Politik

Minggu, 20 Oktober 2019 - 05:01 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

Politik Itu Seni, Bukan Air Seni

Oleh: Syamsudin Kadir

Sebuah ungkapan bijak mengingatkan kita, “Majulah tanpa menyingkirkan orang lain. Naiklah tinggi tanpa menjatuhkan orang lain. Berbahagialah tanpa menyakiti orang lain.”

Ungkapan tersebut sangat relevan kita baca dan renungi berulang-ulang di era ini. Terutama era di mana perbedaan pendapat dan selera politik kerap dijadikan biang untuk saling menegasikan bahkan saling menjatuhkan.

Praktik dan perspektif politik yang sempit memang kerap menjadi penyakit yang mewabah banyak orang. Saling menyingkirkan dan menjatuhkan bagai obat penyakit yang menyembuhkan: diminum berkali-kali. Padahal itu adalah racun berbahaya.

Saya sendiri memahami dan sangat percaya bahwa politik itu seni, bukan air seni. Ya, politik sendiri ada seninya. Ada pola yang mesti dielaborasi secara apik sehingga aksi politik terlihat cantik dan apik. Perbedaan sebesar apapun, tak seberapa dan tak berarti apa-apa bila ada titik temu. Bila ada upaya mau bertemu, membincang hal-hal yang pantas dibincangkan. Sehingga politik tak sekadar janji-janji dan saling sikat, tapi lebih produktif: menghasilkan ide segar dan agenda strategis yang kompromistis.

Jadi, dalam konteks ini, jangan benci dan cinta politik secara berlebihan. Benci atau cinta seadanya dan seperlunya saja. Kalau belum apa-apa, tetiba langsung main kasar, justru nantinya bakal memperpendek usia politik. Bahkan ini yang sangat naif juga berbahaya: hanya akan menjadi sampah politik!

Daripada mengurus hal-hal yang tak perlu alias tidak produktif, saya menyarankan kepada siapapun yang sedang atau mau terlibat dalam politik, silakan perkuat basis ekonomi agar tak terhina di tengah jalan. Lalu, silakan perluas jaringan agar tak sepi menyendiri. Tentu perlu perbanyak kerja sosial agar kelak dapat mengais berkah dari Tuhan. Dan ini yang sangat penting: perbanyak senyuman sembari mengajak orang makan dan ngopi bareng. Bukan untuk membeli suara, tapi sekadar menambah kepercayaan orang kalau “Anda” memang punya modal dan bisa akrab dengan semua orang.

Di atas segalanya, kepada mereka yang pernah gagal dalam kompetisi politik, kita doakan semoga kembali terlibat meraih kesuksesan dengan pola lebih kreatif. Semantara untuk mereka yang sedang mencoba dan atau segera berkompetisi, kita doakan agar sukses meraih mimpi terbaik.

Saya kira, itu sikap dan pilihan terbaik di saat dinamika politik terutama menjelang Pilkada serentak 2020 semakin hangat. Selebihnya, tak perlu mencaci dan menghina mereka yang berbeda selera dan latar belakang. Lakoni saja secara sadar, santai, dan penuh damai.

Saya sendiri bukan politisi dan bukan kader atau pengurus partai politik apapun. Tapi saya tertarik sekaligus tergoda dengan dinamika politik. Terutama bila dalam dinamika politik itu hadir anak-anak muda bertalenta. Mungkin kehandalan mereka perlu diuji waktu, tapi kehendak dan niat baik mereka untuk mengambil peran di jalur politik layak diapresiasi. Mereka layak menghiasi panggung politik sekaligus sejarah baru perubahan.

Selamat berdinamika dan menempuh jalur politik bagi siapapun yang sedang dan akan berkompetisi di jalur politik, termasuk dalam konteks Pilkada serentak yang segera menjelang, tepatnya 2020 yang tak lama lagi.

Saya berpesan, tunaikan aksi politik dengan tulus, berani, berakal sehat, dan bertanggungjawab. Sebar visi-misi dan program strategis, lalu jadikan “mendengar” suara sekaligus selera publik atau masyarakat sebagai rutinitas dan hoby.

Sekadar menegaskan, sekali lagi, politik itu seni dan ada seninya, bukan air seni. Semoga ada satu atau dua hati yang tersentak, lalu terus melaju ke panggung kompetisi politik secara jantan dan terbuka. Lalu, akhirnya menikmati hasilnya sebagai pemenang pertarungan, tanpa darah dan air mata. Sebab berpolitik adalah upaya sekaligus wujud paling sederhana bahwa “Anda” masih punya rasa cinta kepada mereka yang “Anda” pimpin kelak. (*)

*Penulis buku “Selamat Datang Di Manggarai Barat”, Penikmat Literasi dan Aksi Politik

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 430 kali

Baca Lainnya