Menu

Mode Gelap
 

Pendidikan · 24 Des 2019 07:40 WIT ·

Ujian Nasional Hendaknya Bersifat Authentic Assessment


 Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

*Oleh: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum

Pendidikan merupakan hal yang teramat penting untuk dikaji karena pendidikan merupakan ujung tombak keberhasilan sebuah negara untuk menyejahterakan kehidupan masyarakatnya. Kemajuan suatu negara tidak terlepas dari usaha peningkatan mutu pendidikannya.

Peningkatan mutu pendidikan memang memerlukan proses yang panjang. Begitu juga peningkatan kualitas pendidikan di negara Indonesia memerlukan proses. Pemberlakukan atau perbaikan kurikulum merupakan jalan yang tepat untuk mengubah paradigma pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Penyesuaian pendidikan dengan perkembangan teknologi merupakan langkah nyata perbaikan pendidikan di Indonesia. Bagaimana pendidikan mengakomodasi perkembangan tekologi sehingga learning outcome memiliki keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja. Untuk mengetahui keterampilan learning outcome dapat dikaji dari pelaksanaan penilaian akhir yang dilakukan. Selama ini untuk mengukur kapabilitas siswa dilakukan dengan Ujian Nasional (UN).

Perjalanan panjang UN ternyata menyisakan masalah. Awalnya, penerapan UN dijadikan parameter untuk menilai mutu di Indonesia. Hal ini tentu kurang tepat. Bagaimana UN dipakai untuk mengukur mutu pendidikan pada kenyataannya banyak sekolah yang berada di daerah pinggiran tidak memiliki sarana dan prasarana yang tidak memadai. Hal ini tidak rasional. Masalah lain yang muncul, UN dijadikan penentu kelulusan siswa. Ini merupakan syarat yang berat bagi siswa. Dengan kebijakan itu, setiap sekolah banting tulang mengadakan pembelajaran tambahan untuk menjejali siswa dengan hafalan. Hal ini dilakukan guru untuk mencapai target agar siswa bisa lulus 100%. Pelaksaan UN diwarnai dengan kecurangan. Dengan target 100% lulus, sekolah menempuh berbagai macam cara untuk menyukseskan pelaksaan UN dengan harapan siswa bisa 100 % lulus.

Wacana pergantian UN dengan Asesmen Kompetensi Minimum yang mirip seperti Programme for International Student Assessment (PISA) telah diwacanakan oleh Menteri Nadiem Makarim. Asesmen tersebut berupa kompetensi minimum,literasi, numerasi, plus ada survei karakter.
Ide Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebenarnya sudah tertuang dalam konsep aunthentic assessment seiring pemberlakuan Kurikulum 2013. Penilian ini diterapkan baik dalam proses dan maupun pada akhir pembelajaran. Draft pelaksanaan penilaian ini untuk menilai keterampilan secara otentik yang telah dimiliki siswa. Pada intinya penilaian ini memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengikuti pembelajaran pada setiap mata pelajaran.

Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain.

Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. Penilaian autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai. Penilaian autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunakan standar tes berbasis norma, pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan, atau membuat jawaban singkat.

Ada empat kompetensi yang diukur dalam penilalian autentik yang sesuai dengan Kurikulum 2013 yaitu KI 1 (Kompetensi Inti sikap Spiritual), KI 2 (Kompetensi Inti sikap Sosial), KI 3 (Kompetensi Inti Pengetahuan), dan KI 4 (Kompetensi Inti Keterampilan). Kompetensi inti pada Kurikulum 2013 merupakan tingkat kemampuan untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang harus dimiliki seorang siswa pada setiap tingkat kelas (Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016).

Kompetensi inti pencapaiannya dijabarkan kedalam bentuk kompetensi dasar. Kompetensi dasar merupakan kemampuan dan materi pembelajaran minimal yang harus dicapai siswa untuk suatu mata pelajaran pada masing-masing satuan pendidikan. Kompetensi dasar tersebut dituangkan kedalam indikator. Indikator inilah merupakan parameter pencapaian kompetensi dasar (KD) dan kompetensi inti (KI). Parameter pencapaian tersebut harus mencakup kemampuan dalam kehidupan nyata siswa.

Perubahan terhadap sistem pendidikan tidaklah dilakukan secara masif karena perubahan dalam pendidikan masih menyisakan pertanyaan yang tidak terjawab. Ke mana arah pendidikan kita?

*Wakil Rektor I Universitas Dwijendra Denpasar

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 121 kali

Baca Lainnya

Gerakan Sekolah Menyenangkan

25 Oktober 2021 - 00:53 WIT

SMK Stella Maris Menuju Sekolah “Ramah Anak”

16 Oktober 2021 - 12:04 WIT

Berbicara dan Menulis

8 Oktober 2021 - 10:45 WIT

Bertelurlah di ‘Lapangan Luas’

4 Oktober 2021 - 12:31 WIT

REFLEKSI PGP; Peran dan Nilai Guru Penggerak

13 September 2021 - 11:50 WIT

Asesmen Nasional: Manggarai Barat Siap!

22 Juni 2021 - 12:24 WIT

Trending di Pendidikan