Sosial

Kamis, 14 November 2019 - 04:12 WIB

3 minggu yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

Hormat Terhadap MGR. Siprianus Hormat

(Catatan Apresiatif dari Seorang ‘Mantan Mahasiswa‘)

Oleh : Silvester Joni*

Desas-desus seputar ‘siapa’ yang menduduki ‘takhta Keuskupan Ruteng’, sudah terjawab hari ini, Rabu, 13/11/2019. Pihak otoritas Vatikan (pusat Gereja Katolik Roma) secara resmi mengumumkan Rm. Dr. Siprianus Hormat, Pr sebagai Uskup Ruteng yang baru. Yang Mulia, Mgr. Siprianus Hormat, ditunjuk Vatikan untuk menempati ‘takhta yang lowong’ pasca-pengunduran diri Mgr. Hubertus Leteng dua tahun yang lalu.

Tulisan ini merupakan ekspresi penghormatan secara pribadi terhadap uskup baru tersebut. Kebetulan, Mgr. Sipri pernah menjadi salah satu dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, di mana saat itu saya menjadi salah satu mahasiswanya. Secara pribadi, saya ‘mengenal’ Mgr. Sipri ketika beliau mengajar ‘mata kuliah’ Moral Seksualitas untuk para mahasiswa semester VII, tahun 2007.

Sebetulnya, Rm. Sipri, demikian sapaan akrab dari sang uskup, tak punya cukup waktu untuk mengenal secara mendalam para mahasiswa non-frater (awam) seperti saya kala itu. Selain sebagai dosen, beliau juga merupakan salah satu pendaping atau staf formator untuk para calon imam diosisan di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret. Praktisnya, dengan posisi dan beban tugas seperti itu, tentu bukan pekerjaan mudah untuk mengenal mahasiswa bukan frater yang tinggal di komunitas Ritapiret, apalagi mahasiswa awam seperti saya.

Namun, saya termasuk ‘mahasiswa beruntung’ yang bisa ‘mencuri perhatian’ beliau di tengah kesibukannya sebagai dosen di STFK, dosen tamu di STKIP St. Paulus Ruteng (sekarang Universitas Katolik St. Paulus) dan staf formator para calon pastor di Seminari Ritapiret.

Rm. Sipri mulai ‘mengenal nama saya’, dari seorang ‘rekan mahasiswa’ yang sedang menggarap skripsi. Pembimbing skripsinya adalah Rm. Sipri sendiri. Rekan mahasiswa ini ‘mengalami kesulitan’ dalam merampungkan tulisan tersebut. Tulisan itu ‘dinilai belum matang’ oleh Rm. Sipri meski sudah dikoreksi berkali-kali. Rasa ‘frustrasi’ mulai terlihat dalam diri mahasiswa itu. Entah mengapa, si mahasiswa berdiskusi dengan saya perihal persoalan itu seraya meminta kesediaan saya untuk ‘mengoreksi’ tulisan tersebut.

Tidak mudah memang untuk ‘meluruskan maksud’ dan merapihkan logika dan metodologi penulisan dalan naskah mentah skripsi dari rekan mahasiswa itu. Tetapi, puji Tuhan, perbaikannya rampung juga. Itulah ‘teks terakhir’ yang ditunjuk ke dosen pembimbing sebelum karya ilmiah itu diuji. Rm. Sipri bertanya kira-kira ‘siapa aktor intelektual’ di balik naskah skripsi yang ‘sudah final itu’. Si rekan mahasiswa menyebut nama saya. Dalam sebuah obrolan di lorong kuliah, Rm. Sipri dan saya untuk pertama kalinya terlibat dalam sebuah perbincangan yang akrab, khususnya tentang ‘riwayat penulisan dan bantuan dari Rm. Sipri dalam keseluruhan proses penulisan skripsi dari rekan mahasiswa tadi.

Sejak saat itu, Rm. Sipri selalu ‘merekomendasikan saya’ untuk membantu beberapa mahasiswa awam yang skripsinya dibimbing oleh beliau. Saya tidak ingat dngan pasti ada berapa mahasiswa awam yang saya bantu dalam menyelesaikan proses penulisan skripsi mereka.

Tetapi, anehnya saya sendiri ‘kurang bergairah’ untuk menggodok tulisan saya sendiri. Saya mengidap semacam ‘rasa kurang percaya diri’ ketika berurusan dengan proses penulisan skripsi saya sendiri. Efeknya adalah saya ‘telat’ dua tahun meraih gelar sarjana filsafat (S. Fil).

Adalah Rm. Siprianus Hormat, Pr yang sekarang menjadi uskup Ruteng, yang ‘menyelamatkan saya’ dari situasi krisis itu. Saya tidak tahu seperti apa ‘riwayat akhir perjalanan akademik’ saya di STFK seandainya Rm. Sipri ‘apatis’ dengan kondisi negatif yang saya hadapi saat itu.

Enam bulan (satu semester) menjelang ‘deadline’ untuk dinyatakan drop out, Rm. Sipri ‘mencari tahu’ mengapa saya belum tinggalkan STFK. Ternyata alasan utamanya adalah skripsi ‘belum digarap sama sekali’. Rm. Sipri pun memperlihatkan empatinya dengan bersedia menjadi ‘pembimbing proses penggodokan skripsi’ itu.

Praktisnya, saya memanfaatkan waktu 3 (tiga bulan) untuk merampungkan skripsi itu. Saya menyerahkan naskah yang ‘sudah jadi’. Skripsi itu tidak dikoreksi ‘satu huruf pun’ oleh Rm. Sipri. Beliau hanya mendorong saya untuk segera mempersiapkan diri mempertanggungjawabkan skripsi itu di depan dewan penguji STFK Ledalero. Dengan itu, saya ‘lolos’ dari lubang jarum ancaman DO dari STFK. Skripsi itu mendapat nilai A. Saya lulus dari STFK dengan predikat cum laude (terpuji). Predikat sebagai ‘wisudawan terbaik’ tidak diraih dengan mudah. Perjalanannya cukup panjang dan berliku-liku.

Nama Rm. Sipri tentu menjadi orang paling berjasa dalam mengakhiri pengembaraan akademik saya di ‘bukit sandar mata hari’ (arti ledalero dalam bahasa setempat) itu. Itulah mengapa di momen pemilihannya sebagai Uskup Ruteng, saya mempersembahkan sebuah ‘tulisan spesial’ untuknya. Saya sadar bahwa ‘goresan ini’ tentu terlalu miskin untuk sekadar dianggap sebagai ‘satu bentuk ucapan terima kasih’ kepada sang Uskup terpilih. Kasih yang diperlihatkan Rm. Sipri tentu jauh lebih luas dan dalam untuk disimplifikasi dalam permenungan mini ini.

Namun, hanya dengan ‘kerja sederhana’ semacam inilah yang bisa saya buat untuk mencurahkan ‘rasa penghormatan saya’ terhadap kebaikan sang Uskup itu. Saya tidak terlalu ‘terkejut’ ketika nama Rm. Siprianus Hormat, Pr ditunjuk oleh Vatikan sebagai Uskup Ruteng. Dengan spontan saya berguman, “Rm. Sipri sangat pantas mendapatkan kepercayaan sebagai ‘Hamba Yahwe’ di Keuskupan Ruteng ini”. Saya sangat yakin bahwa ‘mata hati Vatikan’ tidak keliru untuk menerjemahkan keinginan Tuhan dalam memilih Rm. Sipri memangku jabatan rohani, Uskup di Keuskupan Ruteng.

Kita tentu mengucapkan profisiat dan selamat bertugas kepada yang mulia, Mgr. Siprianus Hormat, Pr sebagai ‘penggembala’ umat Allah (Gereja) di Keuskupan Ruteng. Sudah lama domba-dombamu, umat Katolik di sini, menantikan tuntunan sang gembala menuju ‘padang rumput iman’ yang hijau dan segar. Jadilah gembala yang rendah hati dan setia mengabdi pada kehendak Tuhan.

Akhirnya, sebagai seorang mantan murid yang pernah ‘merasakan pancaran cintamu’, dari lubuk hati yang paling dalam saya mengucapkan terima kasih ‘pertolonganmu’ persis di saat saya kehilangan motivasi, kreasi, dan spirit akademik di STFK Ledalero 10 tahun lalu. Kini, sang guru dipercayakan Tuhan untuk menjadi ‘Uskup’ di keuskupan Ruteng. Tentu, sebuah kepercayaan yang patut disyukuri dan ditunaikan dalam bentuk tanggung jawab pelayanan tampa pamrih. Saya sangat yakin bahwa dengan bekal keterbukaan, sikap rendah hati, kedisiplinan, solidaritas, empati, kematangan emosi dan spiritual, Mgr. Sipri, bisa merespons kepercayaan Tuhan itu secara baik.

*Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 173 kali

Baca Lainnya