Manggarai Barat

Rabu, 27 November 2019 - 01:24 WIB

1 minggu yang lalu

logo

SUPM, Keranga Dan Pilkada Mabar

Oleh: Muhammad Achyar*

Manggarai Barat atau Mabar merupakan salah satu kabupaten yang sangat unik di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain memiliki tanah produktif yang dimanfaatkan oleh warga Mabar untuk bertani dan berkebun, ada juga lautan yang kaya akan ikan dan berbagai jenis kekayaan alami lainnya.

Mabar yang berada di ujung paling barat pulau Flores sekaligus kabupaten paling barat NTT memiliki berbagai kekayaan laut terutama jenis ikan dan udang yang sangat bermanfaat, terutama untuk meningkatkan kualitas ekonomi warga Mabar itu sendiri.

Agar kekayaan semacam itu semakin bermanfaat dan memberi dampak signifikan bagi pembangunan daerah terutama dalam meningkatkan kualitas ekonomi warga, maka dibutuhkan infrastruktur yang mendukungnya. Baik dalam sarana prasarana penopang maupun infrastruktur pengetahuan sebagai penopangnya seperti sekolah atau perguruan tinggi.

Kalau ditelisik, salah satu kebutuhan Mabar yang sudah diimpikan sejak lama oleh para tokoh dan warga Mabar bahkan, ketika dulu masih menyatu dengan Manggarai, oleh tokoh dan warga Manggarai adalah adanya Sekolah Menengah Atas khusus terkait kelautan dan perikanan. Bahkan sebagian tokoh juga memimpikan adanya kampus atau perguruan tinggi kelautan dan perikanan.

Impian semacam itu sangat rasional, sebab Mabar termasuk daerah yang kaya akan pantai dan lokasi yang dekat dengan pantai. Bahkan masih tersedia lokasi yang dapat dimanfaatkan untuk itu. Jangan jauh-jauh, tanah Keranga, yang terletak di Labuan Bajo, lokasinya sangat tepat dijadikan sebagai pusat pendidikan yang terkait dengan impian itu.

Bupati Manggarai periode 1988-1999, Bapak Gaspar Parang Ehok dulu pada prinsipnya sudah menginisiasi pendirian SMA semacam itu, atau yang pada zaman sekarang kita kenal dengan sebutan Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM). Seperti di Tegal (Jawa Tengah), Kupang (NTT), Pariaman (Sumatra Barat) dan masih banyak lagi.

Selain itu, para tokoh Mabar dan warga Mabar juga menginginkan hal serupa. Terlebih lagi azas kebutuhan warga di sekitaran pantai se-Mabar, adanya pusat pendidikan yang mengakomodir kebutuhan semacam itu semakin relevan dan tentu perlu diinisiasi oleh pemerintah maupun swasta.

Dampak hadirnya lembaga pendidikan semacam itu sangat besar. Sebab warga akan mendapatkan semacam ilmu pengetahuan yang paten seputar manajemen pengelolaan hasil laut seperti ikan, udang dan sebagainya, di samping memanfaatkan laut dan pantai lebih ekonomis.

Dengan adanya lembaga pendidikan yang khusus dan fokus semacam itu nantinya akan memberi dampak pada upaya pemberdayaan sumber daya kelautan secara integratif dan profesional, sebab basisnya pengetahuan, di samping mungkin karena tersedianya laboratorium pengelolaan yang bisa dijadikan sebagai contoh bagi warga sekitar dalam pengelolaan hasil laut.

Untuk menopang itu, sekolah bisa bekerjasama dengan pemerintah dan stakeholder yang lain agar menyediakan pusat pendidikan dan pelatihan yang menunjang keterampilan perihal pengelolaan hasil laut dan pemberdayaan laut juga pantai secara produktif.

Saya sangat optimis bahwa apa yang menjadi impian para tokoh, warga dan berbagai stakeholder tentang perlu adanya lembaga pendidikan seperti SUPM seperti yang saya ungkap di awal akan terwujud, tempatnya di Keranga, Labuan Bajo.

Sebagai bagian dari kalangan muda dan kini terjun di jalur politik, dalam hal ini khususnya Pilkada Mabar 2020, saya punya keyakinan dan optimisme bahwa kelak di Mabar akan hadir SUPM bahkan perguruan tinggi yang fokus menigkatkan kualitas SDM dan pemberdayaan warga serta peningkatan kualitas pengelolaan kelautan Mabar.

Selain itu tentu pemberdayaan warga dalam hal pemanfaatan laut dan pantai secara profesional dan lebih ekonomis, sehingga memberi dampak signifikan bagi kesejahteraan atau kualitas ekonomi warga, bahkan bisa menjadi sumber pendapatan daerah atau Pendapatan Asli Daerah (PAD) Mabar.

Sederhananya, tanahnya tersedia, SDM pun bisa disediakan, dana pembangunan bisa diupayakan, dan segala kebutuhan administrasi dapat dipayakan juga. Hal penting yang mesti dihadirkan sekarang adalah kebersamaan, soliditas dan tanggungjawab moral serta aksi ril untuk mewujudkan itu semua.

Bila selama ini Pilkada selalu dikonotasikan sebagai kompetisi politik yang begitu keras maka saat ini kita bangun semacam perspektif politik baru bahwa Pilkada adalah kompetisi ide, narasi dan program atau dalam bahasa saya kompetisi impian. Itulah yang membuat politik Mabar semakin bermutu dan layak kita wariskan kepada generasi baru di masa yang akan datang. Dan itu pulalah syarat lain untuk memenangkan pertarungan politik atau Pilkada Mabar pada 23 September 2020 mendatang. Salam Politik Cinta.

*Bakal Calon Wakil Bupati Manggarai Barat Periode 2020-2025

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 384 kali

Baca Lainnya