Manggarai

Kamis, 20 Februari 2020 - 12:21 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

Barbarisme Politik Jelang Pilkada Manggarai

Oleh: Hardy Sungkang

Diskusi tentang Pilkada Manggarai hampir setiap hari terus membara. Hampir saja seluruh lapisan masyarakat Manggarai saat ini terus menerus menerangkan hak politiknya sebagai warga negara. Diskusi politik masayarakat bawah, yang mana tingkat pemahaman politiknya hampir mengalahkan taktik mafia kalangan elit terus berkobar. Hal demikian bisa dinilai sebagai jalan menuju kematangan demokrasi. Kematangan demokrasi ini sebetulnya berpuncak pada keputusan alamiah masyarakat yang setia mengikuti perkembangan arah perpolitikan negara bangsa dan daerahnya.

Filsuf empirisme, John Locke dalam pemikirannya tentang negara menekankan bagaimana proses manusia mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan sesungguhnya seperti yang diutarakan Locke adalah bersumber dari pengalaman. Demikian pun dalam proses perpolitikan di Indonesia, jalan menuju kematangan demokrasi sesungguhnya bersumber dari seberapa besar tingkat partisipasi aktif masyarakat dalam konstelasi politik praktis. Tingkat partisipasi ini tidak hanya sebatas pada wacana menuju sebuah konsolidasi semata, tetapi bagaimana pencapaian itu lahir dari sebuah diskusi sosial politis yang matang dan serius. Diskusi sosial politis itu juga mesti dihargai oleh sesama selaku subjek demokrasi.

Locke dalam pandangannya tentang negara menjelaskan dasar dari proses perkembangan masyarakat. Proses perkembangan ini, Locke bagi dalam tiga tahap, yakni keadaan alamiah, keadaan perang, dan negara. Keadaan alamiah, Locke seringkali menekankan tentang kebebasan dan kesamaan hak yang sama. Tentu Locke menginginkan sejauh mana manusia atau masyarakat dalam negara saling menghargai kebebasan dan hak setiap orang, tentunya hak politik.

Mesti bombastisnya diskusi pilkada menjelang pesta rakyat Manggarai saat ini, namun hal yang tidak boleh dilupakan adalah respek terhadap sesama dalam setiap diskusi sosial politik yang terjadi. Respek terhadap hak dan kebebasan seseorang dalam konstelasi politik merupakan cara dan faktum yang ultim. Menghargai kebebasan berpolitik setiap orang merupakan jalan menuju kematangan demokrasi. Demokrasi lebih ideal jika masyarakatnya aktif secara politis dalam mendiskusikan setiap persoalan negara maupun masayarakat. Namun, menjadi sebuah kecemasan dalam konstelasi politik ini adalah lahirnya sikap ego sosio politis masyarakat menjelang konstelasi politik. Sikap ego politis ini secara vulgar penulis ungkapkan sebagai sikap barbarisme politik.

BARBARISME POLITIK

Mengamati arus media sosial masyarakat Manggarai akhir-akhir ini sungguh sebuah keraguan dan pesimis terhadap jalan menuju kematangan demokrasi. Lantas hal demikian seringkali lahir dari rasionalitas setiap masyarakat Manggarai. Derasnya arus rasionalitas masyarakat seringkali melupakan inti persoalan dan target pencapaian menuju sebauh perubahan dan kemajuan. Mencuatnya akun-akun tanpa identitas yang jelas lebih memperkeruh suasana menjelang pesta demokrasi pikada Manggarai. Mengapa demikian, akun-akun yang tidak jelas itu pun seringkali menjadi dalang kegaduhan diskusi. Lalu, pertanyaanya adalah apakah identitas tidak tunjuk ke publik ini bisa mengubah tarket kematangan demokrasi? Tentu tidak, karena seringkali akun-akun tanpa identitas tersebut hanya menjadi profokasi yang irasional. Seringkali penyebar hoax dan kebencian. Lebih ekstrimnya lagi adalah kebencian akibat politik akan lahir dari generasi ini.

Menjawab trend maraknya generasi tanpa identitas dalam konstelasi politik media sosial masa ini adalah lahirnya paham barbarisme. Paham barbarisme ini tujuan utamanya adalah menghancurkan sebuah tatanan politik yang massif. Maraknya hoax dan ujaran kebencian adalah pertanda menyingkirnya rasionalitas (akal sehat) di tengah masyarakat dalam menghadapai kompleksitas dinamika sosial politik.

Pada era post-truth Fransisco Rosale (2017) mengungkapkan bahwa apa yang menjadi benar, menjadi lebih penting dari pada kebenaran itu sendiri. “Kebenaran” yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang bersumber pada fakta dan objektivitas. Sementara “benar” adalah kategorisasi yang berdasarkan pada keyakinan diri dan emosi. Tolok ukurnya adalah “kebenaran saya”, tidak perlu melalui uji publik dan diskursus, (redaksibekasi.id).

Kecemasan penulis juga adalah jangan sampai Pilkada Manggarai seperti Pemilihan presiden Ameriak tahun 2016. Terpilihnya Donal Trump dalam Pemilu Amerika karena yang berkampanye seringkali mengangkat yang bersifat sentimen ras, agama, warna kulit. Sementara Pilkada Manggarai tampaknya jargon perubahan dan lanjutkan menjadi pertimbangan rasionalitas setiap orang dalam kesempatan berdiskusi. Saling mengejar pendapat merupakan hal yang lumrah, namun seringkali menjadi keliru ketika etika komunikasi politik kurang dijaga dan dipakai. Lahirnya trenisasi menghina “mbecik” masing-masing pendukung pasangan calon membuat kematangan demokrasi semakin melemah. Penting diingat adalah bedakan antara isu yang berkaitan dengan pencapaian hasil kinerja pemimpin lama dengan pasangan calon pemimpin yang belum pernah menunjukan pencapaian yang luar biasa. Mengapa hal demikian menjadi risih bagi penulis karena pada akhirnya isu ini mengarah pada isu ras, golongan dan suku.

Perdebatan antara janji yang belum sampai dengan harapan akan perubahan yang nota benenya masih pada taraf janji pun seringkali menguburkan rasionalitas diri yang fakum. Penyangkalan terhadap realitas riil masyarakat akan kegagalan sebuah perubahan daerah seringkali subur di atas rasionalitas yang masif tidak terukur. Sikap saling tidak menerima fakta nampaknya mencuat dalam konsep rasionalitas kalangan pendukung tertentu. Hal demikian pun menjadi sebuah kecemasan penulis dalam mengukur tingkat kematangan demokratis masyarakat Manggarai dalam konstelasi politik.

Hal demikian akan melahirkan sebuah istilah baru dalam kamus politik, yakni Post-truth. Istilah Post-truth ini menurut Llorente (2017) merujuk pada kondisi sosial politik di mana objektivitas dan rasionalitas memberi jalan kepada emosi, atau keinginan untuk berpihak pada keyakinan meskipun fakta menunjukkan sebaliknya. Sedih.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 206 kali