Sosial

Senin, 2 Desember 2019 - 01:36 WIB

5 hari yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

Afra Dan Upaya Memerangi Human Traficking

Oleh : Antonius Gatung*

Masyarakat Rana Mese bahkan Manggarai Timur sempat dikejutkan oleh pemberitan media online tentang kekerasan yang dialami oleh Afra, Pekerja asal kampung Gurung, Desa Sita Kecamatan Rana Mese belum lama ini. Bermaksud mengais rejeki di Ibu kota negara, apa daya Afra mengalami nasib buruk, kala majikannya memperlakukan kurang beradab terhadapnya bahkan diberitakan Afra tidak diberikan upah selama kurang lebih sembilan tahun.

Beruntung, Afra masih sempat tertolong sehingga mendapat perawatan yang wajar sampai keadaannya semakin membaik. Tetapi persoalan sebetulnya bukan semata-mata pada kekerasan fisik saja. Rentetan persoalan selanjutnya dari peristiwa tersebut sangat kompleks. Masih perlu dipantau terkait masalah mental/psycologis dari korban. Jangan sampai, korban mengalami gangguan mental/traumatis dari kejadian kekerasan fisik yang dialaminya. Bagaimana kemudian tanggung jawab pemerintah (daerah) pasca kejadian termasuk upaya mencari keadilan (penyelesaian secara hukum) setidaknya untuk menjerat pelaku yang juga mantan majikan Afra itu. Jangan sampai kemudian Pemerintah Daerah terkesan apatis bahkan tidak punya minat untuk menyelesaikan kasus tersebut.

Afra Melalui kuasa hukumnya, sempat menuding pihak PEMDA MATIM (dinas terkait) dinilai menghalang-halangi tim kuasa hukum dalam upaya advokasi terhadap korban kekerasan itu. Namun, melalui Biro Humas dan Protokoler Pemkab Matim, menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak benar (disertai dengan argumentasi dan penjelasannya) seperti yang diberitakan posflores.com Kamis, 21 November 2019 .

Terlepas dari persoalan- persoalan di atas, sebenarnya ada hal penting yang cukup serius yang menjadi poin diskursus kita kali ini. Kekerasan yang dialami oleh Afra tadi, mungkin hanya satu dari sekian kekerasan yang menimpa warga/pekerja Rana Mese bahkan Matim di perantuan. Sebagian masyarakat mungkin berpikir bahwa kekerasan serupa hanyalah sebagian dari kesialan semata sehingga tidak perlu diumbarkan. Kita mesti menyadari bahwa, persoalan yang paling mendasar adalah pada kepedulian kita terhadap terjadinya human traficking (perdagangan manusia) yang kian waktu kian marak terjadi (meski penulis tidak memiliki referensi terstruktur terkait kasus perdagangan manusia ini) namun tidak diimbangi dengan lifeskill yang memadai.

Perdagangan manusia, khususnya di Rana Mese dalam prakteknya dibaluti dengan alasan mencari pekerjaan yang layak sehingga sulit dipahami sebagai tindakan melawan hukum. Banyak sekali modus yang dilakukan oleh pelaku agar tidak terbongkar kedok jahatnya. Seperti pada kasus Afra Ambol tadi, kalau kita kaji lebih jauh bahwa sebetulnya sudah terjadi praktek tidak bagus dalam perekrutan korban sebagai Asisten Rumah Tangga (ART). Diperkirankan usia Afra sewaktu direkrut melalui yayasan BRB adalah 15 tahun, berarti sudah terjadi pelanggaran hukum karena mempekerjakan anak di bawah umur.

Namun, persoalan kita selanjutnya adalah, bagaimana upaya kita untuk memerangi kejahatan perdagangan manusia di daerah ini khususnya di Rana Mese. Tentunya, persoalan ini menjadi tanggung jawab semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, tokoh agama dan tokoh lainnya agar tidak ada Afra – Afra Lainnya dikemudian hari. Kita tidak boleh apatis terhadap terjadinya perdaganan manusia demi menyelamatkan kehidupan generasi bangsa. Mesti ada komitmen yang kuat dari semua pihak untuk mencegah human traficking dengan cara dan pendekatan yang praktis. Meski upaya ini tidak mudah karena kesadaran masyarakat akan potensi perdagangan manusia masih sangat rendah, sebab di sisi lain para orang tua tidak merasa keberatan meskipun anak mereka diberangkatkan untuk tujuan bekerja sekalipun tidak memiliki kemampuan yang mumpuni baik secara akademik maupun yang bersifat konvensional.

Justru inlah sumber persoalan yang kompleks tadi. Satu sisi, ada kemauan untuk bekerja dengan catatan mendapat penghasilan, namun di sisi lain mereka ( calon tenaga kerja) tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh majikan. Terlepas dari tindakan kriminal yang dilakukan Fredi majikan(dari Afra) tadi, kita perlu juga memikirkan alasan terjadinya kekerasan itu. Bisa saja sang majikan merasa kurang puas dengan pelayanan yang diberikan korban sementara pelaku mesti membayar gaji bulanan terhadap korban kalaupun tidak sepenuhnya dibayarkan. Maka poinnya disini adalah, bagaimana membekali pekerja dengan kompetensi yang memadai.

Sebagai langkah konkrit dalam upaya mencegah perdagangan manusia yang berbuntut pada kekerasan secara fisik adalah dengan membekali setiap calon tenaga kerja dengan tiga hal yang paling mendasar yakni, pengetahuan, keterampilan dan kompetensi/kemampuan (M. Gorki Sembiring).

  1. Pengetahuan
    Pengetahuan merupakan unsur pertama yang harus dimiliki dalam kehidupan manusia. Fatal jadinya kalau pengetahuan kita sangat rendah sementara kita dituntut untuk bekerja semaksimal mungkin demi memberi nilai yang bermanfaat bagi orang lain/majikan. Kesadaran masyarakat tradisional kita terhadap pengetahuan ini kurang nampak, apalagi sebagian dari kita beranggapan bahwa, menjadi asisten rumah tangga tidak perlu bersekolah. Toh, hanya melakukan pekerjaan rumah saja untuk apa susah-susah bersekolah. Masyarakat tradisional kita lupa, bahwa perkembangan jaman memaksa kita untuk terus beradaptasi agar tidak tertinggal. Saya bayangkan, ketika seorang asisten rumah tangga tidak memahami cara penggunaan alat teknologi rumah tangga misalnya ; mesin cuci, setrika listrik, ricecooker dan alat elektronik lainnya. Maka dapat dipastikan, pelayanan dari ART itu tidak memuaskan dan bahkan berpotensi meninimbulkan kekerasan fisik oleh majikannya. Kalaupun kita tidak menginginkan hal itu terjadi. Cara yang paling tepat untuk memperoleh pengetahuan yang cukup adalah bersekolah. Hanya itu satu-satunya cara, sehingga para orang tua mesti ditanami kesadaran tentang pentingnya bersekolah sebelum mereka mengutus anak-anak ke perantuan. Tentunya pengetahuan saja tidak cukup. Maka dari itu kita masih memerlukan unsur yang kedua yaitu keterampilan.
  2. Keterampilan
    Keterampilan merupakan keahlian yang dimiliki setiap orang dan menjadi bagian yang intrinsik dari orang tersebut(M. Gorki Sembiring, 2008 ; 70). Dalam kaitan pekerjaan Asisten rumah tangga, keterampilan sangat dibutuhkan tidak saja untuk membuat majikan merasa senang, namun juga merupakan suatu jaminan bagi si pekerja akan lebih survive berada disuatu tempat. Dengan begitu, kedua belah pihak akan saling bergantungan yang menguntungkan (mutual simbiosisme). Jika ini yang terjadi, maka saya pastikan tidak ada lagi kekerasan yang menimpa setiap Asisten Rumah Tangga. Di samping itu, keuntungan lain yang dapat diperoleh adalah terciptanya hubungan yang harmonis antara majikan dengan ART. Apakah pengetahuan dan keterampilan sudah cukup untuk menjadi modal bekerja sebagai ART? Jawabannya adalah belum tentu. Resultante sinergis pengetahuan dan keterampilan akan menghasilkan kompetensi.
  3. Kompetensi
    Unsur ketiga yang juga merupakan modal penting sebagai bekal seorang pekerja termasuk ART adalah Kompetensi/kemampuan. Dengan memiliki kompetensi/kemampuan, seorang ART tentunya dapat dengan mudah menyelesaikan segala pekerjaan rumah tangga yang dibebankan kepadanya. Tentu dengan kompetensi ini, setiap pekerja juga sekaligus membangun kepercayaan diri yang tinggi dan mampu mengatasi secara mandiri setiap persoalan yang timbul dari resiko pekerjaan-nya.

Kurang lebih, ketiga hal di atas bisa menjadi solusi dalam upaya mencegah terjadinya perdagangan manusia. Perlu diingat bahwa, perdagangan manausia itu terjadi karena rendahnya sumber daya manusia, baik keluarga maupun secara khusus korban itu sendiri. Maka dengan memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan/kompetensi, sekiranya calon tenaga kerja itu diberangkatkan bukan dalam bingkai perdagangan manusia melainkan sebagai tenaga siap pakai. Dalam contoh kasus Afra misalnya, bahwa Afra diberangkatkan melalui sebuah yayasan. Bisa saja yayasan yang merekrutnya dulu boleh mendapat keuntungan besar dari majikan yang mempekerjakan si Afra.
Setiap kita, terutam pihak pemerintah mulai dari tingkat bawah, mesti benar-benar memperhatikan secara serius terhadap persoalan perdagangan manusia ini. Mesti ada komitmen yang teguh untuk memerangi hal ini bahkan dari semua pihak yang disebutkan tadi. Perlu juga memberi atensi khusus bagi calon pekerja yang SDM rendah agar sedapat mungkin bisa memberikan pelatihan dan bimbingan untuk memberi pengetahuan, keterampilan dan kompetensi sebagai syarat mutlak sesorang masuk pada dunia kerja. Kita jangan lagi menutup mata dan telinga untuk tidak melihat dan mendengar kasus perdagangan manusia. Mesti perlu memberikan sangsi yang tegas terhadap setiap keluarga yang mau memberangkatkan anaknya ke perantauan meskipun dalam kondisi serba terbatas (SDM rendah). Perlu adanya tindakan secara konkrit, misalnya menghentikan penyaluran berbagai bentuk sumbangan/bantuan sosial terhadap keluarga yang tidak memperdulikan pendidikan anak-anaknya. Dengan demikian ada tanggung jawab yang penuh bagi setiap orang tua untuk tidak membiarkan anak mereka putus sekolah.

Langkah konkrit lainnya, dengan membentuk wadah yang berkompeten di tingkat desa dan kecamatan untuk melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap anak putus sekolah agar mereka benar-benar disiapkan sebagai tenaga kerja yang terampil. Faktanya, kasus perdagangan manusia itu terjadi justuru mulai dari desa –desa dan menimpa anak putus sekolah. Maka cara yang paling efektif untuk menghentikan kasus tersebut adalah dengan memberikan sentuhan secara langusng ke desa-desa untuk memutus mata rantai perdagangan manusia atau human traficking. Keterlibatan semua pihak juga sangat diperlukan. Harus ada kerja sama yang lebih nyata, tidak sekedar himbauan dan wacana, semoga.

*Penulis adalah ketua DPP Paroki Nangalanang

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 100 kali

Baca Lainnya