Politik

Senin, 20 Januari 2020 - 05:16 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Sketch Wajah Muhammad Achyar (Foto: TeamYPF)

Sketch Wajah Muhammad Achyar (Foto: TeamYPF)

Muhammad Achyar, Entrepreneur Pemilukada Manggarai Barat

Oleh: Syamsudin Kadir*

SAYA sebetulnya pada awalnya tak berani menulis tulisan ini. Apalagi di momentum politik Pilkada Mabar 2020 seperti saat ini. Tulisan apapun dianggap sebagai pencitraan atau upaya publikasi seseorang. Pokoknya kerap dikonotasikan sebagai iklan politik dan seabrek pernyataan dugaan lainnya.

Bagi saya, dugaan semacam itu boleh dan sah-sah saja. Namanya juga momentum politik, apapun akan digoreng dan digiring, bahkan demi menegasikan lawan politik sekalipun, semua itu dilakukan. Pada momentum semacam ini tak ada eksepresi yang bebas dari penilaian.

Mengenai hal ini ada relevansinya kita membaca secara detail buku berjudul “Social Media Politica; Gerak Massa Tanpa Lembaga” (2013) karya Anwar Abugaza. Pada buku ini, aktivis muda asal Makasar ini menjelaskan korelasi antar politik dan media sosial. Bahkan dampaknya bagi popularitas dan elektabilitas politisi.

Tapi perlu diingat, saya bukan politisi dan bukan siapa-siapa. Profesi saya pun jauh dari aroma politik. Bahkan sehari-hari saya kebanyakan di rumah untuk menemani istri dan kedua anak kami yang sama-sama suka rebutan baca buku. Di samping menerima undangan di luar kota untuk menjadi narasumber acara mahasiswa di kampus atau yang lainnya. Pokoknya sangat jauh dari hiruk pikuk politik.

Tapi okelah itu hanya abstraksi tentang saya, agar apa yang saya tulis ini lebih merdeka dari framing dan dugaan politis. Jujur saja, saya menulis ini karena memang saya ingin menulis seperti ini. Saya bicara apa adanya tentang seseorang yang memang agak berbeda dari yang lainnya. Selain muda dan cerdas, ia juga punya pengalaman sekaligus jaringan di tingkat lokal dan nasional bahkan global.

Pria berusia 38 tahun ini memang berani tampil beda pada saat dimana kaum muda lainnya masih malu-malu maju di panggung politik bahkan kompetisi politik. Bagi saya, ini unik dan luar biasa. Selebihnya, layak dimunculkan di ruang publik, terutama Mabar, bahwa ternyata masih ada perwakilan kaum muda dalam kompetisi politik Mabar 2020 ini.

Bayangkan saja, di sela-sela kesibukannya sebagai pengacara, ia juga membangun usaha. Tak itu saja, ia juga ternyata sosok yang peduli dan empati kepada siapapun. Ada banyak orang yang pernah ia bantu dari banyak sisi. Bahkan ia sangat antusias dalam membantu siapapun. Ini semacam kerja tulus tanpa pamrih.

Suami dari Agustine Davinta Rotua Sibrani, seorang mantan pramugari pada salah satu maskapai penerbangan ini, juga kerap menjadi sahabat curhat banyak kalangan muda lintas latar sosial dan suku. Termasuk teman diskusi bagi mereka yang berurusan dengan hukum. Termasuk beberapa artis ibukota yang ia advokasi juga kerap mengajaknya berbagi cerita dan pengalaman.

Suasananya pun kerap seperti saudara, nyaman sekali, lebih dari seorang teman atau sahabat. Ada banyak orang yang merasakan suasana nyaman semacam itu. Saya tentu tak perlu menyebut mereka pada tulisan sederhana ini. Mungkin suatu ketika, kalau ada kesempatan atau bila diizinkan untuk menulis biografi ayah dari seorang anak ganteng bernama Achta Shaquille Rahman ini, saya bakal menyebutnya satu persatu.

Ia juga mudah memaafkan orang yang berbuat curang dan berkata kotor kepadanya. Suatu ketika di laman media sosial, ada beberapa orang menyebutnya dengan sebutan yang menurut saya mestinya membuat dia marah. Dia malah bilang, maafkan saja. Kita semua bersaudara dan saling cinta. Bisa jadi mereka belum kenal akrab atau belum bertatap wajah dengannya.

Bahkan pada beberapa waktu lalu, beberapa orang juga pernah menyudutkannya secara rasial melalui group media sosial tertentu. Lagi-lagi, dia malah memaafkan dan tanpa sedikit pun menyimpan dendam. Bahkan dia menempatkan mereka sebagai orang yang layak dicintai tanpa tapi alias cinta ya cinta saja.

Suatu ketika beberapa orang diantara mereka malah dia ajak makan bareng di sebuah tempat makan yang agak mewah. Tujuannya sederhana, katanya, agar lebih kenal juga persaudaraan dan persahabatan menjadi terikat kuat. Di sini, lagi-lagi, dia bukan saja peduli tapi juga cinta terhadap sesama.

Ya, sosok yang pandai bergaul yang bernama lengkap Muhammad Achyar ini adalah sosok pengacara sekaligus tokoh muda Manggarai Barat (Mabar) yang berjiwa besar dan berlapang dada kepada siapapun. Ia juga sosok yang peduli lingkungan dan keberlanjutan wilayah hijau di beberapa kawasan di Pulau Flores, NTT, terutama di Mabar.

Hal ini dibuktikan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti gerakan pemungutan sampah di tepi pantai yang dilakukannya beberapa kali. Termasuk yang baru saja berlangsung adalah penanaman 5.000 anakan pohon mangrove di Kerora, Mabar. Melalui kerjasama dengan beberapa elemen, ia sukses melakukan ini dengan tujuan jangka panjang dan sangat bermanfaat secara ekologis dan sosiologis.

Selain itu, politisi yang didukung oleh banyak kalangan untuk maju dalam Pilkada Mabar 2020 ini juga kerap memberikan bantuan sosial ke berbagai lembaga, baik yang berlabel sosial maupun yang berlabel keagamaan. Bukan saja sumbangan dalam bentuk uang ke yayasan sosial, tapi juga ke beberapa tempat ibadah keagamaan.

Walaupun apa yang dilakukannya tak berkaitan dengan Pilkada Mabar 23 September 2020 mendatang, apa yang dilakukan oleh entrepreneur muda yang sukses ini telah melakukan kerja nyata bagi warga dan kemajuan Mabar. Ini adalah pemantik sekaligus inspirator nyata bagi siapapun untuk terus melakukan kebaikan tanpa tapi.

Sosok muda yang bermental maju dan berjiwa besar seperti ini perlu diperbanyak di Mabar. Ya perlu dilahirkan sebanyak mungkin di Mabar. Jalurnya bukan saja melalui ranah politik atau partai politik, tapi juga ranah bisnis dan pendidikan. Generasi muda Mabar mesti diberi semangat dan arahan agar tak malu memulai sebuah karir dan usaha yang bersifat mandiri namun punya dampak sosial dan bermanfaat bagi sesama.

Ya, sebagai warga biasa, saya mengajak kita semua agar pada momentum politik seperti Pilkada ini tak boleh membuat kita saling menegasikan antar sesama. Perbedaan sikap juga pilihan politik adalah khazanah dan kekayaan daerah kita yang kaya destinasi wisata, panorama alam dan beragam adat istiadat ini. Sungguh, berbeda itu indah. Bukan kah pelangi itu nampak indah karena warnanya yang beragam?

Saya sendiri bukan kader atau pengurus partai politik manapun. Saya hanya warga biasa asli Kampung Cereng, Desa Golo Sengang, Kecamatan Sano Nggoang-Mabar. Saya juga bukan pemain proyek atau anggaran dan bukan konsultan politik. Saya hanya seorang sahabat dekat tokoh muda yang sering muncul di acara ILC TV One ini, yang pada beberapa waktu lalu sukses menulis buku secara keroyokan dengannya yang berjudul “Selamat Datang Di Manggarai Barat”.

Saya beberapa kali berkunjung atau bersilaturahim ke rumahnya. Di situ saya jarang bicara politik, satu dunia baru yang kini sedang ia geluti. Saya dan sosok yang konsen dengan dunia seni musik dan suara ini justru banyak bicara soal pentingnya generasi muda tampil dalam ranah-ranah penting kehidupan publik juga sosial. Bukan sekadar menjadi politisi, tapi juga menjadi pengusaha atau entrepreneur bahkan pendidik juga seniman yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

Sepertinya dia begitu paham latar saya yang sehari-hari bergulat di kampus dan lembaga pendidikan lainnya, yang tentu saja jauh dari aroma politis. Walau begitu, dia juga sepertinya begitu paham, seperti yang dinarasikan oleh sahabat saya Afif Rivai dalam bukunya “Etika Politik” (2012), bahwa salah satu jangkar politik era modern ini adalah civil engagement, yaitu keterlibatan setiap warga negara dalam politik tanpa mengenal latar sosial dan profesi.

Okelah, itu hak dia. Satu hal yang pasti bahwa seyogyanya politik, termasuk Pilkada Mabar yang segera menjelang, mesti dijadikan sebagai ajang rasionalitas instrumental. Hal ini seperti yang sudah dinarasikan sejak lama oleh Max Weber, bahwa dalam rasionalitas instrumental, politik dijadikan sarana mencapai tujuan dan kemaslahatan bersama, dalam hal ini kemaslahatan warga Mabar.

“Politik Untuk Kemanusiaan; Mainstream Baru Gerakan Politik Indonesia” (2014), demikian topik utama buku karya Tamsil Linrung. Sepertinya Muhammad Achyar mencoba untuk melangkah dalam ranah politik, bukan semata-mata untuk merebut kursi kekuasaan, tapi yang utama adalah untuk kepentingan kemanusiaan. Wujudnya adalah berbagai kegiatan sosial yang ia tunaikan selama ini. Termasuk kelak bila terpilih dan menjabat: kebijakan publik yang pro rakyat Mabar.

Terima kasih banyak kepada Pak Muhammad Achyar atas kepeduliannya kepada Mabar. Ya peduli kepada warga Mabar juga kebersihan lingkungan serta terjaganya lingkungan hijau di Mabar. Semoga siapapun tergerak untuk melakukan kerja-kerja sosial, yang berdampak bagi warga juga Mabar pada masa kini dan pada masa yang akan datang. Selebihnya, semoga kita melakukan semuanya karena dan untuk cinta. Ya, politik cinta. (*)

Senin 20 Januari 2020

Penulis buku “Mencintai Politik”; Nomor WhatsApp 085797644300.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 280 kali

Baca Lainnya