Menu

Mode Gelap
 

Pariwisata · 24 Okt 2019 12:36 WIT ·

Pariwisata Dan Ekspansi Bisnis Global; Selamat Datang Era Kecemasan


 Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Arief Laga, SS., MM*

Saya bisa saja salah. Tulisan sederhana ini hanya hasil dari sebuah pembacaan factual terkait kecemasan kita orang lokal. Saya mulai dengan menegaskan bahwa ekonomi sangat dipengaruhi kebijakan-kebijakan politis sebagai bagian dari lingkungan makro. Kebijakan-kebijakan politis, baik secara langsung maupun tidak langsung bisa menciptakan strategi bertindak sekaligus menghancurkan pelaku-pelaku usaha tertentu.

Membaca perkembangan di Labuan Bajo, sepertinya kita mempunyai kecemasan yang besar. Sementara pelan-pelan, Bupati Manggarai Barat, CH Dula terbuka terhadap entitas post modern, menerima perkembangan bisnis global yang asing bagi kita. Jika kita tidak mampu bersaing, kita akan kalah. Mari belajar menyesuaikan diri.

Pintu Masuk

Kita sudah persis berdiri di depan gerbang post modern, sebuah era yang menurut sastrawan Modern T.S Eloit sebagai era penuh kecemasan karena menuntut kita menjadi pribadi-pribadi adaptatif terhadap perubahan, memakai hal-hal baru (teknologi) dengan meninggalkan cara lama/tradisional. Kita seharusnya sudah jauh mengalami era ini dan masuk ke dalam era yang lebih tinggi yaitu post (post) modern. Berhadapan dengan era ini, Kita berdiri dengan sangat ragu-ragu, bisa jadi bingung dengan apa yang akan dilakukan atau karena takut tak mampu melakukan apa-apa.

Berada di pintu masuk post (post) modern, kita mungkin tidak melupakan kehadiran Jokowi beberapa waktu lalu di Labuan Bajo. Kehadirannya membonceng harapan besar. Katanya, Menuju Manggarai Barat yang Maju, Labuan Bajo didorong menjadi wisata premium dan terintegrasi dalam semua aspek terutama pariwisata dan ekonomi.
Keinginan ini merupakan salah satu upaya perwujudan agenda prioritas kedua dan kelima yaitu pembangunan-penataan infrastruktur (https://www.liputan6.com/11/Juni/2019) dan transformasi ekonomi yang menuntut kita untuk meningkatkan daya saing di sektor manufakfur dan jasa (https://www.cnbcindonesia.com/21/10/2019).

Kedua agenda yang hebat ini adalah antesendes/syarat dari sebuah konsekuens/akibat kehadiran wisatawan di Labuan Bajo. Kita tambah ragu-ragu, agenda-agenda ini adalah antesendes-antesendes yang berat tetapi menjadi prioritas. Kita dituntut untuk menagatakn selamat datang era kecemasan, dan kita terpaksa harus masuk.
Jika kita sadar, isi pengertian pariwisata Labuan Bajo tidak berangkat dari unsur-unsur inti yang mencirikan pariwisata itu sendiri seperti bentangan alam dan laut yang eksotis, komodo dengan segala keunikannya, dan lain sebagainya. Tetapi, lebih dari pada itu, berangkat dari unsur-unsur non hakiki yaitu perubahan cara pikir, cara pandang, dan trasnformasi cara hidup yang lebih adaptatif. Dengan kata lain, kita mau tidak mau harus mampu beradaptasi dengan perubahan, menerima hal-hal baru (teknologi), yang asing sekaligus membingungkan sehingga kita bisa hidup dan tetap hidup. Sekali lagi berada di pintu masuk tidak cukup. Kita harus masuk.

Petunjuk

Sepertinya ada keterkaitan pernyataan Jokowi pasca dilantik di gedung MPR pada 20 Oktober 2019 yang lalu dengan kenyataan yang akan kita alami di masa mendatang. Dengan tegas Presiden mengatakan “kita harus Membangun sumber daya manusia yang terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mengundang talent global bekerjasama dengan kita”(https://www.cnbcindonesia.com).

Pembangunan infrastruktur akan dimulai dan beberapa perusahan bisnis global telah masuk ke Labuan Bajo. Fakta ini adalah petunjuk sekaligus menjadi symbol bahwa kita sudah memasuki era perubahan dan merasakan efek dari pernyataan Presiden itu.

Barangkali kita ingat, pada 18 Mei 2019 Starbucks Indonesia resmi membuka gerai terbaru mereka di Labuan Bajo. Ekpansi yang menawan dengan mendesain tampilan fasad, community table, dan partisi meja menggunakan kain khas Nusa Tenggara Timur dan menjadikan 8 warga lokal sebagai barista. Lalu, Bupati Ch Dula dengan bangga mengatakan “Strubucks adalah Ikon Labuan Bajo”.
Fakta lain, beberapa waktu lalu sebagaimana diberitakan floreseditorial pada Kamis, 17 Oktober 2019, Pemerintahan daerah kabupaten Manggarai Barat menyambut baik, rencana kehadiran salah satu pelopor transportasi Online, GRAB. Fakta ini kontekstual dari perspektif agenda prioritas kelima, kontekstual dengan pemikiran Bupati CH Dula, kontekstual dengan manajemen internal perusahaan tetapi tidak kontekstual dengan pola pikir kita sebagai masayarakat lokal.

Fakta ini menjadikan kita terutama para pengemudi lokal sebagai pribadi-pribadi yang cemas, yang diikuti dengan aksi penolakan kehadiran GRAB sebagaimana diterangkan floresa.co pada Rabu, 23 Oktober 2019. Kita lupa, dalam bisnis, pelaku bisnis kadang lupa tentang keadilan tetapi menantang untuk bersaing.
Usulan

Agenda prioritas Presiden adalah sebab dari perubahan yang sudah ada dan akan ada di Labuan Bajo. Pariwisata adalah pintu masuk dan kehadiran Sturbucks serta rencana kedatangan GRAB CAR adalah petunjuk. Tugas kita masyarakat lokal hanya satu belajar menyesuaiakan diri dengan segala perubahan yang ada, dengan berbagai bentuk investasi dan ekspansi bisnis perusahaan global. Penolakan adalah hal wajar sebagai cara mencari investasi dan ekspansi yang tepat dan sesuai dengan ciri khas lokal.

Perlu diingat bahwa kita hidup dalam era post (post) modernisme era di mana teknologi menjadi entitas utama dari kehidupan. Kita perlu meninggalkan cara lama, dan mau tidak mau menjalani kehidupan dengan cara yang baru, cara yang memudahkan kita untuk mempertahankan hidup. Kita mungkin pernah menolak kehadiran Sturbucks tetapi sadar atau tidak sadar kita juga tidak menolak sepenuhnya, toh mereka menciptakan lapangan kerja baru dan kita pun mungkin akan menjadi salah satu pelanggannya.

Demikian pun dengan rencana kehadiran GRAB CAR, bukan tidak mungkin infrastruktur yang memadai seperti yang dicita-citakan Presiden dan transportasi yang kekinian menjadi daya pikat wisatawan dan masyaarakat lokal. Tetapi pernyataan Bupati CH Dula bisa dipertimbangkan bahwa sebelum beroperasi pihak GRAB perlu bersosialisasi dengan masyarakat lokal terutama para pengemudi lokal yang selama ini beroperasi. Sebagai pemimpin, Bupati CH Dula perlu menyiapkan jalan keluar atas kemungkinan terjadinya resistensi masuknya transportasi online ini. Sekali lagi, kita masyarakat lokal terutama para pengemudi lokal perlu menyiapkan diri, menyiapkan strategi bersaing (prinsip bisnis) agar tetap survive atau bertahan dan sustainable atau berkelanjutan
Kita orang Manggarai, mental kita kuat. Kita tidak layak menjadi orang cemas. Tidak layak menjadi orang kalah yang “merindukan perubahan tetapi tidak mau berubah”


*Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Karya Ruteng
Korbid Bidang Pemberdayaan Policy Research ChangeOperator Manggarai

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis
Artikel ini telah dibaca 205 kali

Baca Lainnya

Menakar Brand “Super Premium” & Pariwisata Berkelanjutan di Labuan Bajo

28 Juli 2020 - 18:30 WIT

Pembangunan (Hotel) Berbasis Ekologi di Pantai Pede: Mungkinkah?

23 Juni 2020 - 12:32 WIT

Ecotourism: Berwisata dengan Beretika

14 Mei 2020 - 04:07 WIT

Trending di Pariwisata