Menu

Mode Gelap
 

Pendidikan · 25 Okt 2019 09:26 WIT ·

Guru sebagai Learning Manager dalam Pembelajaran


 Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Oleh: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum.*

Perkembangan teknologi memberikan kemudahan untuk mengakses informasi dari berbagai sumber. Dunia ibarat tidak bersekat dan tak terpisah oleh waktu. Kemajuan teknologi komunikasi selain berdampak positif tentu juga mempunyai dampak negatif. Kemampuan mengakses internet bukan merupakan kebutuhan orang dewasa tetapi juga merupakan kebutuhan bagi siswa. Tidak jarang dijumpai sejak balita para orang tua memberikan smart phone sebagai mainan agar anak tidak rewel.

Cara seperti itu tentu berdampak negatif bagi anak. Anak begitu asyik dengan hand phonenya. Orang tua lupa apa dampak negatif hand phone bagi anak (balita). Orang tua lupa bahwa keluarga adalah merupakan lingkungan utama bagi anak. Anak perlu diajak berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang tuanya. Para orang tua tentu tidak menginginkan anaknya rewel. Orang tua lupa rewel merupakan kodrat anak. Itu bagian dari ekspresi keinginan anak yang disampaikan kepada orang tuanya.

Secara tidak langsung, orang tua telah merampas kesempatan berinteraksi anak dengan lingkungan terdekat (keluarga). Tidak jarang dijumpai anak mengalami keterlambatan dalam berbicara karena anak asyik dengan handphonenya. Anak tidak responsif terhadap lingkungannya karena anak tidak diarahkan untuk berkomunikasi dengan lingkungan.  Fenomena ini tentu sangat meprihatinkan bagi perkembangan anak.

Efek negatif handphone juga melanda kalangan siswa. Siswa begitu bergantung pada handphone. Handphone tidak hanya digunakan untuk bermain game tetapi jugadigunakan mencari jawaban Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan oleh guru.  Tanpa bertanya pada google, PR tidak dapat diselesaikan. Yang menjadi permasalahan, siswa hanya mencari materi dengan melakukan brosing. Setelah mendapat jawaban dari google, siswa hanya melakukan salin dan rekat (copy paste). Apa isi hasil perburuannya dari google tidak dipahami siswa.

Yang lebih memprihatinkan, siswa tidak mau membaca teks yang berhubungan dengan PR. Seharusnya siswa membaca teks dalam buku teks siswa, setelah itu siswa mencari   jawaban jawabannya dalam teks tersebut. Siswa dibuat malas membaca buku teks. Siswa menginginkan jawaban instan tanpa mau memahami jawaban yang diperoleh dari google.

Fenomena ini akan terus terjadi. Peran orang tua sangat penting untuk membatasi penggunaan handphone. Ketika anak membuat PR, orang tua hendaknya menyediakan dan meluangkan waktu mendampingi anak dalam membuat PR. Cara instan yang dilakukan siswa memberikan dampak negatif bagi siswa. Siswa tidak melatih keterampilan membaca tetapi siswa hanya terampil berburu informasi tanpa memahami apa yang dibuat.  

Orang tua perlu menjelaskan kepada anak apa efek negatif penggunaan hand phone Orang tua sebagai pendamping, bisa memberikan bagaimana memanfaat hand phone dengan baik. Orang tua perlu membuat “kontrak” kepada anak berkaitan penggunaan hand phone. Apabila tidak dilakukan kesepakatan, anak dengan leluasa menggunakannya. Banyak hiburan dan  aplikasi game yang ada pada handphone. Dikhawatirkan tanpa kontrol orang tua, anak akan menghabiskan waktu hanya berkutat dengan game.

Disamping peran orang tua, peran guru juga sangat penting untuk memberi arahan bagaimana cara menggunakan handphone dengan baik sehingga handphone dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah memang sangat penting untuk mengembangkan kompetensi siswa tetapi peran guru harus berubah. Guru berperan sebagai learning manager. Guru mampu memposisikan diri sebagai manajer dalam pembelajaran.

Keterampilan guru dalam melakukan fungsi sebagai manajer berupa keterampilan guru dalam memanfaatkan smartphone sebagai sumber belajar. Guru melatih dan meningkatkan kemampuan siswa mengarah pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skill). Tentu tingkatan berpikir siswa disesuaikan dengan perkembangan psikologis dan umur siswa. Tuntutan berpikir tingkat tinggi  siswa SD berbeda dengan siswa SMP. Hal ini perlu mendapat perhatian guru sehingga proses berpikir kritis siswa terlatih sejak usia Sekolah Dasar.

Cara yang bisa dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dengan cara melatih kemampuan siswa berargumentasi. Siswa mampu menggali lebih dalam terhadap infomasi yang diperoleh dari internet. Hal ini penting dilakukan karena selama ini ranah yang dominan dikembangkan adalah ranah kognitif siswa. Seharusnya porsi yang lebih besar dikembangkan adalah ranah psikomotor dan memadukan dengan ranah afektif.  

Tugas siswa tidak hanya berhenti apabila siswa telah mengerjakan tugas itu. Perlu ada tindak lanjut terhadap PR yang dibuat siswa. Selama ini guru hanya memberikan nilai dan memberikan komentar terhadap tugas siswa. Guru dituntut untuk menerapkan kemampuan manajerialnya. Apa yang dipelajari dan apa yang dikerjakan siswa  bermanfaat bagi siswa sehingga siswa mempunyai pengalaman dalam proses pembelajaran.  

Manajerial dalam mengaktifkan siswa perlu dimiliki guru. Guru hendaknya mampu berinovasi dalam pembelajaran untuk menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan pada desrupsi  teknologi pada saat ini. Buku teks pada saat ini bukan merupakan satu-satunya sumber belajar. Siswa secara masif menggunakan kecanggihan teknologi komunikasi (smartphone).  Penggunaan teknologi komunikasi tersebut perlu diarahkan sehingga penggunaannya bermanfaat bagi siswa. Apabila tidak diarahkan, siswa akan sebagai pengguna pasif  yang hanya menerima informasi tanpa melatih kemampuan untuk menelaah informasi tersebut.

Meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa merupakan bentuk kemampuan manajerial guru dalam pembelajaran. Guru sudah mempunyai ancangan untuk meningkatkan kemampuan siswa berpikir kritis. Peningkatan kemampuan tersebut terus ditumbuhkan sehingga siswa  mau membaca hasil pencarian di google. Siswa benar-benar mengerti tentang tugas yang dikerjakan siswa.Hal itu memberikan efek positif bagi siswa. Disamping untuk meningkatkan pemahaman, siswa  juga dilatih untuk berargumentasi dengan mengutarakan pemahamannya terhadap tugas yang telah diselesaikan.

*Wakil Rektor I Universitas Dwijendra

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 209 kali

Baca Lainnya

Gerakan Sekolah Menyenangkan

25 Oktober 2021 - 00:53 WIT

SMK Stella Maris Menuju Sekolah “Ramah Anak”

16 Oktober 2021 - 12:04 WIT

Berbicara dan Menulis

8 Oktober 2021 - 10:45 WIT

Bertelurlah di ‘Lapangan Luas’

4 Oktober 2021 - 12:31 WIT

REFLEKSI PGP; Peran dan Nilai Guru Penggerak

13 September 2021 - 11:50 WIT

Asesmen Nasional: Manggarai Barat Siap!

22 Juni 2021 - 12:24 WIT

Trending di Pendidikan