Manggarai Barat

Senin, 25 November 2019 - 02:15 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Kawasan Kerangan atau yang lazim disebut Karanga, Lokasi yang dipilih Bupati Manggarai Gaspar Ehok untuk dibukakan sekolah kalautan dan Perikanan. Tanah warisan pemkab Manggarai pada anaknya Manggarai Barat kini berada dibawah penguasaan segelintir orang (Foto: TeamYPF/Andre Kornasen)

Kawasan Kerangan atau yang lazim disebut Karanga, Lokasi yang dipilih Bupati Manggarai Gaspar Ehok untuk dibukakan sekolah kalautan dan Perikanan. Tanah warisan pemkab Manggarai pada anaknya Manggarai Barat kini berada dibawah penguasaan segelintir orang (Foto: TeamYPF/Andre Kornasen)

Tentang Impian Gaspar Ehok di Tanah Kerangan

Impian Gaspar Ehok untuk mendirikan Sekolah perikanan di Labuan Bajo kandas dan mungkin dikianati. Ini sebuah opini Willy Grasias penulis sekaligus wartawan yang menelusuri jejak soal mafia tanah di Labuan Bajo*

Ada yang luput dari perhatian kita semua ketika terjadi ribut masalah Tanah Pemda di Labuan Bajo atau memang sengaja tidak disinggung. Sementara hal itu sangat penting untuk membuat masalah tanah itu jadi terang dan jelas.

Tentang tokoh sentral, penyebab adanya tanah itu dan impiannya. Mantan Bupati Manggarai Gaspar Ehok. Dari banyaknya informasi, data/dokumen yang beredar di medsos, ada satu dokumen yang mengungkapkan hal-hal penting berhubungan dengan masalah Tanah Pemda itu.

Dokumen itu adalah Surat Pernyataan/Penegasan mantan Bupati Manggarai Gaspar Ehok yang dibuat dan ditandatangi di Labuan Bajo pada tanggal 22 Oktober 2014, disaksikan oleh Bupati Manggarai Barat Drs. Agustinus Ch, Sekretaris Daerah Kab, Manggarai Barat, Mbon Rofinus, S.H. M. Si, Kabag. Administrasi Pemerintahan Umum – Setda Kab. Manggarai Barat, Drs. Ambrosius Sukur. Para saksi ini mewakili yang hadir rapat. Artinya, Surat Pernyataan/Penegasan tersebut dibuat dan ditandatangani dalam suatu rapat bertempat di ruang rapat Bupati Manggarai Barat dan dihadiri banyak pihak.

Impian Pemimpin Visioner

Surat Pernyataan/Penegasan itu memberikan saya informasi tentang Bupati Gaspar Ehok sebagai seorang pemimpin yang visioner. Di tahun awal, Periode I, menjadi Bupati Manggarai, Beliau sudah memiliki impian. Membangun Sekolah Perikanan dan Kelautan di Labuan Bajo.
Bayangkan! Di masa itu sudah memikirkan pentingnya mempersiapkan generasi muda, generasi masa depan Manggarai lewat institusi pendidikan perikanan dan kelautan untuk mengelola kekayaan laut di Manggarai.

Kepada Sekjen FORMAMATA, Frans Harum Mantan ajudan Bupati Gaspar Ehok menunjukan lokasi Kerangan atau yang lazim disebut Karanga. Menurutnya Lokasi Kerangka yang dipilih bupati Manggarai Gaspar Ehok saat itu adalah lokasi yang rata dan cocok untuk dibangun sekolah kelautan dan perikanan. Frans Harum menjadi satu – satunya ASN yang ditunjuk Bupati Gaspar Ehok untuk mendatangi lokasi tersebut pada tahun 1989 (Foto: TeamYPF/Andre Kornasen)

Pemikiran ini, impian ini, tentulah lahir dari kesadarannya tentang bangsa Indonesia adalah bangsa maritim. Dan laut adalah wilayah Indonesia yang jauh lebih luas dan jauh lebih kaya dibandingkan dengan daratan. Di tingkat nasional kesadaran seperti ini dan perhatian besar pada apa yang dipikirkan dan diimpikan Bupati Gaspar Ehok baru terasa di era Presiden Jokowi. Untuk mewujudkan impian membangun Sekolah Perikanan dan Kelautan bagi pendidikan generasi Manggarai masa depan, Bupati Gaspar Ehok membutuhkan lokasi tanah di Labuan Bajo.

Kerangan Ditunjuk dan Disebut

Dinyatakan dan ditegaskan Bupati Gaspar Ehok dalam Surat Pernyataan/Penegasan itu bahwa untuk keperluan tanah tempat pembangunan Sekolah Perikanan dan Kelautan, Beliau mendatangi Kraeng Dalu/Fungsionaris Adat Kedaluan Nggorang H. Ishaka (Alm). Meminta sebidang tanah ulayat.

Permintaannya langsung dikabulkan oleh Kraeng Dalu dengan menyebut dan menunjuk tanah ulayat di Kerangan. Begitu dinyatakan dan ditegaskan Bupati Gaspar Ehok dalam Surat Pernyataan dan Penegasannya itu.

Saya berada di Labuan Bajo saat masalah Tanah Pemda ini ramai dibicarakan di media masa dan medsos. Saya tanyakan kepada beberapa orang yang mengetahui dimana tanah Kerangan yang dimaksud dalam Surat Pernyataan dan Penegasan itu.

Saya ke lokasi di Kerangan itu. Lokasi tanah itu disebut sebagai Lengkong Kerangan. Di Lengkong Kerangan itu tanahnya datar, tidak berbukit seperti kebanyakan topografi di kawasan itu. Memiliki pasir pantai putih. Langsung punya akses ke laut. Cocok untuk tempat pembangunan Sekolah Perikanan dan Kelauatan yang diimpikan Bupati Gaspar Ehok. Di situlah lokasi tanah yang ditunjuk dan disebut Fungsionaris Adat Nggorang menanggapi permintaan Bupati Gaspar Ehok.

Maka, berdasarkan Surat Pernyataan dan Penegasan Bupati Gaspar Ehok, dan sesuai dengan maksud/tujuan bidang tersebut sebagai tempat pembangunan Sekolah Perikanan dan Kelautan, maka yang disebut sebagai Tanah Pemda itu tidak lain daripada bidang tanah di Kerangan tersebut.

Pengkianatan Impian

Dalam Surat Pernyataan/Penegasan itu Bupati Gaspar Ehok menyatakan dan menegaskan bahwa berdasarkan penyerahan/pelepasan tanah ulayat di Kerangan, Beliau langsung membentuk tim dan menugaskannya untuk menyelesaikan semua urusan adat dan seluruh proses administrasi pertanahan sesuai aturan yang berlaku.

Sampai dengan berakhir masa jabatannya, tim dimaksud ternyata belum tuntas menyelesaikan tugasnya sehingga Bupati Gaspar Ehok belum dapat menandatangani Berita Acara Pelepasan Hak/serah terima tanah di Kerangan tersebut. Begitu dinyatakan dan ditegaskan Bupati Gaspar Ehok dalam Surat Pernyataan dan Penegasan itu.

Namun, begitu dinyatakan dan ditegaskan Bupati Gaspar Ehok, dengan pertemuannya dengan Dalu/Fungsionaris Adat Kedaluan Nggorang, dan dengan penyebutan dan penunjukan tanah ulayat di Kerangan itu oleh Dalu/Fungsionaris Adat sesungguhnya tanah ulayat Kerangan untuk pembangunan Sekolah Perikanan dan Kelautan tersebut telah diserahkan dan menjadi milik Pemda Manggarai.

Saya coba menelusuri mengapa tim tersebut, dalam waktu yang begitu lama, tidak tuntas menyelesaikan tugasnya. Dari berbagai sumber informasi saya menemukan bahwa tanah di Kerangan yang sudah disebutkan, ditunjuk, dan diserahkan kepada Bupati Gaspar Ehok atas nama Pemda Manggarai, dialihkan oleh orang-orang yang dipercayakannya sebagai tim dan menjadikan tanah tersebut sebagai milik pribadi.

Lalu orang-orang tersebut mengarahkan dan mengalihkan tanah tempat Bupati Gaspar Ehok hendak mewujudkan impiannya ke lokasi, yakni tanah bukit dengan pantai curam/terjal dan tidak memiliki akses langsung ke laut. Bukit Toroh Lemma Batu Kallo yang diklaim Haji Adam Djudje sebagai tanah miliknya berdasarkan Surat Bukti Penyerahan Tanah Adat tahun 1990.

Dari beberapa sumber di Labuan Bajo saya mendapat informasi bahwa saat Bupati Gaspar Ehok datang melihat lokasi tanah tempat beliau hendak mewujudkan impiannya akan Sekolah Perikanan dan Kelautan. Tetapi ketika tanah yang ditunjuk adalah tanah bukit Toroh Lemma Batu Kallo, beliau marah dan kecewa.

Sejak itu impiannya akan membangun Sekolah Perikanan dan Kelautan untuk mempersiapkan generasi Manggarai masa depan yang pandai dan cerdas mengelola sumberdaya laut, layu dan mati. Impian indah pemimpin visioner itu tidak terwujud karena pengkianatan. Ada cerita pengkiatan impiannya di tanah Kerangan itu.

Dan seperti cerita pengkianatan itu terus berlanjut dengan upaya mengaburkan Tanah Pemda di Kerangan yang menurut Gaspar Ehok telah diserahkan dan jadi hak milik Pemda.

Haji Adam Djudje bersama Frans Harum, Dua tokoh utama yang mengetahui secara persis lokasi yang dipilih Bupati Gaspar Ehok untuk sekolah perikanan dan kelautan di Labuan Bajo (Foto: TeamYPF/Andre Kornasen)

Lewat Surat Pernyataan dan Penegasan yang dibuat dan ditandanginya dalam Rapat di Ruang Rapat Bupati Manggarai Barat di Labuan Bajo, pada tanggal 22 Oktober 2014, dihadapan para peserta rapat, dan surat itu ditandangani pula oleh para saksi perwakilan peserta rapat, yakni Bupati, Sekda, Kab. Administrasi Pemerintahan Umum, Bupati Gaspar Ehok sudah jelas dan terang menyatakan dan menegaskan hal-hal yang mengklarifikasi sebab adanya Tanah Pemda, tujuan/maksud adanya Tanah Pemda itu, dan Lokasi Tanah Pemda itu di Kerangan.

Mestinya dengan Surat Pernyataan dan Penegasan Bupati Gaspar Ehok, masalah Tanah Pemda di Kerangan itu sudah jelas dan terang. Tidak menimbulkan polemik lagi. Tetapi terkesan Pemda Mabar dan pihak-pihak yang mungkin memiliki kepentingan di tanah Kerangan itu berupaya mengabaikan Surat Pernyataan dan Penegasan tersebut. Skenario para pengkianat impian Bupati Gaspar Ehok di tanah Kerangan sepertinya terus dilanjutkan.

Keiklasan, kejujuran, kebenaran, yang merupakan integritas Bupati Gaspar Ehok tercermin dan terungkap dalam Surat Pernyataan dan Penegasan tersebut sepertinya juga hendak dikuburkan bersama impiannya akan Sekolah Perikanan dan Kelautan di tanah Kerangan itu.***

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 256 kali

Baca Lainnya