 WIT

Pilkada Era Media Sosial

16 Oktober 2020 - 09:36 WIT

Melacak Rekam Jejak Calon Pemimpin Mabar

9 Agustus 2020 - 15:02 WIT

Menakar Brand “Super Premium” & Pariwisata Berkelanjutan di Labuan Bajo

28 Juli 2020 - 18:30 WIT

Birokrasi Rumah Sakit: Ujian Kesabaran!

18 Juli 2020 - 15:06 WIT

Trending di Kesehatan