Sosial

Senin, 20 Januari 2020 - 17:19 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Bunuh diri dan Krisis Empati Publik

Albina Redempta Umen*

Hari ini kampung Pelus di desa Golo lobos, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur kembali berduka.

Deni pria paruh baya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan mengantung diri di Pohon cengkeh milik warga. Kampung Pelus menjadi menarik diwartakan karena baru saja diakhir tahun tanggal 25 Desember 2019, seorang perempuan paruh baya juga memutuskan mengakhiri hidupnya dengan mengantung diri, persis tak jauh dari lokus korban Deni hari ini. Tentu ini awal yang buruk untuk catatan riwayat bunuh diri di tahun 2020, di Manggarai Raya.

Dampak Paparan

Teori daerah inti dan paparan dalam studi bunuh diri terlihat pada dua kasus Pelus ini. Daerah terpapar adalah daerah yang berpotensi mengalami kasus yang sama, dikarenakan daerah jangkauan yang dekat, sehingga memungkinkan terjadinya replikasi kasus serupa. Untuk daerah yang terpapar biasanya akan mengikuti pola dan kejadian sebelumnya. Termasuk metode pengakhiran hidup yang dipilih (menggantung diri). Dalam beberapa kasus terlihat bahwa antara korban terdapat pertalian sosiologis, kedekatan sosial, psikologis atau persamaan nasib.

Semakin dekat secara geografis maka pengaruh keterkaitan Psikologis irasional semakin kuat. Misalnya merasa senasib, sekampung atau berkeluarga. Data YMP memperlihatkan bahwa kecenderungan replikasi dalam kasus bunuh diri biasanya mengikuti deret geografis dan jarak. Bulan Desember YMP telah menetapkan Mano dan sekitarnya masuk dalam Red Area terpapar. Dan belum genap sebulan, sudah ada korban dari lokus yang sama. Kasus kali ini patut diduga aspek replikasi paparan ini, menjadi salah satu penyumbang dan pencetus tindakan pelaku.

Semua Masih diam

Dalam dua tahun terakhir lembaga kami, Yayasan Mariamoe Peduli cukup serius melakukan studi tentang bunuh diri di Manggarai Raya. Studi terkait konstruksi psikologi remaja awal dan remaja akhir diawal tahun 2018, sebenarnya telah memberi sign yang sangat jelas soal meningkatnya trend orang mengahiri hidupnya dengan bunuh diri. Data memperlihatkan bahwa dari sepuluh anak remaja yang datang konseling atau berkonsultasi di lembaga kami, terdapat rata-rata 3 orang anak dengan gangguan stress berat dan kecemasan. Gangguan yang sangat serius ini tentu bisa menjelaskan dua fakta. Pertama, turbulensi social yang sangat hebat sedang mengancam banyak anak-anak kita. Kedua, Ketahanan psikologis anak-anak kita jauh sangat menurun disbanding 10 tahun yang lalu. Anak-anak sama sekali tidak memiliki sistim management stress yang mumpuni.

Melihat paparan di atas, artinya bunuh diri di Manggarai Raya itu bukan sesuatu yang unpredictable. Bunuh diri bisa diantisipasi, bisa diurai, bisa dihentikan, dan bisa di nol kan. Soalnya siapa yang mau mendengar? Entah sudah berapa kali kami dengan segala keterbatasan mendorong dan mengingatkan banyak pihak, bahwa situasi sosial kita sudah buruk. Manggarai Raya darurat bunuh diri. Angka proyeksi yang pernah kami gambarkan tahun 2018, terkait dengan trend dan pilihan orang akan melakukan bunuh diri, akan terus mengikuti deret ukur. Alhasil angka Psikologis satu orang akan bunuh diri setiap bulan, justru terlampaui dua kalinya. Kita masih diam? Sepertinya akan tetap diam, karena isu sekelas bunuh diri masih dilihat sebagai urusan privat. Bunuh diri diletakkan sebagai aib dan alasan pribadi, dan dibuat seolah tak terkait dengan situasi social.

Alhasil orang bunuh diri hanya akan diabadikan sebagai pecundang dan pengecut, sampai kita lupa bahwa mereka juga korban. Walaualam.

Menyisir Dugaan Penyebab


Saya ingin menarik kasus bunuh diri ini dalam konteks Psikologi sosial. Studi YMP memperlihatkan beberapa pemicu yang diduga sebagai trigger bagi banyak orang hinga akhir_akhir ini, mengambil jalan pintas untuk bunuh diri.

Pertama, tekanan sosial yg berdampak pada tekanan hidup. Harus diakui gaya hidup yg semakin hari semakin individualis, dan ikut-ikutan, serta berpacu dengan kecepatan sosial membuat masyarakat bertumbuh dalam dunianya masing-masing.
Mereka berdialog dalam imaji dan presepsinya sendiri tentang hidup. Dan banyak yang kalah dalam pertempuran itu.

Kedua, Karakter pribadi tertentu. Karakter individu yg tertutup, pendiam, cenderung putus asa,rigid/kaku, kurang fleksibel, tidak bertanggung jawab, akan lebih berpotensi melakukan tindakan pengakhiran diri dibandingkan individu yang terbuka, memiliki hubungan sosial yang baik, bertanggung jawab dan lebih fleksibel menjalani hidup.

Ketiga. Kita lupa mengajarkan kecerdasan mengelolah resiko pada anak-anak kita hari ini. Pola asuh kita telah alpha untuk memberikan kesempatan pada anak untuk beresiko. Anak-anak bertumbuh dalam kemudahan dan sedikit sekali bahkan tidak diberi ruang untuk menghadapi sekaligus menegelolah resiko dengan benar. Konstruksi psikologi seperti ini rentan dirasuki keputusan untuk melakukan bunuh diri.

Keempat, Mereka tidak pernah ingin mati. Individu yang melakukan penghakiman terhadap dirinya sendiri sebenarnya bukan menginginkan kematian tetapi ingin keluar dri masalah dan stres yg sedang mereka hadapi yg merupakan resiko drisuatu tindakan yg telah dilakukan,namun rupanya sedikit sekali orang yang mampu bertanggung jawab dan menerima resiko atas apa yg telah dilakukan maka pada saat seperti ini butuh sekali kecerdasan ini agar mampu menyelesaikan dan kemudian menemukan solusi atas masalahnya.

Kelima, Orientasi kecerdasan. Dari semua factor penyebab yang telah dikemukakan diatas, saya memberi stressing pada aspek orientasi kecerdasan yang banyak diajarkan hari ini disekolah-sekolah atau pendidikan non formal lainnya. Akhir-akhir ini kehidupan sosial nampaknya kurang sehat. Masyarakat terlalu fokus pada pengembangan kecerdasan intelektual, mengejar kepintaran otak dan lupa untuk mengembangkan kecerdasan emosional. Padahal dalam kecerdasan emosional terdapat domain untuk mendidik hati, belajar empati, care terhadap lingkungan sekitar, menjalin hubungan sosial yang baik dalam masyarakat, dan banyak lainnya. Masyarakat kita sedang mengalami krisis empati dan krisis kepekaan. Dua kecerdasan yang sebenarnya berada pada kecerdasan emosional, yang justru diabaikan oleh banyak orang. Jadi bunuh diri akan semakin subur seiring dengan meluasnya ketidakpedulian dan memudarnya rasa empati masyarakat bagi orang lain. Jika ini alasannya, harusnya bisa didesain sebuah konsep koloni sosial baru dengan penguatan pada sisi empati individu. Mungkinkah harus ada sekolah empati? Cek kiri kananmu!!

• Direktur dan Praktisi Psikologi pada Yayasan Mariamoe Peduli

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 139 kali

Baca Lainnya