Pendidikan

Jumat, 18 Oktober 2019 - 05:01 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

Guru di NTT Dan Pendidikan 4.0

Oleh: Donatus Juito Ndasung

Saat ini sadar atau tidak kita tengah dihadapkan dengan revolusi 4.0. Era ini kini berkembang dengan sangat pesat sehingga ia mampu memproduksi pasar sendiri yang memiliki nilai jual yang tinggi. Inovasi ini mampu merusak tatanan pasar yang konvensional. Ia hadir menciptakan ruang yang mampu menggantikan teknologi yang sudah ada. Apakah kita sudah siap? Ini adalah pertanyaan reflektif untuk kita semua. Revolusi ini hadir di segala lini kehidupan manusia termasuk dunia pendidikan. Mengahadapi situasi ini tentunya tantangan yang sangat besar untuk guru ataupun dosen di pelbagai jenjang pendidikan karena guru di tuntut untuk berubah dan harus mengikuti polarisasi arus revolusi yang kian pesat.

Guru sebagai orang yang di guguh dan tiru harus mampu menyaingi perkembangan teknologi digital dalam mengahadapi pendidikan 4.0. Selain itu harus meng-upgrade komptensi untuk mengimbangi perkembangan agar tidak ketinggalan jauh oleh peserta didik. Apalagi peserta didik yang dihadapi rata-rata lahir digenerasi z atau lazim disebut sebagai generasi milenial yang bagi mereka digital tidak asing lagi. Arus informasi datang sili berganti di pelbagai platform yang tersedia di mesin pencari melalui handphone yang mereka miliki.

Guru sebagai komponen terpenting di tuntut untuk belajar lebih sungguh supaya tidak terjadi penerapan pendidikan yang di adopsi dari era industri 3.0 apalagi kembali pada era industri 2.0. Jika ini terjadi maka pendidikan kita tidak akan pernah maju, tertinggal jauh oleh propinsi lain di Indonesia apalagi oleh negara tetangga yang sudah laju dan maju mengikuti polarisasi industri yang sedang berlangsung. Kualitas guru harus mumpuni, tidak hanya sekedar menjadi guru yang taat pada arus administrasi sekolah dan kurikulum. Guru diwajibkan memiliki kompetensi yang lebih, terutama kompetensi teknologi digital yang mampu menginovasi pendidikan menjadi lebih kreatif sesuai kebutuhan peserta didik terkini. Performa seperti inilah yang boleh penulis sebut sebagai agen perubahan dalam menyambut revolusi industri 4.0 di bidang pendidikan.

Tantantangan terbesar guru di abad ini adalah menjadi pendidik 4.0 yang di paksa mengemas pendidikan secara kreatif dan inovatif. Selain itu mampu berkompentsi dengan mesin digital yang memiliki koneksi ilmu pengetahuan yang sangat luas. Jika guru tidak siap mengemas proses pembelajaran di kelas maka untuk mewujudkan sumber daya manusia akan memiliki kesulitan yang rumit. Guru diharapkan mampu memproduksi siswa yang mampu berkompetensi dengan mesin ataupun mengungguli kecerdasan mesin yang tentunya harus diimbangi penguatan literasi informasi media dan teknologi digital dan pendidikan karakter yang kuat sehingga peserta didik bijak dalam menggunakan maupun dalam menginovasi pengetahuan baru untuk kebaikan masyarakat dan lingkungan pendidikan.

Tantangan Guru di NTT

Mengahadapi pendidikan 4.0 ada dua tantangan yang paling akut oleh masyarakat di NTT. Pertama guru, penulis dengan lantang menyatakan bahwa guru di NTT belum siap menerima arus perkembangan industri 4.0. Mengapa ? karena pada kenyataan lapangan masih banyak guru yang belum memiliki kompetensi teknologi digital, bayangkan saja untuk menelepon orang melalui handphone android masih membutuhkan bantuan orang lain apalagi untuk mengoperasikan komputer yang terkoneksi dengan mesin jejaring. Ini adalah hal nyata yang penulis temukan di lingkungan pendidikan NTT. Selain gagal menangkap arus globalisasi guru di NTT masih banyak produk era industri 2.0 dan 3.0. Sehingga cara mengajar masih adopsi gaya mengajar lama. Kompetensi yang mereka miliki hanya menghamba pada administrasi, undang-undang dan kurikulum.

Kedua infrastruktur sekolah, sarana infrastruktur yang tidak memadai adalah tantangan lain yang tidak mendukung proses penerapan pendidikan 4.0 di NTT. Pendidikaan 4.0 tidak akan terjadi jika fasilitas pendukung untuk mencapai pendidikan 4.0 itu tidak ada. Koneksi internet, listrik masih terisolasi, jangankan koneksi jaringan internet, kondisi ruang belajar yang kondusif masih jauh dari kata nyaman. Ini adalah masalah kompleks yang mesti terus dibenahi. Penulis menilai pemeritah NTT masih sangat lamban dalam menangani infrastruktur sekolah yang sangat berpengaruh terhadap pengembangaan pendidikan yang modern yang ditandai dengan hadirnya tekonlogi digital.

Perlu Kesiapan

Kehadiran revolusi industri 4.0 sangat berpengaruh terhadap perubahan struktur disetiap sendi kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh teknologi digital yang masif. Oleh karena itu kita perlu menyiapkan diri dalam menghadapi situasi ini. Industri 4.0. Guru sebagai tolok ukur pendidikan dibutuhkan kompetensi yang mampu mengimbangi kehadiran teknologi digital. Kompetensi tersebut merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan untuk menjawab tantangan pendidikan di era revolusi industri 4.0. Pertama kompetensi literasi tekonologi digital, kompetensi ini harus menjadi fondasi yang dimiliki guru agar tidak ketinggalan dari peserta didik. Sebagai guru harus menguasai tekonologi digital agar memproduksi murid yang mampu bersaing dalam mengahadapi industri 4.0.

Kedua literasi Media dan informasi, kehadiran teknologi digital diikuti dengan media informasi yang masif yang kini menjadi konsumsi publik tanpa terkecuali, sekarang tak ada lagi ruang dan waktu dalam menerima informasi, kapan dan dimana saja kita boleh menerima informasi dengan sangat cepat. Media sosial menjadi ruang belajar yang dapat dimanfaatkan oleh guru, supaya belajar tidak hanya terikat pada ruang yang nyata akan tetapi bisa melalui media sosial. Ketiga keterampilan dalam mengolaborasikan proses inovasi menjadi kreatif, guru diwajibkan menjadi kreator sekaligus dinamisator aksi nyata agar peserta didik yang di diproduksi mampu bersaing di dunia kerja.

Keempat mengembangkan metode empat pilar pendidikan yang dirancang oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB) melalui United Nations Scientific and kultural (UNESCO) yaitu, 1) Learning to know (belajar untuk menguasai) pilar pertama ini mengajak peserta didik untuk mencari dan menguasai pengetahuan sebanyak-banyaknya di lingkungan, hemat penulis pilar pertama ini sangat relevan untuk menghadapi pendidikan 4.0. Guru tidak lagi menjadi sumber utama dalam menerima informasi tetapi peserta didik mencari sendiri melalui mesin digital, guru bisa saja hadir sebagai fasilitator 2) Learning to do (belajar untuk menerapkan) setelah menguasai materi siswa diajak berinteraksi dan bertindak untuk melakukan sesuatu yang telah peserta didik pelajari, selain itu peserta didik di suruh untuk mengkaji persoalan lalu memecahkan sendiri masalah tersebut, kemampuan ini erat kaitannya dengan soft skill dan hard skill karena keterampilan tersebut sangat dibutuhkan dalam menghadapi revolusi industri 4.0. 3) Leraning to be (belajar untuk menjadi) kedua proses sebelumnya adalah pembentukan karakter peserta didik untuk menjadi pribadi yang mandiri, penguasaan Soft skill dan hard skill sebetulnya proses penemuan dan aktualisasi diri peserta didik dengan lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. 4) Learning to live together (belajar untuk hidup bersama) 4) keterampilan kempat ini mengajarkan siswa untuk bertoleransi dalam hidup bersama di lungkunngan sekolah, baik toleransi dalam berpikir maupun toleransi dalam perbuatan. Siswa diajarkan untuk saling menghargai, terbuka, saling memotivasi dalam bekerjasama di lingkungan sekolah, maupun masyarakat tempat peserta didik tinggal. Kemampuan dalam memahami perbedaan bekal peserta didik untuk berbaur di lingkungan pendidikan dan lingkungan kerja nantinya.

Selain guru, pemerintah juga perlu mempersiapkan diri dalam menata pranata struktur sosial yang diremuk oleh revolusi industri 4.0 yang mau tidak mau harus di rombak. Terlebih khusus membenahi infrastruktur sekolah yang dialami oleh masyarakat NTT saat ini. Penulis sangat prihatin dengan kondisi infrastrutur sekolah di NTT. Sebagai masyarakat yang lahir dari rahim Flobamora saya sangat mendukung niat baik dari pemerintah NTT untuk membangun infrastruktur serta koneksi lainnya yang berhungan dengan fisik sekolah dalam mendukung dan mengahadapi pendidikan revolusi industri 4.0 untuk melahirkan generasi anak muda NTT yang unggul dengan sumber daya manusia serta mampu menciptakan kader emas di 2045.

Penulis adalah Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan di Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia Jakarta.

Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis

Artikel ini telah dibaca 561 kali

Baca Lainnya